Friday, September 24, 2010

Viagra Picu Gangguan Pendengaran?

Penggunaan viagra dan obat-obat impotensi sejenisnya ternyata berisiko menimbulkan efek samping terhadap kesehatan pendengaran. Laporan terbaru di Inggris menyebutkan, obat kejantanan ini berkaitan dengan ratusan kasus hilangnya pendengaran di kalangan Kaum Adam.

Alhasil, para ahli medis pun mulai memberi peringatan kalau obat impotensi ini berpotensi mengganggu organ pendengaran. Peneliti dari Rumah Sakit Charing Cross London, RS Stoke Mandeville Buckinghamshire dan Rumah Sakit Royal Marsden di London melaporkan adanya kasus gangguan pendengaran yang dikaitkan dengan konsumsi viagra. Mereka mengusulkan agar temuan ini ditindaklanjuti oleh badan pengawas resmi di beberapa benua.

Seperti yang dilaporkan dalam jurnal The Laryngoscope, sejumlah pengguna Viagra di beberapa benua yakni Eropa, Amerika, Asia Timur dan Australia melaporkan bahwa mereka kehilangan pendengaran setelah menggunakan pil tersebut.

Tercatat 47 pria yang diduga mengalami gangguan pendengaran sensorineural (sudden sensorineural hearing loss/SSHL) yang berkaitan dengan Viagra dan obat sejenisnya yakni Cialis dan Levitra. SSHL merupakan sejenis gangguan pendengaran pada bagian dalam struktur salah satu atau kedua telinga yang dapat mengakibatkan hilangnya pendengaran secara permanen.

Di Inggris, tercatat ada 8 pengguna mengalami keluhan yang sama. Sementara itu di Amerika, ada 223 kasus meski kemudian dianggap tidak valid karena datanya tidak detil.

Hingga kini, para ahli belum mengetahui secara pasti apa yang menyebabkan Viagra dapat memengaruhi pendengaran seseorang. Diduga hal itu ada kaitannya dengan reaksi kimia berantai yang memicu ketukan pada telinga bagian dalam.

Riset itu melaporkan bahwa rata-rata pria yang terkena efek samping Viagra adalah mereka yang berusia 57 tahun, meski ada dua pria lainnya yang baru berusia 37.

Salah seorang juru bicara dalam laporan riset itu menegaskan bahwa laporan mengenai reaksi yang timbul akibat obat-obat ini tidak serta-merta membuktikan bahwa hal itu diakibatkan oleh penggunaan obat.

Tuesday, August 24, 2010

Emosi Juga Perlu Didetoks

Pengalaman dalam hidup datang silih berganti. Ada yang menyenangkan, banyak pula yang menyedihkan karena berupa musibah. Bila tidak ditangani secara tepat, pengalaman buruk akan tersimpan di dalam bawah sadar dan hidup akan terus dihantui trauma.

Sedih, marah, dendam, kehilangan, dan dikhianati adalah contoh emosi-emosi negatif. Bila emosi ini terus ditekan atau disembunyikan, justru akan menimbulkan banyak masalah, salah satunya penyakit. "Jika ada yang mengganggu perasaan, itu juga akan mengganggu kondisi fisik," kata Tom Suhalim, pakar aura dan penyembuhan. Tom bahkan yakin, 95 persen penyakit disebabkan stres.

Kini ada beragam cara untuk mengatasi trauma, salah satunya dengan detoksifikasi emosi. Detoksifikasi emosi, menurut Tom, adalah metode pembuangan stres dari tubuh.

"Emosi negatif yang terus-menerus ditekan akan disimpan dalam memori bawah sadar kita dan menyumbat aliran energi di tubuh. Karena itu harus dibersihkan," katanya di sela-sela acara Healing Festival yang diadakan di Tirtayu Jakarta, beberapa waktu lalu.

Metode pembuangan "racun" mental dan emosional itu disebut dengan metode energy activator therapy (EAT). "Pembuangannya bisa melalui prinsip hipnosis, akupunktur, energi penyembuhan bumi, afirmasi, palmistry, juga eye movement desensitisation response," papar pria yang berpraktik di Pro-V Clinic Holistik Jakarta ini.

Terapi EAT pada dasarnya akan memengaruhi sistem meridian tubuh yang dikenal dalam ilmu akupunktur. Dengan terapi ini, sistem aura dan cakra tubuh juga akan diperbaiki. Aura orang yang menyimpan masalah biasanya tidak seimbang.

Metode EAT yang diberikan akan disesuaikan dengan kebutuhan klien. Lama sebentarnya sesi terapi juga bergantung pada berat ringannya masalah yang dihadapi.

Thursday, July 01, 2010

Penyebab ketidaksuburan (infertilitas)

Penyebab infertilitas dapat berasal dari pihak istri maupun suami atau kedua-duanya. Kurang lebih 50% infertilitas disebabkan dari pihak istri, 40% dari pihak suami dan 10% tidak terjelaskan (infertilitas idiopatik). Penyebab infertilitas dari pihak istri biasanya adalah : tuba Falloppii tidak normal, ovulasi tidak normal, adanya endometriosis, organ-organ reproduksi tidak normal (vagina, serviks, korpus atau endometrium ), masalah imunologi dan psikologi. Sedangkan penyebab pada pihak suami biasanya adalah jumlah dan mutu sperma yang tidak normal serta masalah psikologi.

Infertilitas dapat disebabkan oleh :

  1. Gangguan pada hubungan seksual , dapat berupa kesalahan teknik sanggama yang menyebabkan penetrasi tak sempurna ke vagina, impotensi, ejakulasi prekoks, vaginismus, kegagalan ejakulasi, dan kelainan anatomik seperti hipospadia, epispadia, penyakit Peyronie.
  2. Gangguan pada pria .
    Jumlah spermatozoa dan transportasinya yang abnormal
    • Jumlah sperma kurang <>oligozoospermia), gerak spermatozoa lemah dan lambat (astenozoospermia), atau bentuk spermatozoa abnormal (teratozoospermia ), volume sperma <>
    • Varikokel
    • Getah serviks sedikit jumlah
    • Ejakulasi membalik (retrogad )
    • Hormon abnormal
  3. Gangguan ovulasi dan hormonal lain .
    Pembuahan tidak akan terjadi bila istri tidak menghasilkan sel telur (ovum) yang dapat dibuahi. Kegagalan ovulasi dapat bersifat primer yang berasal dari ovarium seperti penyakit ovarium polikistik, atau bersifat sekunder akibat kelainan pada poros hipotalamus-hipofisis.
    • Gangguan ovulasi hipotalamik
      Kegagalan hipotalamus untuk memicu ovulasi adalah masalah gangguan ovulasi yang paling sering terjadi. Gejala-gejala klinisnya adalah amenorea atau oligomenorea, SBB abnormal, kadar LH dan FSH rendah.
    • Penyakit ovarium polikistik
      Gejalanya adalah dilihat dari gambaran USG ovarium membesar dengan banyak kista, peneraan kadar hormon FSH yang rendah, nisbah LH/FSH 2:1 atau 3:1 dan kadangkala dengan peningkatan kadar prolaktin.
    • Hiperprolaktinemia atau peningkatan kadar prolaktin serum dapat menyebabkan galaktorea dan mengganggu fungsi ovulasi.
    • Hiperandrogenemia dengan gejala klinis peningkatan kadar androgen serum, virilisasi, hirsutisme, gangguan haid.
    • Gangguan ovarium dini. Ovarium menghasilkan sel telur yang tidak matang.
    • Gangguan fase luteal. Ovulasi terjadi secara normal tetapi ovarium tidak menghasilkan progesteron yang memadai untuk implantasi
    • Pemecahan kantong telur (folikel) dini sehingga menghasilkan sel telur yang tidak matang
    • Sindrom kantong telur matang tak pecah sehingga sel telur tidak dapat dikeluarkan dari kantong telur matang.
  4. Endometriosis
    Terutama pada endometriosis derajat sedang dan berat dapat mengganggu fertilitas.
  5. Infeksi TORSH-KM (toksoplasma, rubella, sitomegalus, herpes simpleks, klamidia, mikoplasma)
  6. Kelainan pada tempat implantasi: uterus dan endometrium. Bentuk uterus abnormal, miom (tumor jinak) rahim, kerusakan serviks, kelainan kongenital, endometriosis, dan perlekatan uterus.
  7. Kelainan pada saluran telur (tuba Falloppii)
    Hipoplasia kongenital, penempelan fimbria (ujung saluran telur), hambatan tuba karena salpingitis atau peritonitis pelvis, appendisitis, sterilisasi tuba, tuba spasme.
  8. Gangguan peritoneum
    Gangguan imunitas, adanya zat anti terhadap spermatozoa.