Tuesday, August 05, 2008

Hati-Hati Kalau Gambar Anak Selalu Berukuran Kecil

Apakah anak Anda selalu menggambar sesuatu dengan ukuran kecil? Jika jawabannya ya, orang tua perlu waspada. Bisa saja, anak kurang percaya diri lho. Apalagi, jika dia tidak mengangkat pensilnya selagi menggambar. Saran tersebut disampaikan oleh CEO Global Art Indonesia, Alexander K Taslim, saat temu wartawan bersama Nestle Koko Krunch di Jakarta International Expo (JIEXPO) Kemayoran.

"Pengalaman kami selama 10 tahun membuktikan, anak yang disuruh menggambar apel dan hasil gambarnya kecil, biasanya tidak percaya diri. Apalagi kalau tangan dan pensilnya tidak diangkat saat menggambar," ujarnya, Minggu (3/8).

Menurut dia, dengan terus melatih anak menggambar, kepercayaan dirinya akan terus meningkat seiring bertambahnya kemampuan dia. Tidak peduli, lanjut Alex, apakah anak tersebut memiliki bakat menggambar atau tidak.

"Setiap orang itu lahir dengan tujuh kemampuan dasar, salah satunya menggambar. Biasanya yang paling dihormati memang dua kemampuan, yaitu logika dan linguistik (bahasa). Tapi kita berpikir itu sesuai gambar lho. Base on otak kita itu gambar. Misalkan jika ditanya, apa buah kesayangan kita? Kita pasti membayangkan dulu, bukan tulisannya dulu kan?" jelasnya.

Alex mengungkapkan menggambar akan menyinergikan otak kiri dan kanan setiap anak. Pelajaran yang didapat seorang anak dari sekolah mengembangkan otak kiri. Menggambar merupakan salah satu tugas dari otak kanan, sehingga saat anak dilatih menggambar, akan terjadi sinergitas antar kedua bagian otak.

Oleh karena itu, menggambar juga dapat meningkatkan intelegenitas seorang anak. Anak akan lebih mudah menyerap dan menghafal pelajaran dengan pengembangan kemampuan menggambar. Jadi, jangan marah lagi kalau anak Anda suka mencorat-coret tembok.

Kepadatan Tulang Bisa Deteksi Kanker

KEPADATAN atau densitas mineral tulang biasanya dikenal sebagai salah satu parameter penting dalam menentukan risiko penyakit osteoporosis. Namun berdasarkan riset terbaru, kepadatan mineral tulang - khusunya pada wanita - ternyata juga dapat digunakan untuk membantu para dokter untuk mengetahui secara lebih akurat risiko mengidap kanker payudara.

Seperti dilaporkan dalam jurnal Cancer edisi Juli, para ahli di Arizona AS menemukan suatu hubungan kuat antara densitas mineral tulang atau BMD dengan kanker payudara pada wanita telah memasuki masa menopausal. Hubungan ini bersifat independen dan terbebas dari sejumlah faktor risiko lain yang biasa dijadikan indikator dalam meramalkan kanker payudara atau juga disebut model risiko Gail. Faktor-faktor risiko itu di antaranya, sejarah kanker dalam keluarga, sejarah reproduksi, usia, ras/etnis, serta sejarah biopsi dan temuan atipikal dalam payudara.

Menurut para ahi, hasil riset ini mengindikasikan bahwa dengan cara menggabungkan BMD dengan pemeriksaan standar seperti model Gail, para dokter tentunya dapat memperbaiki kemampuannya memprediksi risiko kanker payudara pada wanita lanjut usia

Beberapa riset sebelumnya memang telah menunjukkan adanya hubungan antara tingginya BMD dengan kenaikan risiko kanker payudara. Tingginya BMD pada tulang pinggul dapat menjadi pertanda besarnya paparan terhadap hormon estrogen. Padahal kebanyakan (tapi tidak semua) sel-sel kanker payudara sangat sensitif terhadap estrogen. Jika kadar BMD pada tubuh seorang wanita merosot drastis atau terlalu rendah, tentu juga akan berimpilikasi buruk pada kesehatannya -- yakni rentan terhadap osteoporosis dan patah tulang.

Untuk memastikannya, Dr. Zhao Chen dari Universitas Arizona di Tucson melakukan penelitian dengan cara menguji faktor risiko kanker payudara 9.941 wanita lanjut usia yang mengikuti suvey Women's Health Initiative. Partisipan terus dipantau perkembangannya dalam selang waktu sekitar 8,5 tahun dan peneliti mencatat 327 wanita mengidap kanker payudara.

Pada awal penelitian, BMD tulang pinggul dan jumlah skor model Gail dari para partisipan diukur. Seperti yang diduga, wanita yang skor model Gail-nya tinggi di awal penelitian tercatat memiliki 35 persen peningkatan risiko mengidap kanker payudara dibandingkan wanita yang skor model Gail-nya rendah. Namun peneliti juga menemukan adanya peningkatan 25 persen risiko kanker payudara pada setiap kenaikan BMD tulang pinggul.

Meskipun BMD tulang pinggul dan skor model Gail tidak saling berkaitan satu sama lain, wanita yang mencatat skor tertinggi pada dua jenis pemeriksaan tersebut tercatat memiliki risiko lebih tinggi mengidap kanker payudara.

“Untuk ke depan, penelitian seharusnya menyelidiki apakah penggabungan BMD, skor Gail dan faktor risiko lainnya seperti kepadatan payudara, dapat menyempurnakan identifikasi wanita yang berisiko tinggi kanker payudara,” ungkap Chen.

Awas Infeksi Entamoeba Hystolytica!

Angka kejadian infeksi baru, infeksi lampau, dan infeksi berulang entamoeba hystolytica asimtomatik lebih tinggi pada anak usia sekolah dibandingkan dengan anak usia prasekolah. Salah satu penyebabnya karena anak-anak jajan di sekolah.

Satu penelitian menemukan bahwa 97 persen penjaja makanan di pinggir jalan ditemukan adanya satu atau lebih jenis parasit. E histolytica ditemukan pada 72 persen penjaja makanan, ascaris lumbricoides ditemukan pada 54 persen penjaja makanan, kata Rini Sekart ini saat mempertahankan disertasinya untuk memperoleh gelar doktor dalam Bidang Ilmu Kedokteran pada Universitas Indonesia di Jakarta, Selasa (29/7).

Disertasi Rini Sekartini berjudul Perbedaan Faktor Risiko Infeksi Entamoeba Histolytica Asimtomatik pada Anak Usia Prasekolah dan Usia Sekolah Sebagai Dasar Tindakan Intervensi: Pemanfaatan Sistem Skoring dan Analisis Spasial Menggunakan Sistem Informasi Geografi.

Rini dinyatakan berhak menyandang gelar doktor dengan yudisium cumlaude. Ia merupakan doktor y ang ke-89 Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia selama tahun 2000-2008 dengan IPK 3,83 dan lulus sebelum tiga tahun masa studi.

Penelitian dilakukan mulai bulan April-Oktober 2007 yang mengikutsertakan 1.215 anak di kelurahan Kampung Melayu, Jakarta Timur, terdiri dari 655 anak usia sekolah (6-12 tahun) dan 560 anak usia prasekolah (2-6 tahun).

Penyebab mortalitas

Survei Kesehatan Rumah Tangga mendapatkan penyebab mortalitas pada anak di Indonesia salah satunya adalah diare yang menempati urutan ketiga. Salah satu penyebab diare yaitu infeksi parasit E histolytica.

Transmisi penyakit melalui fekal-oral. Infeksi dapat terjadi bila tertelan kista matang dalam makanan, air atau tangan yang terkontaminasi dengan tinja. Sumber penularan utama adanya infeksi kronik atau karier pada manusia. Salah satu cara untuk memutus rantai penularan adalah dengan usaha pencegahan.

Tujuan khusus dari penelitiannya, menurut Rini, adalah membuat skoring untuk memprediksi tingkat probabilitas terjadinya infeksi E histolyc a asimtomatik pada individu dan model yang menggunakan Sistem Informasi Geografi untuk menentukan tingkat kerawanan suatu wilayah/daerah terhadap terjadinya infeksi E histolytica asimtomatik.

Penelitian Rini ini sangat berguna karena dapat mendeteksi dini adanya infeksi E histolytica asimtomatik pada anak usia prasekolah dan usia sekolah dan melakukan tindakan intervensi dini. Data ini dapat menjadi dasar kebijakan pemerintah dalam bidang kesehatan, khususnya pencegahan penyebaran infeksi ameba dan menjadi dasar dalam kebijakan kesehatan anak secara nasional, baik oleh pemerintah maupun nonpemerintah (advokasi) dalam aspek promotif, preventif dan kuratif pada infeksi E histolytica asimtomatik.