Thursday, September 25, 2008

Hamil Kurang Makan Bikin Bayi Obesitas

SEBUAH penelitian mengindikasikan, asupan kalori ibu sepanjang masa kehamilan ternyata berperan penting dalam mempengaruhi kecenderungan sel-sel lemak bayi yang tengah dikandungnya.

Riset terbaru Dr Helen Budge, dari Universitas Nottingham menyimpulkan kurangnya asupan kalori semasa hamil ternyata dapat mengubah perilaku sel-sel lemak bayi setelah dilahirkan.

Dengan menggunakan domba sebagai model penelitian, Budge menemukan sel-sel lemak janin domba yang mendapat asupan kalori terlalu sedikit mengalami peradangan yang cukup parah. Peradangan ini diyakini mampu merusak kemampuan tubuh memetabolisme makanan sehingga menempatkan bayi dalam kelompok risiko tinggi mengalami kegemukan atau obesitas.

Dalam risetnya, Budge juga menemukan buruknya kualitas nutrisi selama kehamilan memicu kerusakan sejenis gen lemak disebut FTO, yang dikaitkan dengan 30 persen peningkatan risiko obesitas.

"Sel-sel lemak awalnya dipekirakan sebagai jaringan yang tidak berdaya, tetapi kami sekarang menemukan bahwa mereka melepaskan hormon-hormon penting dalam metabolisme makanan. Jika kadar dari hormon ini terganggu atau jaringan lemak dirusak oleh peradangan, maka terjadilah peningkatan risiko obesitas," ungkap Dr Budge, saat berbicara di hadapan British Association for the Advancement for Science.

Dr Budge dan timnya memakai domba dalam risetnya karena hewan ini adalah model terbaik bagi obesitas pada manusia. Dengan cara merekayasa asupan kalori dan diet para domba semasa kehamilan, para peneliti dapat memantau perubahan yang terjadi dalam bayi domba setelah lahir.

Dr Budge kini tengah berupaya merintis penelitian guna mengurai secara detil jenis makanan apa yang terbaik bagi wanita hamil sekaligus memberikan modal terbaik bagi bayi di kehidupan awal mereka.

"Apa yang dimakan seorang ibu selama hamil dapat memberi dampak besar bagi kesehatan bayi di kemudian hari. Yang menarik adalah kami tak hanya membicarakan bayi yang kekurangan nutrisi semasa kandungan, tetapi juga mereka yang lahir dengan berat rata-rata normal," ujarnya.

Kendati riset Budge lebih menekankan pada sedikitnya jumlah kalori daat kandungan, banyak riset lainnya menunjukkan bahwa terlalu banyak makan selama hamil juga dapat merugikan bayi dan ibu.

"Nasehat terbaik yang dapat kami tawarkan saat ini bagi para ibu hamil adalah makanlah dengan diet yang sehat dan seimbang," ujarnya.

Wednesday, September 24, 2008

Berpikir Positif Cegah Kanker Payudara

MERASA bahagia dan selalu berpikir positif adalah salah satu kunci penting dalam menjalani kehidupan. Dengan perasaan optimistis dan bahagia, risiko terserang berbagai penyakit pun dapat ditekan seminimal mungkin.

Pentingnya perasaan positif dan bahagia tercermin dari sebuah riset belum lama ini yang dimuat BioMed Central journal BMC Cancer. Hasil riset mengindikasikan wanita yang bahagia dan berpikir positif cenderung berisiko lebih rendah mengidap penyakit kanker payudara.

Dr Ronit Peled dari Ben-Gurion University of the Negev di Beer Sheva, Israel, dalam hasil risetnya menyatakan bahwa kebahagiaan dan optimisme mampu menekan risiko kanker payudara pada wanita hingga 25 persen. Sedangkan pengalaman atau kejadian traumatis seperti perceraian atau kehilangan seseorang yang dicintai dapat memburuk risiko.

“Kami secara hati-hati dapat menyatakan bahwa mengalami satu atau lebih kejadian menyedihkan adalah sebuah faktor risiko kanker payudara pada wanita muda. Di lain pihak, perasaan akan bahagia dan optimisme dapat memberikan perlindungan. Wanita muda yang mengalami sejumlah pengalaman buruk dalam hidupnya dipertimbangkan sebagai kelompok yang berisiko kanker payudara dan oleh sebab itu harus ditangani,'' ungkap Ronit Peled.

Tetapi Peled menekankan bahwa hasil risetnya jangan diartikan bahwa rasa bahagia dan optimisme menjadi gerbang utama untuk terhindar dari penyakit kanker payudara. "Konsumsi makan yang baik dan aktif secara fisik merupakan faktor yang harus diperhitungkan," tambahnya.

Dr Peled dan timnya meneliti sejumlah faktor yang berkaitan dengan stres psikologis seperti kehilangan orangtua sebelum berusia 20 tahun dan kaitannya dengan risiko kanker.Peled melakukan penelitian ini dilatarbelakangi tingginya faktor risiko kanker payudara yang dialami wanita Israel. Lebih-lebih wanita Israel kerap kerap disebut kelompok dengan risiko tertinggi di dunia dalam hal kanker payudara.

Sebanyak 255 wanita usia 25 - 45 tahun yang terindikasi kanker paru dilibatkan bersama 367 wanita usia sama yang tidak mengalami kanker. Peled dan timnya menanyakan sejumlah hal kepada para wanita seperti pandangan akan masa depan dan pengalaman traumatis akibat penyakit, kehilangan pekerjaan, perceraian hingga kematian.

Hasil analisis menunjukkan adanya hubungan yang jelas antara cara berpikir wanita dengan risiko mengidap kanker payudara. Mereka yang berpikir optimistis mencatat risiko 25 persen lebih rendah mengidap kanker. Sementra wanita yang mengalami dua atau tiga kejadian atau pengalaman traumatis mengalami peningkatan risiko sebesar 62 persen.

"Ditemukan bahwa perasaaan bahagia dan optimisme memberikan dampak protektif ," ujar peneliti .

Tuesday, September 23, 2008

Human Papilloma Virus Mengintai Para Wanita

WANITA harus mulai waspada saat ini terutama pada organ alat kelamin. Kini, kanker serviks atau leher rahim merupakan penyebab utama pada kematian karena kanker. Di negara berkembang tingkat kematian sudah mencapai 13,5 persen.

"Menurut data Globocan 2002, terdapat lebih dari 40.000 kasus baru kanker serviks dengan sekitar 22.000 kematian karenanya pada wanita di Asia Tenggara. Ini berarti setiap harinya sekitar 20 wanita Indonesia meninggal karena kanker serviks," ungkap Dr.Dwiani Ocviyanti.Sp.OG dari RS Ciptomangunkusumo, saat seminar mengenai kanker serviks di Restoran Saung Galah, Jakarta, Senin (15/9).

Kanker serviks yang menyerang area bawah rahim, di mana organ tersebut menghubungkan rahim dan vagina, disebabkan oleh serangan Human Papilloma Virus (HPV). HPV sangat mudah menular dan dapat menginfeksi siapa saja yang sudah aktif secara seksual, baik pria atau pun wanita. Gejala yang muncul juga sulit terdeteksi, sehingga orang kadang tidak menyadari kalau kita sudah terinfeksi bahkan sudah menularkannya.

Kanker serviks tidak saja menyerang orang yang telah menikah atau orang senang melakukan hubungan seks. "Orang yang melakukan kontak seks juga berpeluang terkena penyakit ini. Bahkan ketika menggunakan alat mandi secara bergantian. Virus tersebut dapat berta han cukup lama sehingga kebersihan tidak menjamin kita terbebas dari virus ini," tambah Dwiani.

Selain kanker serviks, HPV juga dapat menyebabkan penyakit kutil kelamin (genital wart). Berbeda dengan kanker serviks, kutil kelamin dapat dideteksi secara kasat mata dan dapat menyerang laki-laki. Kutil kelamin menyerang bagian luar alat kelamin. Berbentuk seperti kutil yang kita kenal pada umumnya, namun menyebabkan gatal dan perih.

Ketika mengidap kutil kelamin, kita dapat mengobati dengan mendatangi dokter atau dengan penangan profesional. Walaupun dapat menghilangkan kutil, namun tidak menghilangkan virus HPV karena berada dalam tubuh. Sehingga, dalam beberapa waktu kemudian kutil ini akan muncul setelah perawatan.

Dwiani menambahkan, kanker serviks dan kutil kelamin dapat dicegah secara dini dengan dua cara. Vaksinasi yang dilakukan tiga kali dalam enam bulan sebagai pencegahan primer dan Pap Smear, yaitu mengambil sel dari serviks, kemudian diperiksa dengan mikroskop untuk mengetahui adanya kelainan pada serviks sebagai pencegahan sekunder.

"Pencegahan ini mengurangi tingkat risiko sampai 98 persen, apalagi dilakukan dalam rentang waktu usia 9-26 tahun atau minimal enam bulan sebelum menikah," tambah Dwiani.