Friday, October 03, 2014

Agar Ibu Bekerja Bisa Beri ASI Eksklusif, Ruang Laktasi Saja Belum Cukup

Ketiadaan ruang dan waktu yang cukup untuk mempompa air susu ibu (ASI) kerap menjadi kendala ibu bekerja untuk memberikan ASI eksklusif kepada buah hatinya. Namun menurut Ikatan Konselor Menyusui Indonesia (IKMI), keberadaan ruang laktasi di tempat kerja saja tidak cukup.

"Ada ruang laktasi di tempat kerja itu bagus sekali. Tapi dengan adanya ruang laktasi saja belum cukup. Sebab masih ada ibu yang memiliki masalah dengan pemberian ASI eksklusif pada anaknya yang mana itu bukan karena ada atau tidaknya ruang laktasi," kata Ketua Ikatan Konselor Menyusui Indonesia (IKMI), Fransiska Mardiananingsih, IBCLC, ketika dihubungi detikHealth pada Selasa (28/10/2014).

Selain ruang laktasi, sambungnya, sebaiknya diberikan juga konseling menyusui untuk para ibu bekerja yang sedang menyusui. Nah, konseling ini bisa diberikan di klinik perusahaan.

"Di klinik perusahaan bisa berkonsultasi juga soal laktasi. Jadi kalau ada ibu bekerja yang ada masalah terkait pemberian ASInya bisa konsultasi dan bisa segera diselesaikan," lanjut Siska.

Perlukah pemberian waktu cuti hingga 6 bulan pada karyawati yang melahirkan agar pemberian ASI eksklusif bisa berjalan dengan baik? "Kalau cuti diperpanjang tapi ibu tidak termotivasi memberikan ASI eksklusif jadinya percuma juga," ucap Siska.

"Kalau di perusahaan cuma ada ruang laktasi saja, tidak otomatis menyelesaikan kalau ada masalah sebelum mendapatkan bantuan teknis," imbuh Siska.

Wednesday, October 01, 2014

Tak Perlu Diperbesar, Ini Cara Alami untuk Tingkatkan Kemampuan Ereksi Mr P

Kemampuan ereksi penis memegang peranan penting terkait performa pria ketika di ranjang. Ketika kemampuan ereksi dianggap menurun, tak sedikit pria yang kelabakan untuk mencari bantuan medis.

Memang, seperti diutarakan Thomas J. Walsh, MD, profesor urologi sekaligus direktur University of Washington Men’s Health Center, kemampuan ereksi penis bisa dipengaruhi karena penyakit yang dialami pria, misalnya saja penyakit kronis seperti diabetes.

"Kemampuan ereksi bisa diperbaiki dengan mengatasi penyakit itu, Pada prinsipnya, meningkatkan kemampuan fisik secara keseluruhan, mengurangi lemak di tubuh, meningkatkan massa otot dan kesehatan kardiovaskular juga menambah kinerja seksual pria," papar Walsh.

Ia menambahkan, tinjauan penelitian yang dipublikasikan dalam Asian Journal of Andrology memberikan beberapa rekomendasi untuk para kaum adam guna meningkatkan kemampuan ereksinya. Hal yang utama adalah pria dianjurkan rutin melakukan aktivitas fisik 30 menit per hari atau 150 menit per minggu dengan intensitas latihan sedang.

"Sangat dianjurkan pula untuk mengelola berat badan. Usahakan bisa menurunkan 5-10% berat badan jika Anda termasuk dalam kategori obesitas," imbuh Walsh, dikutip dari Men's Health, Selasa (28/10/2014).

Kemudian, konsumsilah lebih banyak buah, sayur, dan biji-bijian. Ada baiknya batasi konsumsi daging merah dan makanan olahan serta makanan yang mengandung lemak jenuh tinggi. Tak lupa, minimalisir konsumsi gula dan minuman manis. Juga sebaiknya hindari merokok dan alkohol.

"Maka dari itu jangan coba-coba mencari prosedur pembesaran atau bahkan pemanjangan penis karena sebenarnya prosedur itu tidak efektif. Beberapa dokter mungkin saja bisa memberi implan pada penis tetapi efek samping yang ditimbulkan sangatlah berbahaya," jelas Walsh.

Menurutnya, materi implan yang dipasang pada penis justru bisa bermigrasi dan menghancurkan jaringan di sekitar penis. Akibatnya, sensasi atau kepekaan penis ketike menerima rangsangan seksual pun menurun.

"Yang terjadi justru prosedur bedah yang dianggap bisa meningkatkan performa pria di ranjang malah memberi dampak negatif terhadap fungsi seksual mereka secara keseluruhan. Maka dari itu janganlah bermain-main dengan prosedur pembesaran atau pemanjangan penis," tegas Walsh.

Wednesday, September 24, 2014

Ingin Payudara Tetap Indah dan Sehat? Jangan Anggap Remeh 5 Hal Ini

1. Rajin lakukan SADARI


Diagnosis dan pengobatan yang dini diketahui dapat membantu Anda mengatasi penyakit, terutama kanker. Oleh sebab itu, jangan anggap remeh pentingnya Periksa Payudara Sendiri atau SADARI.

"Kesadaran wanita untuk memeriksa payudaranya sendiri sangatlah penting. Jika setelah melakukan periksa payudara sendiri, kalau merasa ada keanehan konsultasikan lebih lanjut lagi. Karena kalau lebih awal terdeteksi maka biayanya juga akan semakin murah," kata dr Walta Gautama, Sp.B (K) Onk, Kepala Instalasi Deteksi Dini dan Onkologi Sosial Rumah Sakit Kanker Dharmais, kepada detikHealth beberapa waktu lalu.

Berikut ini adalah tahapan gerakan SADARI yang bisa Anda lakukan sendiri di rumah:

1. Berdirilah tegak di hadapan cermin. Cermati bila ada perubahan pada bentuk dan permukaan kulit payudara, atau perubahan pada puting.

2. Angkat kedua lengan ke atas, tekuk siku dan posisikan tangan di belakang kepala. Dorong siku ke depan dan cermati payudara Anda, tarik siku ke belakang lalu cermati kembali bentuk dan ukuran payudara.

3. Dengan ujung jari tangan kanan, raba dan tekan area payudara dan cermati seluruh bagian payudara kiri hingga pada bagian ketiak. Ulangi gerakan yang sama pada payudara kanan. Lakukan pola gerakan atas-bawah, gerakang melingkar, dan gerakan lurus dari tepi payudara ke puting lalu sebaliknya.

4. Cubit kedua puting dan cermati jika ada cairan yang keluar dari puting. Jika ada cairan yang keluar maka konsultasikanlah kepada dokter.

5. Pada posisi tidur, taruh bantal di bawah pundak. Angkat lengan kanan ke atas, lalu cermati payudara kanan dan lakukan tiga pola gerakan seperti sebelumnya. Ulangi langkah ini pada sisi yang berlawanan untuk mencermati payudara sebelah kiri.

Gerakan SADARI dianjurkan dilakukan selama 7-10 hari, setelah hari pertama menstruasi. Karena pada masa tersebut kepadatan payudara berkurang. Kegiatan ini juga dianjurkan dilakukan paling tidak sekali dalam 3 bulan.

2. Sempatkan pijat payudara


Payudara Anda pada dasarnya terdiri atas jaringan lemak, kelenjar getah bening, saluran air susu dan saraf. Tidak seperti jaringan otot, jaringan lemak lebih rentan terhadap sumbatan akibat penumpukan racun dan hormon. Oleh sebab itu, dianjurkan untuk memijat lembut payudara secara rutin sirkulasi darah dan drainase kelenjar getah bening tetap lancar. Tak perlu terlalu teknis, Anda bisa melakukannya sambil menerapkan SADARI.

3. Setop merokok dan minum minuman beralkohol


Rokok memiliki efek yang buruk dan dapat meningkatkan risiko sejumlah kanker, termasuk kanker payudara. Berhenti dari kebiasaan merokok menjadi hal mutlak jika Anda ingin terhindar dari risiko kanker payudara.

Begitu juga dengan minuman beralkohol. Studi menemukan bahwa wanita yang terbiasa minum minimal dua gelas minuman alkohol setiap hari 50 persen lebih mungkin mengembangkan kanker payudara daripada wanita yang tidak memiliki kebiasaan tersebut.

4. Jangan perbesar payudara sembarangan


Payudara yang besar memang menjadi impian bagi sebagian wanita. Tak heran berbagai prosedur rela dilakukan untuk mendapatkannya, tanpa memikirkan lebih lanjut apa saja risiko yang mungkin terjadi.

"Operasi plastik pemasangan implan tidak akan menjadi faktor pemicu yang menyebabkan berubahnya sifat sel. Lain halnya dengan pekerjaan-pekerjaan aspal acak adul suntik-suntik di salon atau di tukang suntik keliling yang menjajakan iming-iming suntik," ujar dr Ahmad Fawzy, SpBP, staf pengajar khusus Fakultas Kedokteran Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto, dalam perbincangan dengan detikHealth.

Dituturkan dr Ahmad, setiap injeksi bahan kimia yang tidak secara klinis medis aman dan tidak dilakukan oleh dokter spesialis bersesuaian, akan berisiko merusak sel-sel di jaringan payudara. "Imbas akhirnya bisa berpotensi menjadi kanker," imbuhnya.

5. Pilih ukuran bra yang tepat


Risiko yang paling bahaya jika memakai bra yang terlalu sempit adalah dapat menyebabkan kanker payudara. Bra yang terlalu sempit dapat membatasi aliran getah bening pada payudara, di mana hal ini bisa menjadi racun di payudara sehingga dapat meningkatkan risiko kanker.

Namun demikian, teori yang menyebutkan bahwa pemakaian bra saat tidur juga bisa menyebabkan kanker payudara masih menjadi topik perdebatan. Beberapa studi memberikan hasil yang berbeda terkait hal ini, namun salah satunya menyebutkan bahwa pemakaian bra ketat saat tidur bisa memicu kanker payudara.