Sunday, August 17, 2008

Perawatan Dini Selamatkan Penderita Hepatitis C

Satu studi baru memperlihatkan bahwa pasien penderita Hepatitis C yang menerima perawatan dini dalam beberapa bulan pertama setelah terjadinya penularan menunjukkan reaksi kekebalan terhadap virus Hepatitis C (HVC).

Demikian kesimpulan para peneliti dari University of Montreal di Kanada yang menyiarkan hasil penelitian mereka pada Jumat, di U.S. Journal of Virology.

Dalam studi itu, para peneliti mengamati perkembangan satu kelompok pengguna obat yang gemar memasukkan obat itu dalam pembuluh darah dan berisiko tinggi terinfeksi HVC sebelum dan segera setelah terjadi pajanan terhadap HVC.

Mereka menemukan bahwa perawatan dini memulihkan reaksi kekebalan secara cepat, ditandai dengan adanya produksi secara serempak anti-virus.

Oleh karena itu, perawatan dini dapat memulihkan reaksi kekebalan terhadap HVC dan membantu menghilangkan virus tersebut dengan cepat. Temuan baru mengenai mekanisme penghapusan virus ini dapat memberi sumbangan bagi penatalaksanaan perawatan penderita HVC.

HVC menular melalui darah yang terinfeksi. Meskipun seperempat pasien yang terinfeksi dapat menghilangkan infeksi tersebut secara spontan, tanpa perawatan, mayoritas pasien menghadapi perkembangan infeksi yang terus-menerus, penyebab utama penyakit kronis pada jaringan hati dan kanker hati.

Satu-satunya pengobatan yang disetujui bagi HVC ialah obat anti-virus yang dikenal sebagai "pegylated interferon alpha". Obat tersebut berhasil hanya pada separuh kasus ketika ditangani selama infeksi kronis. Angka keberhasilan rata-rata di kalangan mereka yang dirawat dini setelah penularan jauh lebih tinggi atau sebesar 90 persen.

Kecanduan Rokok, Bisa Dipicu Faktor Gen

MASIH ingatkah Anda dengan pengalaman pertama merasakan sebatang rokok? Menghisap tembakau bagi kebayakan orang akan membuat mereka mengalami hal-hal yang tidak menyenangkan seperti mual-mual, sesak nafas, batuk dan sinyal lain dari otak yang menyatakan penolakan.

Tetapi bagi sebagian orang, pengalaman itu bisa dirasakan berbeda dan justru akan membawa gelombang kenikmatan. Bila Anda termasuk orang-orang yang berada dalam kelompok ini, bisa jadi Anda memiliki jenis atau tipe gen tertentu yang memicu efek kecanduan.

Berdasarkan hasil riset para ahli yang dimuat jurnal Addiction, gen ini bukan hanya meningkatkan risiko mengalami kecanduan, tapi juga terlibat dalam perkembangan kanker paru-paru. "Jika anda memiliki varian ini, Anda akan menyukai pengalaman paling awal dengan rokok," ungkap Ovide Pomerleau, pemimpin riset dari University of Michigan Medical School seperti dikutip Xinhuanet.

Pomerleau menyatakan, temuan tersebut menunjukkan bahwa bagi sebagian orang, merokok sekalipun hanya satu batang adalah suatu gagasan buruk. Namun sesungguhnya ini juga bisa jadi seperti perangkap."Apa yang tak mereka sadari ialah jika mereka memiliki jenis susunan gen ini dan mereka berada di jalur menuju ketergantungan," katanya. Dan hal ini akan meningkatkan resiko terserang penyakit kanker paru-paru.

Penelitian yang digagas Pomerleau adalah bagian dari fakta meningkatnya pemahaman mengenai faktor genetik yang berperan terhadap kecanduan nikotin dan kanker paru-paru. Beberapa ilmuwan juga melaporkan awal pekan ini bahwa perokok yang memiliki perubahan tertentu dalam tiga gen reseptor nikotin --yang mengendalikan masuknya nikotin ke dalam sel-sel otak- lebih besar kemungkinannya terserang kanker paru-paru dibandingkan dengan perokok lain.

Pekan ini, peneliti Kanada mengatakan bahwa dengan memanipulasi reseptor zat kimia dopamin, mereka dapat mengendalikan keinginan tikus menggunakan nikotin. Di dalam lab, peneliti mampu merekayasa tikus mana yang menikmati paparan pertama terhadap nikotin dan tikus mana yang menolaknya.

Pomerleau mengatakan riset tersebut mungkin dapat menjadi pintu gerbang bagi ditemukannya terapi baru bagi pecandu nikotin dan percobaan untuk menilai risiko kecanduan nikotin. Rokok mengakibatkan sembilan dari 10 kasus kanker paru-paru, penyebab utama kematian akibat kanker pada pria di seluruh dunia dan penyebab utama kedua kematian pada perempuan.

5 Gaya Hidup Hindari Stroke

STROKE adalah salah satu penyakit yang mengintai dan bisa membunuh seseorang kapan saja. Di Indonesia misalnya, diperkirakan setiap tahunnya ada sekitar 500 ribu penduduk terkena serangan stroke dan masih merupakan pembunuh utama (first killer) di Instalasi Gawat Darurat Rumah Sakit .

Stroke adalah serangan otak yang timbulnya mendadak akibat tersumbat atau pecahnya pembuluh darah otak. Penyakit ini biasanya disebabkan oleh beragam faktor mulai dari yang sifatnya bisa dikendalikan hingga yang sifatnya tidak dapat dikendalikan.

Untuk mencegah terjadinya stroke, para ahli melalui hasil riset terbarunya merekomendasikan lima kebiasaan atau gaya hidup sehat yang harus dijalani secara disiplin. Dengan menerapkan lima gaya hidup ini, risiko Anda mengalami stroke dapat menurun drastis hingga 80 persen.

Rekomendasi yang diberikan ini adalah hasil dari suatu riset kesehatan yang dilakukan ilmuwan Harvard School of Public Health terhadap 43.685 pria dan 71.243 wanita. Rata-rata usia partisipan pada saat riset dimulai yakni 54 tahun pada pria dan 50 tahun pada wanita.

Ketika riset ini berjalan, tak seorangpun partisipan yang mengalami penyakit kardiovaskular atau pun kanker. Setiap partisipan selalu didata mengenai kebiasaan atau gaya hidup serta kondisi medisnya sejak 1986 hingga 2002. Selama penelitian bergulit, tercatat 1.559 kasus stroke terjadi pada wanita dan 994 stroke terjadi pada pria.

Dari hasil riset yang dimuat jurnal Circulation ini, para peneliti mendefinisikan 5 kebiasaan yang menekan risiko stroke sebagai berikut:

1. Tidak merokok.

2. Memelihara bobot badan ideal. Ini berarti bahwa body mass index (BMI)-nya kurang dari 25. Angka BMI yang berkisar antara 25 hingga 29,9 dipertimbangkan dalam kategori normal, sedangkan lebih dari 30 dipertimbangkan sebagai obesitas atau kegemukan.

3. Lakukan olahraga atau gerakan fisik selama minimal setengah jam selama setiap hari .

4. Disipilin dalam menjalani diet menu seimbang termasuk di antaranya menghindari lemak jahat dan rajin mengonsumsi buah dan sayuran, daging rendah lemak seperti ayam dan ikan, serat, kacang dan polong-polongan.

5. Batasi atau hentikan konsumsi alkohol.

Dari riset terungkap, para wanita yang disiplin menjalani lima gaya hidup di atas memiliki risiko 79 persen lebih rendah mengidap semua jenis stroke dan 81 persen lebih rendah risikonya mengalami risiko stroke iskemik ketimbang wanita yang tidak menjalani gaya hidup sehat.

Sementara pria yang melewati kesehariannya dengan lima panduan gaya hidup tersebut mencatat 69 persen risiko lebih rendah dari semua jenis stroke dan 80 persen risiko lebih rendah mengidap stroke iskemik, dibandingkan pria yang tak menjalani lima pola gaya hidup sehat tersebut.

"Lebih dari 50 persen kasus stroke iskemik dapat dicegah melalui kedisiplinan pada gaya hidup yang sehat. Sedangkan untuk kasus stroke secara keseluruhan, 47 kasusnya pada wanita dan 35 persen kasus pada pria dapat dicegah," ujar Stephanie E. Chiuve, ScD, peneliti dari Harvard School of Public Health.

"Penelitian ini menunjukkan bahwa dengan menjalani gaya hidup yang sehat, yang berkaitan dengan 80 persen risiko yang lebih rendah dengan kasus jantung koroner dan 90 persen risiko lebih rendah mengidap diabetes, juga dapat mencegah lebih dari 50 persen kasus stroke iskemik," tandas Chiuve.