Saturday, July 26, 2008

Terapi Air Panas Selamatkan Mak Cit dari Tumor Payudara

BULIR air mata Siti Mariam tak mampu dibendung. Sesekali, ia mengusap matanya yang basah. Di selingi isak tangis, perempuan 42 tahun ini menceritakan kisah pilu hidupnya selama ini. Selama 17 tahun, Mak Cit, panggilan akrab Siti Mariam, ini bergulat dengan tumor payudara. Hampir putus asa, Mak Cit menahan derita tumor yang menggerogoti bagian tubuhnya itu.

Tapi untunglah, ikhtiar dan kesabaran Mak Cita mengobati tumor tersebut selama ini akhirnya membuahkan hasil. Kini, tumor itu telah hilang dari tubuhnya. "Alhamdulillah, semua ini atas kehendak Allah SWT. Doa dan ikhtiar saya selama ini akhirnya dikabulakan Allah," ujarnya, saat menceritakan kisah itu kepada reporter Bangka Pos, Kamis (29/5).

Selama 17 tahun, Mak Cit divonis menderita komplikasi tumor payudara, infeksi kelenjar dan lambung.
Keinginan kuat untuk bertahan hidup demi buah hatinya membuat Mak Cit melakukan berbagai upaya penyembuhan ke berbagai dokter dan rumah sakit.

"Saya pernah ke Palembang dengan bantuan bu Eko yang waktu itu masih menjadi ibu bupati. Tapi saya takut karena payudara harus diangkat, saya benarbenar takut. Akhirnya balik lagi ke Bangka," tuturnya. Berbagai usaha dilakukan namun penyakit tak kunjung sembuh membuat Mak Cit sempat putus asa bahkan sampai berniat mengakhiri hidupnya.

"Pernah juga minum baygon, habis penyakitnya tidak sembuh sembuh, tapi sukurnya masih bisa diselamatkan anakku," ujarnya. Kendati sakit Mak Cit masih melakukan aktivitas sehari-hari seperti mengurus mes, memasak untuk berbagai kegiatan yang di gelar pemda dan sesekali jualan nasi goreng di THR.

"Bertahun tahun lamanya saya keliling mencari obat, ape dikata orang saya makan bahkan hingga minum minyak tanah sekalipun pernah saya lakukan. Saya ingin sembuh benar, waktu itu anak-anak masih membutuhkan saya, apalagi suami juga terkena kanker paruparu. Semakin saya sakit semakin kuat keinginan untuk sembuh karena memikirkan anakanak," papar ibu lima orang anak ini dengan mata memerah.

Setelah melewati masa krisis kepercayaan diri karena tak kunjung sembuh dari penyakitnya, suatu malam di tahun 2004 Mak Cit seperti mendengar suara ghaib yang menyuruhnya untuk melakukan terapi dengan berendam di Pemandian air panas Pemali. "Saya seperti mendengar suara yang menyuruhku mandi di Pemali tapi jam lima pagi, peristiwa ini kuceritakan pada suamiku dan paginya kami langsung ke sana mandi,"ungkapnya.

Satu, dua bulan belum memperlihatkan hasil, Mak Cit tak putus asa. Usahanya ternyata berhasil, setelah satu tahun melakukan ritual mandi air panas di pemali satu minggu dua kali, tanda-tanda kesembuhan mulai dirasakan. "Setelah satu tahun penyakit mulai pada keluar, mulamula dari mulut keluar cairan seperti nanah, dan pasir-pasir lembut. Begitu juga dari payudaranya yang mengeluarkan cairan nanah," papar Mak Cit.

Bersamaan dengan itu keluhan sakit yang selama ini di deritanya sedikit demi sedikit mulai menghilang. Untuk memastikan kondisinya, Mak Cit melakukan cek up ulang dan hasilnya penyakit yang selama ini dideritanya dinyatakan telah hilang oleh dokter.

"Kini lihatlah badan Mak Cit sudah segar, kalau dulu bengkak di sini," ujar Mak Cit sambil memegang dadanya menunjukkan bagian sakit yang pernah dideritanya. Tak lupa wanita ini mengungkapkan ribuan terimakasihnya pada seluruh dokter yang pernah merawatnya, juga pada keluarga besar El John yang telah memberi kemudahan baginya untuk melakukan terapi.

Kini setelah apa yang dideritanya lewat, keinginan Mak Cit bisa melaksanakan ibadah umroh untuk mengungkapkan rasa sukur dan terimakasihnya pada yang kuasa. "Selama kita yakin, sakit itu pasti ada obatnya dan jangan pernah berputus asa bagaimanapun kondisi penyakit yang kita derita," papar Mak Cit penuh syukur.

Friday, July 25, 2008

Pulsa Telepon Gratis Sembuhkan Tuberkulosa

Para peneliti percaya mereka telah menemukan obat baru untuk tuberkulosis, yaitu pulsa telepon gratis.

Selama bertahun-tahun, para dokter telah berjuang membuat para penderita tuberkulosis mau meminum obat secara kontinyu selama enam bulan berturut-turut. Saat ini sebuah penelitian oleh siswa MIT (Massachusetts Institute of Technology) telah mengembangkan penggunaan ponsel.

Caranya, pasien yang mengikuti panduan dokter akan mendapatkan pulsa gratis. Pasien menguji air seni mereka menggunakan strip yang dirancang untuk menampilkan kode numerik jika mendeteksi obat tuberkulosis. Pasien tersebut kemudian dapat meng-SMS kode yang muncul untuk mendapatkan insentif, seperti pulsa gratis selama beberapa menit.

Dengan cara ini, pasien didorong untuk rajin secara kontinyu meminum obat mereka dan menguji air seni untuk membuktikan bahwa mereka meminum obat-obat tersebut. Sementara, dokter dapat dengan mudah mendapatkan laporan bahwa pasien mereka telah meminum obat-obatnya, karena dengan mengirim SMS si pasien juga sekaligus telah melaporkan bahwa mereka telah meminum obat.

Thursday, July 24, 2008

Berteriaklah dan Stres pun Lenyap!

STRES hampir tak lagi bisa dipisahkan dengan gaya kehidupan moderen yang penuh dengan tuntutan dan situasi ketegangan yang mengikutinya. Setiap lini kehidupan manusia modern selalu dilumuri berbagai tekanan yang membuat diri menjadi penat dan tidak nyaman.

John. W. Santrock, seorang pakar psikologi perkembangan mendefiniskan stres sebagai respon individu terhadap lingkungan dan kejadian, atau lebih dikenal dengan stresor, yang kita anggap mengancam, menegangkan dan membutuhkan kemampuan kita untuk mengatasinya. Mulai dari persoalan kenaikan BBM, melambungnya harga kebutuhan sehari-hari, target kerja yang tidak terpenuhi sampai dengan peliknya relasi dengan keluarga atau teman kerja adalah contohnya. Secara substansial stres merupakan kondisi eksternal yang menegangkan, tidak diharapkan oleh seseorang, dan cenderung membuat diri tidak nyaman.

Tidak ada ambang yang objektif untuk menentukan situasi sebagai stresor, namun secara subjektif stres yang dialami seseorang dapat memicu serangkaian dampak negatif. Crowley Jack, Phd, psikolog dari Western Washington University, menjelaskan bahwa secara psikologis, stres dapat memicu terjadinya kecemasan, hilangnya gairah hidup, depresi, bahkan agresivitas yang meningkat. Sedangkan secara fisik stres dapat mengakibatkan instabilitas tensi, gangguan pencernaan, penurunan imunitas, serta percepatan penuaan, bahkan kanker.

Berbagai teknik telah dikembangkan untuk mengelola stres supaya efek buruknya tidak merebak menjadi hal yang negatif. Mulai dari teknik-teknik spiritual-kultural ; meditasi, terapi aroma, olah pernafasan sampai dengan teknik psikologi moderen ;konseling, refreshing tecnique, manipulasi kognitif ataupun metode transformasi paradigma.

Kemunculan pendekatan tersebut dapat kita lihat dalam berbagai tawaran healing program, pelatihan pengembangan kepribadian ataupun berbagai program konseling yang ditawarkan banyak biro psikologi. Pun tidak bisa dinafikkan bahwa kebanyakan teknik reduksi stres yang sekarang ini berkembang tidak mampu diakses oleh semua kalangan, karena berbagai keterbatasan, juga barangkali kerena eksklusivitas lembaga penyedia jasa.

Nah, sebenarnya ada metode reduksi stres lain yang natural dan pasti aksestebel bagi semua, yaitu berteriak (shout a loud). Secara alami, setiap pribadi pasti pernah melakukannnya dengan berbagai cara saat mengalami ketegangan. Dr.Vincent Tuason, direktur bagian psikiatri St. Paul Ramseu Medical Centre Minesota, menjelaskan bahwa berteriak merupakan sebuah mekanisme pengurangan ketegangan dan ketidaknyamanan yang bersifat alami.
Saat kita tertekan dan dalam kondisi tidak tertahankan, biasanya kita menjadi lebih stabil sehabis berteriak. Teriakan adalah sebuah pelepasan ketegangan (chatarsis). Sementara Prof. Jeffrey Lohr, dari J William Fulbright College of Arts and Sciences, menjelaskan bahwa berteriak memberikan sensasi pengendoran otot yang tegang karena kondisi stres.

Beberapa bukti kultural tentang kebiasaan berteriak sebagai sebuah mekanisme penenangan diri telah dilakukan oleh berbagai bangsa sebelum abad ini. Adalah penduduk yang tinggal di kepulauan Solomon Pasifik Selatan yang menjadikan kebiasaan berteriak sebagai tradisi kultural saat mereka frustrasi dan menemui kesulitan.

Saat mereka mengalami ketegangan, memanjat pohon dan berteriak sekeras-kerasnya dipercaya dapat memberikan pencerahan batin yang menuntun pada kreativitas. Bangsa Persia pertengahan biasa melantunkan doa-doa dengan suara yang keras untuk mencapai ketenangan diri dan ekstase transenden.

Tentu saja, di lingkungan zaman moderen seperti sekarang, kita tidak bisa berteriak sesuka hati karena di sekitar kita telah padat dengan kehadiran orang lain. Berteriak secara primitif justru akan menimbulkan ketegangan baru dengan orang lain yang merasa terganggu, dan stres pun justru akan meningkat.

Berteriak saat stress perlu dilakukan dengan tepat dan pada tempat yang benar. Anand Krishna, seorang praktisi penyembuhan holistik dalam Buku Atma Bodha menjelaskan bahwa kita bisa berteriak melepas ketegangan dengan duduk beralas di tempat tempat nyaman seperti pantai, gunung, dan tempat nyaman lainnya. Di tempat-tempat itu kita bisa berteriak bebas. Barangkali ini adalah sebuah saran untuk berteriak yang sesuai dengan kondisi kita saat ini.

Ketegangan, tekanan, tuntutan di lingkungan kita yang mengganggu kenyamanan diri barangkali adalah sebuah keniscayaan modernitas, namun berbahagialah mereka yang masih bisa berteriak dengan tulus hati.