Thursday, April 16, 2009

Seks, Tak Hanya untuk Berkreasi

Selain membuat keturunan (kreasi), seks juga dilakukan demi (rekreasi) kesenangan, kenikmatan, kepuasan dan mempererat hubungan suami istri.

Karenanya seks punya arti khusus dalam perkawinan, yakni sebagai bentuk komunikasi yang paling dalam. Suami maupun istri harus menyesuaikan dengan kepentingan seks pasangan.

Jangan sampai seks justru berakibat buruk secara fisik maupun psikis. "Banyak masalah suami-istri berawal dari masalah seksual, sehingga menimbulkan ketegangan perkawinan, bahkan perceraian," kata dr. Putu G Kayika,Staf Pengajar Departemen Obstetri dan Ginekologi Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia-Rumah Sakit Umum Pusat Cipto Mangunkusumo di Jakarta.

Sebaliknya, seks di luar perkawinan akan menimbulkan dampak buruk terhadap fisik pelakunya seperti kehamilan tidak diinginkan dan penularan penyakit akibat hubungan seksual.

Bahkan secara psikis, hubungan intim di luar pernikahan juga mengakibatkan ketidakpuasan secara emosional, perasaan cemas, takut dan rasa bersalah yang merupakan gejala psikosomatik.

Karena itu, hubungan intim seksual harus disepakati bersama oleh kedua belah pihak, menyenangkan bagi kedua pihak, dilakukan secara sehat sehingga tidak berakibat buruk bagi kedua pihak, kata Putu.

Monday, April 06, 2009

Tidak Haid = Tak Bergairah?

Konsultasi dengan Prof.Dr.dr.Wimpie Pangkahila, Sp.And

"Saya pemuda berumur 30 tahun, berencana menikah dengan pacar yang usianya 28 tahun. Kami sudah pacaran selama dua tahun. Selama pacaran kami tidak pernah melakukan hubungan seksual karena pacar tidak mau. Dia bilang, hanya mau melakukan hubungan seks setelah menikah.

Masalahnya, kalau saya mencium atau memeluk pacar, sepertinya dia biasa saja, tidak bergairah. Berbeda dengan pacar saya yang pertama, yang kelihatan bergairah. Saya khawatir dia frigid. Apa itu karena dia tidak pernah mengalami haid? Saya baru tahu beberapa minggu lalu kalau pacar tidak pernah haid sama sekali. Itu pun secara kebetulan, waktu kami berbicara tentang haid pada gadis remaja.

Mohon penjelasan, apa akibatnya kalau wanita tidak pernah haid seperti pacar saya? Apa karena tidak pernah haid, pacar jadi tidak bergairah kalau saya menciumnya? Apa itu yang namanya frigid? Mengapa pacar saya tidak pernah haid? Apakah itu normal?"

B.K., Manado

Kalau sejak awal pacar Anda tidak pernah mengalami menstruasi, tentu dia tidak normal dalam fungsi reproduksinya. Mungkin juga kemudian terjadi gangguan pada fungsi seksualnya.
Tidak terjadinya menstruasi sejak awal menunjukkan bahwa fungsi hormon seksnya tidak
normal. Namun, untuk mengetahui mengapa fungsi hormonnya tidak normal, diperlukan pemeriksaan yang lengkap.

Tidak terjadinya menstruasi dikaitkan juga dengan perkembangan kelamin dan tanda seksual sekunder lainnya. Jadi harus diperiksa bagaimana perkembangan kelamin luar dan dalamnya, rambut kelamin, dan payudara. Selain itu juga berkaitan dengan fungsi seksual, termasuk dorongan seksual dan reaksi seksualnya terhadap rangsangan seksual yang dia rasakan.

Tentu diperlukan juga pemeriksaan kadar hormon di laboratorium, terutama hormon estrogen, progesteron, testosteron. Pemeriksaan hormon lain mungkin diperlukan juga, misalnya tiroid. Reaksinya yang seperti tidak bergairah, mungkin saja berkaitan dengan gangguan hormon yang terjadi, khususnya hormon testosteron.

Saya juga ingin meluruskan, tidak ada istilah frigid sebenarnya. Jadi jangan sampai istilah yang populer tetapi salah ini mengganggu Anda, termasuk dalam hubungan pribadi dengan pacar Anda.

Berdasarkan pemeriksaan, dapat diketahui apa penyebabnya dan bagaimana pengobatannya. Soal apakah pengobatan memberikan hasil atau tidak, sangat tergantung pada apa penyebabnya.

Saya sarankan pacar Anda segera berkonsultasi lebih jauh untuk mendapat pemeriksaan yang lengkap. Tanpa pemeriksaan lengkap, dokter tidak mungkin dapat memberikan pengobatan yang benar.

Kurang Testosteron dan Sindroma Metabolik Pun Bikin Disfungsi Ereksi

Selain penyakit kardiovaskular, disfungsi ereksi (DE) atau ketidakmampuan seorang pria mencapai dan atau mempertahankan ereksi untuk sanggama yang memuaskan juga disebabkan oleh kekurangan testosteron atau testosterone deficiency syndorme (TDS) dan sindroma metabolik (metabolic syndrome).

Demikian dikatakan oleh Androlog Nugroho Setiawan di Jakarta, Kamis (18/2). "Metabolic syndrome menyangkut penyakit jantung, hipertensi, diabetes, depresi, testoterone deficiency syndrome, dan kolesterol tinggi," kata Nogroho.

Ia menjelaskan, mereka yang terkena penyakit jantung berisiko dua kali terkena DE, hipertensi 1,5-2 kali, diabetes 3-4 kali, depresi, 2-3,5 kali, TDS 1,5-2 kali, dan kolesterol tinggi sebanyak 4 kali.

Menurut Nugroho, TDS merupakan keadaan ketika produksi testosteron dari testis tidak cukup. Berkurangnya hormon ini akan mengakibatkan terganggunya metabolisme, disregulasi insulin (tingkat kadar gula darah abnormal), kolesterol tinggi serta hipertensi. Pada akhirnya akan mengarah pada penyakit diabetes melitus dan jantung.

"Testosteron sendiri terdiri dari: testosteron terikat globulin atau SHBG (60 persen), testosteron terikat albumin (38 persen), dan testosteron bebas (2 persen), yang aktif adalah albumin dan bebas," ugkap Nugroho. Menurutnya dengan bertambahnya usia, testosteron aktif semakin menurun, sedangkan SHBG semakin tinggi. Akibatnya, seseorang akan semakin berisiko terkena TDS.

Nugoroho menambahkan bahwa testosteron sendiri merupakan hormon seks pria yang paling penting. Bagi orang dewasa, hormon ini berperan penting untuk meningkatkan gairah seksual, pembentukan otot dan pengurangan massa lemak dan menaikkan vitalitas.