Sunday, July 06, 2008

Mampukah Musik Mengusik Gairah Seks?

Bisa saja, tapi ada berbagai aspek yang mesti diperhatikan.

Benarkah pendapat yang mengatakan musik jenis tertentu bisa membangkitkan gairah seks? "Tak bisa dipastikan. Yang perlu dilihat justru kualitas hubungan suami-istri yang bersangkutan," kata terapis musik Monty P Satiadarma, MS/AT, MCP/MFCC, Psi. Maksudnya, rinci Dekan Fakultas Psikologi Universitas Tarumanagara Jakarta ini, adalah kedekatan hubungan mereka secara psikis. "Itu yang lebih 'bicara' dibanding kehadiran musik saat mereka tengah berintim-intim."

Contoh yang paling gampang, kata Monty, saat mengobrol. "Obrolan enggak akan nyambung jika di saat yang sama mendengar suara musik keras mengentak-entak kan? Bahkan musik klasik sekalipun kalau disetel keras-keras ya jadi saling enggak dengar." Alhasil, harus dipertanyakan, tujuannya mau mendengarkan musik atau berkomunikasi?

Musik Tanpa Syair
Nah, begitu juga soal musik yang pas untuk berintim-intim. Kalau mau dijadikan musik pengiring alias background music atau musik yang menjadi latar belakang belaka, tentu saja pilihan musiknya harus yang tenang sehingga memberi suasana rileks, nyaman. "Bisa semiklasik, piano solo, jazz, juga musik romantik. Jadi, tak selalu harus musik klasik."

Sedapat mungkin, saran Monty, pilih musik instrumentalia. Alasannya, "Kita kan sedang melakukan hubungan komunikasi. Kalau di saat seperti itu kita dengar musik yang bersyair, maka ada dua jalur verbal yang ditangkap sekaligus oleh fungsi kognitif seseorang. Pertama, ia menangkap stimulus indrawi melalui sensoris pendengaran (auditorial sensory) yang kemudian diteruskannya ke dalam sistem susunan saraf pusat. Nah, masukan inilah yang diolah kembali, antara lain menggunakan sistem yang dikenal sebagai funelling atau corong. Kalau butir pertama belum masuk, maka butiran pasir berikut belum bisa masuk ke corong karena harus antre. Begitu seterusnya."

Nah, bisa dibayangkan, butiran pertama adalah musik dan butiran kedua syair, sementara butiran berikutnya adalah isi pembicaraannya dengan pasangan. "Ribet kan karena akan beradu antara syair, lagu, dan omongannya." Di satu pihak ia mesti mendengar lawan bicaranya, sementara di lain pihak ia perlu menyimak syair lagunya sekaligus menikmati alunan musik itu sendiri.

Alhasil, komunikasi tak bisa berlangsung dengan baik. Selain itu, bila musiknya terlalu keras,gelombang suara pembicara pun harus bisa mengimbangi kerasnya musik. Jadilah akhirnya saling "teriak". Saat berkomunikasi, lazimnya diharapkan dua pihak yang terlibat menaruh konsentrasi penuh selama komunikasi tersebut berlangsung. Pertimbangannya, yang satu mengirim berita dan yang satu menangkap isi berita. Untuk itu tentunya diperlukan konsentrasi."Jika musiknya bersyair atau volumenya kelewat keras,pesan komunikasi jadi tak sampai karena konsentrasi yang terganggu."

Tergantung Selera
Memang, lanjut Monty, musik bisa bersifat terapeutik. Artinya, bisa dipakai sebagai sarana terapi. Tapi tak semata-mata berarti bisa mempersatukan pasangan yang tengah bermasalah. Konkretnya, bagaimana mungkin hanya dengan mendengarkan musik yang sama orang lantas bisa jadi akrab satu sama lain? Padahal, "Keakraban, terutama kedekatan psikis, tidak ditentukan oleh musik semata, melainkan oleh banyak hal. Terutama kondisi psikologi yang bersangkutan dalam memberi makna terhadap kehadiran suami/istrinya." Lain halnya jika aktivitas mendengarkan musik menjadi semacam kegiatan tambahan di luar aktivitas berkomunikasi tadi.

Contohnya, pasangan yang dinner sambil mengobrol di ruang sepi dibanding bila aktivitas serupa dilakukan di ruang yang berlatar belakang musik berisik alias hingar bingar. Dalam perbandingan semacam itu, bisa saja musik klasik membantu mengakrabkan hubungan. Pasalnya, dampak yang dimunculkan oleh musik tak lain adalah nuansa.

Sedangkan untuk hal yang paling intim, yakni hubungan suami-istri, hadirnya musik pengiring amat terpulang pada selera masing-masing pasangan. "Soalnya, ada yang suka dan ada pula yang tidak." Ada yang memang senang menggunakan nuansa musik untuk menghadirkan suasana lebih romantis. "Sebaliknya, ada juga yang menganggapnya justru mengganggu kebersamaan mereka."

Di sisi lain,prinsip dasar antara mendengarkan musik dan hubungan intim sedikit banyak memiliki kemiripan. Di antaranya menuntut konsentrasi tinggi dan membutuhkan energi yang tidak sedikit. Dengan kata lain, bukan sesuatu yang sifatnya santai-santai dan bisa dilakukan sambil lewat begitu saja.

Hadirkan Suasana
Kehadiran musik, sambung Monty, bukan tidak mungkin malah dianggap mengganggu. Alih-alih mau menambah indah suasana, eh, justru perhatian teralih ke musik tadi."Kecuali kalau masing-masing pihak sepakat dan sudah terbiasa dengan 'ritual' semacam itu."

Selain itu, terang Monty pula, musik harus mampu bersifat amusement alias bisa dinikmati. Jadi, "Sepanjang musik yang diperdengarkan tadi bisa dinikmati oleh pasangan suami-istri yang tengah berintim-intim, membuat keduanya dalam suasana relaks, mengapa tidak?"

Namun, tegasnya, perlu disadari sekali lagi, kehadiran musik hanya sebatas memberi pengaruh pada nuansa suasana. Dalam arti, suasana yang diharapkan suami-istri mudah-mudahan bisa terwujud dengan kehadiran musik. Meski tentu saja tidak selalu demikian.

Soalnya, bukan tidak mungkin, kan, di saat yang bersamaan seorang istri tengah dingin alias tak berselera, sementara suaminya justru amat menggebu. Suami yang bijak tentu tidak akan memaksa. Sebagai gantinya, mengapa tidak mencoba cara lain semisal menyetel musik kesukaan istrinya? Kalau lewat musik tadi si istri jadi terkenang pada kenangan tertentu yang istimewa, bukan tidak mungkin akan timbul suasana relaks ataupun romantis. Nah, dalam suasana seperti itu tak berlebihan, kok, kalau gairah seksual diharapkan bisa muncul.

Kendati, tegas Monty, lagi-lagi kedekatan psikologis jauh lebih menentukan. "Kalau suami-istri lagi marahan, biarpun disetel lagu seromantis apa pun, saya sangsi gairah seksual bisa muncul." Dengan kata lain, jikatengah jengkel, jangan harap bisa terjalin hubungan intim hanya dengan mengandalkan musik.

Karena itu, tambahnya, "Kalaupun ada yang bilang pengaruh musik terhadap seks sedemikian hebat, mungkin penelitiannya terlalu bias. Artinya, sudah ada harapan yang berlebihan mengenai hal tersebut." Jadi, musik atau lagu tertentu hanya ikut membentuk/menghadirkan suasana romantis. Hanya saja apakah suasana romantis itu nantinya akan menyatukan individu suami-istri dalam hubungan intim, tak ada yang bisa memastikan.

Bergetarnya Elemen Tubuh
Musik, tegas Monty, arahnya justru lebih ke spiritual ketimbang libidinal/dorongan hewani meski kelak ada hubungan satu sama lain. "Karena awalnya kan musik muncul sebagai pemujaan terhadap alam semesta dan penciptanya."

Pemujaan kepada dewa dan leluhur lewat nyanyian dan tarian untuk minta hujan, contohnya. Nah, melalui gerakan-gerakan saat menari itulah individu yang bersangkutan merasakan adanya dampak libidinal. "Pada dasarnya, musik menghasilkan vibrasi suara. Nah, itulahyang menggetarkan banyak elemen di dalam tubuh yang kemudian membangkitkan gairah tertentu. Di antaranya, ya, gairah erotis itu tadi. Hanya saja sifatnya sangat individual."

Libido Sudah Tinggi
Akar musik dangdut yang sama sekali belum dimordernisasi, jelas Monty, boleh jadi memang dimaksudkan untuk menggugah gairah seksual. Hanya saja, campuran pengaruh musik India dan Melayu ini ditujukan buat mereka yang tengah menikmati minuman beralkohol di warung-warung pinggir jalan dalam keremangan malam.

"Boleh jadi libido mereka yang nongkrong di situ memang sudah tinggi, lalu semakin dipacu lagi dengan suasana remang-remang dan minuman beralkohol tinggi. Jadi, bukan semata-mata karena musiknya."

Jika Beda Selera
Menurut Monty, kalau selera musik antara istri dan suami bertolak belakang, mau tidak mau harus disesuaikan dulu satu sama lainnya. "Tidak bisa saling memaksakan diri untuk saling melengkapi." Contohnya, istri suka lagu klasik sementara suami justru makin bergairah jika mendengar lagu dangdut."Jangankan terbangkitkan gairah, bisa-bisa istri malah sebal dan akhirnya mereka malah ribut karena dongkol. Akhirnya, gairah jadi padam." Lalu bagaimana menjembataninya? "Ya, enggak usah pakai musik saja, deh! Sederhana, kan?"

Lagu Mendesah VS Gairah
Sampai saat ini, aku Monty, belum bisa dipastikan apakah ada penelitian khusus tentang musik tertentu yang membuat gairah seseorang meningkat. Misalnya, lagu yang disertai suara mendesah. Atau lagu yang direkam dengan metode subliminal hingga ada gelombang suara, namun tidak tertangkap oleh penginderaan biasa. Apakah gelombang suara yang desibelnya di bawah 20 hingga hanya bisa ditangkap oleh alam ketidaksadaran yang membuat individu bersangkutan merasakan adanya perubahan tanpa mengetahui apa yang sesungguhnya terjadi?

Kalau hal semacam itu yang terjadi, terang Monty, "Tidak bisa diklasifikasikan sebagai musik. Melainkan stimulus getaran (fibrational stimulation) yang kemudian memicu gairah seksual."

Kendalikan Stres dan Hipertensi, Raih Produktifitas

Berdasar Survei Kesehatan Rumah Tangga (SKRT) tahun 2001, data Pola Penyebab Kematian Umum di Indonesia, penyakit jantung dan pembuluh darah dianggap sebagai penyakit pembunuh nomor 1 di Indonesia. Dan gangguan jantung dan pembuluh darah seringkali bermula dari hipertensi, atau tekanan darah tinggi. Selain itu, hipertensi yang merupakan suatu kelainan vaskuler awal, dapat menyebabkan gangguan ginjal, merusak kerja mata, dan menimbulkan kelainan atau gangguan kerja otak sehingga dapat menghambat pemanfaatan kemampuan intelegensia secara maksimal.

Diperkirakan 250 orang menghadiri Seminar Pengendalian Hipertensi Berhubungan dengan Stres dan Intelegensi untuk Hidup Berkualitas yang dilaksanakan Rabu, 2 Juli 2008, di Gedung Serbaguna Depkes Blok C, Jl. HR Rasuna Said Jakarta Selatan. Partisipan terdiri dari para pegawai di lingkungan Departemen Kesehatan, Pengurus Dharma Wanita Departemen Kesehatan dan beberapa undangan lain termasuk keluarga para pegawai, terutama yang telah berusia di atas 40 tahun, yang datang untuk mendengarkan penjelasan dari para pembicara yaitu ahli jantung dari RS Mitra Kelapa Gading, ahli kesehatan jiwa dari RSJ Soeharto Heerdjan Grogol, dan Ketua Perhimpunan Hipertensi Indonesia.

Seminar sehari ini dilaksanakan atas kerjasama antara Biro Kepegawaian, Biro Umum, Direktorat Kesehatan Jiwa, Direktorat Penyakit Tidak Menular, Pusat Intelegensia, Pusat Promosi Kesehatan dan Pusat Komunikasi Publik. Kegiatan ini merupakan bagian dari rangkaian peringatan Hari Hipertensi Sedunia, 17 Mei 2008, yang puncaknya akan diselenggarakan pada minggu pertama bulan Agustus 2008 di Istana negara. Berbagai pihak terlibat dalam rangkaian acara ini, pemerintah, swasta, pemuda, lembaga swadaya masyarakat dan berbagai kelompok masyarakat. Menurut Sekretaris Jenderal Depkes, dr. Sjafii Ahmad, MPH, dalam sambutan pembukaan seminar, hipertensi sebetulnya merupakan penyakit yang dapat dicegah jika faktor risiko dapat dikendalikan. Pengendalian hipertensi harus didasari partisipasi dan pemberdayaan masyarakat, dengan mendorong kemandirian masyarakat untuk hidup sehat. Sesjen mengharapkan gahwa seminar dapat menambah wawasan peserta, khususnya pegawai Depkes dan keluargannya. Deteksi dini bagi mereka yang belum teridentifikasi dan kepatuhan minum obat bagi yang sudah terkena hipertensi adalah kunci pengendalian hipertensi. Agar angggota masyarakat dapat menjaga diri dari hipertensi, karena sebetulnya hipertensi dapat dicegah dengan mengendalikan faktor risiko, yang salah satunya adalah keadaan tertekan yang sering disebut stres. Stres dapat memicu peningkatan hormon adrenalin dan kortisol, juga sering membuat orang memiliki kebiasaan makan yang kurang baik, mengkonsumsi rokok atau merokok, dan meninggalkan olah raga. Keadaan-keadaan tersebut jika tidak ditanggulangi, berpotensi menjadi faktor risiko hipertensi. Pengendalian stres berdampak besar pada penurunan tekanan darah. Jadi, mengendalikan tekanan psikologis berarti mengendalikan tekanan darah. Selain itu, hipertensi juga dapat dicegah dengan program hidup sehat tanpa rokok, olah raga cukup, konsumsi makanan berserat, pengurangan asupan garam. Dari pemeriksaan kesehatan terhadap 500 pegawai Departemen Kesehatan, terdeteksi bahwa 99 orang menderita hipertensi. Prevalensi hipertensi di Indonesia diperkirakan mencapai 17-21% dari populasi, dan kebanyakan tidak terdeteksi karena manusia dapat saja mengalami gangguan hipertensi tanpa merasakan gangguan atau gejalanya. Menurut WHO, dari 50% penderita hipertensi yang terdeteksi, hanya 25% mendapat pengobatan, dan hanya 12,5% dapat diobati dengan baik.

Tip Percepat Bakar Kalori dan Lemak

SELAIN banyak bergerak dan rajin berolah raga sebenarnya ada banyak cara yang dapat dilakukan untuk membantu mempercepat pembakaran kalori dan mengikis lemak yang menumpuk dalam tubuh Anda.

Kini memang banyak produk ditawarkan yang mengklaim dapat membantu membakar kalori dalam tubuh. Tetapi pada kenyataannya, menurut para ahli, hanya ada satu cara yang paling efektif, yaitu dengan banyak beraktivitas atau bergerak.

"Pada dasarnya, kita tidak mengetahui cara lain untuk membakar lebih banyak kalori atau meningkatkan metabolisme tubuh selain dengan lebih banyak bergerak," ungkap Barry M Popkin, PhD, Direktur Program Interdisipliner Obesitas di Universitas North Carolina.

Namun begitu, bukan berarti tak ada cara lain untuk mempercepat pembakaran kalori. Nah, berikut adalah delapan tip yang dapat Anda tempuh untuk mempercepat pembakaran kalori dan mengikis lemak dalam tubuh:

1. Olahraga
Cara yang satu ini adalah cara paling kuno, tapi populer murah dan efektif. "Semakin sering menghabiskan waktu berolah raga dan semakin semangat melakukannya, kian banyak kalori yang akan dibakar," kata Christopher Wharton, PhD, peneliti dan pelatih profesional dari Rudd Center for Food Policy and Obesity di Universitas Yale.

Selain itu, menurut pakar obesitas, George Bray MD dari Pennington Biomedical Research Center di Baton Rouge, aktivitas jalan cepat setiap hari adalah jenis latihan yang paling disarankan bagi mereka yang ingin membakar banyak kalori.

Ketika berolahraga, tubuh Anda akan membakar kalori untuk menyediakan tenaga. Namun begitu, olahraga sangat menguntungkan karena meski latihan Anda sudah selesai tubuh masih akan terus membakar banyak kalori. Walau sulit menentukan berapa lama efek ini akan berlangsung (bervariasi tergantung komposisi tubuh dan tingkat latihan), Wharton memperkirakan bahwa rata-rata metabolisme tubuh akan meningkat sedikitnya dalam 24 jam.

Jika Anda ingin memperpanjang efek pembakaran kalori ini, Wharton menyarankan untuk berolahraga dengan durasi atau waktu yang cukup lama. "Sejumlah riset menunjukkan bahwa dengan menambah durasi olahraga peningkatan rata-rata metabolisme keseluruhan menjadi panjang," ujarnya.

2. Latihan kekuatan untuk membentuk otot
Ketika berolahraga, Anda menggerakkan otot. Ini akan membantu membangun massa otot, dan jaringan otot akan membakar lebih banyak kalori ketimbang lemak tubuh, bahkan saat Anda sedang istirahat sekali pun. Menurut Wharton, 10 pon otot tubuh dapat membakar 50 kalori dalam sehari saat tubuh diam, dan 10 pon lemak akan membakar 20 kalori.

"Cara paling efektif meningkatkan metabolisme tubuh dan membakar banyak kalori adalah latihan aerobik dan latihan kekuatan (strength training), keduanya sangat penting," ungkap Megan A McCrory, PhD, peneliti dari School of Nutrition and Exercise Science di Universitas Bastyr.

Strength training adalah penggunaan resistensi kontraksi otot untuk membangun kekuatan, daya tahan anaerobik, serta ukuran otot rangka. Latihan kekuatan menjadi penting artinya ketika kita beranjak tua di mana metabolisme cenderung mulai menurun. Salah satu cara untuk memelihara metabolisme adalah memasukkan latihan kekuatan pada program olahraga Anda sedikitnya dua kali seminggu.

3. Minum Teh Hijau dan Teh Hitam
Teh adalah minuman menyehatkan mengandung kafein, yakni stimulan yang dapat meningkatkan jumlah kalori yang dibakar. Salah satu yang dapat dirasakan dalam sesaat adalah Anda seperti mendapat banyak energi, yang berarti Anda akan lebih banyak bergerak. Kafein juga dapat menimbulkan perubahan metabolisme tubuh yang membuat lebih banyak kalori terbakar.

Beberapa riset mengindikasikan, teh hijau atau hitam memilih manfaat yang lebih besar ketimbang kafein yang dikandungnya. Sebuah penelitian mencatat adanya penurunan asupan makanan pada tikus yang diberi polifenol yang ditemukan dalam teh hijau.

Riset lain pada manusia oleh peneliti Universitas Lausanne di Swiss menunjukkan bahwa teh hijau memiliki senyawa penghasil panas dan pembakar lemak melebihi kafein. Ketika 31 pria dan wanita sehat diberi minuman mengandung catechin, kafein dan kalsium selama tiga hari, penggunaan energi mereka selama 24 jam meningkat 4,6 persen.

Dalam American Journal of Clinical Nutrition edisi September 2006, peneliti mengungkapkan bahwa minum teh saat makan juga memberikan pengaruh. Ekstrak teh dapat mengganggu absorpsi karbohidrat dalam tubuh ketika keduanya dikonsumsi bersamaan.

4. Makan sedikit-sedikit, tapi sering
Setiap kali Anda makan atau sekedar mengudap, sistem pencernaan akan bekerja dan mencerna makanan kemudian menyerap nutrisi. Untuk menghidupkan mesin pencernaan dan melakukan proses ini tentu juga dibutuhkan kalori . Oleh sebab itu, masuk akal bila semakin sedikit makan Anda namun sering, makin banyak kalori yang dibakar.

Untuk mekanisme tersebut, ada peneliti yang berpendapat bahwa buktinya belum terlalu kuat. Meski begitu, banyak ahli yang percaya bahwa makan sedikit-sedikit tapi sering adalah cara yang menyehatkan dibanding makan besar satu atau dua kali dalam sehari.

5. Jangan tunda sarapan
Banyak bukti penelitian mendukung adanya hubungan sarapan dengan peningkatan berat badan. Orang yang menunda sarapan cenderung lebih banyak mengonsumsi kalori pada siang, sore, atau malam harinya. Riset juga mengindikasikan, menunda sarapan berkaitan dengan tingginya indeks masa tubuh pada kalangan remaja.

6.Mengonsumsi produk susu rendah lemak.
Kalsium yang terkandung dalam susu rendah lemak diklaim membantu membakar lebih banyak kalori, namun mekanisme ini akan berfungsi dalam dua cara berbeda. Yang pertama, riset di Denmark menunjukkan tubuh akan menyerap lebih sedikit kalori dan lemak dari makanan ketika mengonsumi kalsium dari produk susu rendah lemak. Kedua, riset lain menyatakan, sering mengonsumsi makanan berkalsium tinggi- termasuk produk susu rendah lemak - dapat menurunkan lemak perut terutama pada remaja pria kulit putih.

7. Minum delapan gelas sehari
Minum hampir delapan gelas air (2 liter) dalam sehari dapat membantu membakar ekstra 100 kalori, berdasar penelitian kecil Jerman. Kedengarannya tidak terlalu besar, namun bila dihitung dalam seminggu bisa mencapai 700 kali atau hingga 2.800 sebulan. Namun begitu peneliti juga mengingatkan jangan pernah minum air secara berlebihan karena bisa mengancam kesehatan.

8. Resah
Berperilaku seperti ini juga membutuhkan energi, dan menurut sebagian ahli resah atau gundah dapat dikategorikan sebagai tindakan. "Sejumlah penelitian lama menyarankan bahwa kalori dapat dibakar setiap hari dengan berperilaku resah," ungkap Jamie Pope, MS, RD, LDN, pakar nutrisi dari Vanderbilt University School of Nursing.

Sebuah riset juga menemukan bahwa tindakan informal seperti resah bisa menjadi faktor yang lebih penting ketimbang latihan formal dalam menentukan siapa yang kurus dan siapa yang gemuk.

Diet dan olahraga adalah topik menarik yang perlu didiskusikan dengan dokter Anda. Sebelum menjalani olahraga atau mengonsumi suplemen pada diet Anda, akan sangat bijak bila bertanya lebih dulu kepada dokter. Jika Anda mengidap penyakit tertentu atau sedang menjalani pengobatan tertentu, mungkin saja ada aktivitas atau suplemen yang harus dihindari.