Wednesday, May 07, 2008

Kelola Asma, Hidup pun Nyaman

ASMA yang tak terkontrol dengan baik jelas mengganggu, tak hanya bagi penyandangnya, melainkan juga keluarganya. Apalagi bila penderitanya anak-anak. Padahal, pengetahuan tentang cara menghindari serangan asma serta perangkat pengelolaan penyakit itu telah tersedia di dunia. Oleh karena itu, setiap pasien asma diharapkan dapat mengelola asmanya dengan baik sehingga tidak mengganggu aktivitas kehidupannya sehari-hari.

Menurut Badan Kesehatan Dunia, sebanyak 100-150 juta penduduk dunia adalah penyandang asma, dan jumlah itu terus bertambah sebanyak 180.000 orang setiap tahun. Sejumlah informasi seperti di Kanada pada tahun 2003, asma merupakan penyebab hilangnya 24,5 juta hari kerja, sedangkan di Asia, Eropa dan Amerika Serikat, asma menyebabkan hilangnya hari sekolah pada anak-anak sebanyak 16 persen.

Di Indonesia, prevalensi asma belum diketahui secara pasti, namun diperkirakan 2-5 persen penduduk Indonesia menderita asma. Kurangnya komunikasi, informasi dan edukasi tentang asma menyebabkan pasien dan orangtua pasien belum memahami asma perlu kontrol teratur ke dokter, kata dokter spesialis paru Achmad Hudoyo dari Yayasan Asma Indonesia, dalam peringatan Hari Asma Sedunia 2008, Selasa (6/5), di Gedung Departemen Kesehatan, Kuningan, Jakarta.

Penyakit asma sebenarnya mudah dikenali dan gampang diobati. Bahkan, setiap orang yang asma dapat mengobati dirinya sendiri ketika sedang terkena serangan. "Banyak obat asma yang dijual bebas, penderita bisa segera minum obat asma begitu serangan asma datang dengan gejala sesak napas yang disertai bunyi mengi, sehingga serangan asmanya langsung hilang, " ujar Hudoyo. Napas jadi lega kembali, sesak hilang, batuk hilang seolah-olah sehat kembali.

Namun, selang beberapa waktu, serangan dapat timbul lagi dan terus berulang-ulang yang membuat pasien atau keluarga akan jadi frustasi. Untuk menghindari kekambuhan asma, maka pasien dan keluarganya perlu memahami aspek penghindaran terhadap pencetus merupakan unsur utama dalam tata laksana asma, cara penggunaan tepat dan benar obat-obat asma, baik obat yang diminum maupun obat hirupan, kata Hudoyo menjelaskan.

Masalah lain yang dihadapi dalam pengendalian asma adalah hal-hal yang berkaitan dengan kondisi kesehatan lingkungan sekitar penderita asma yaitu pasien asma yang terpapar polusi seperti asap rokok, polusi lingkungan, polusi dalam rumah dan makanan produk massal yang mengandung zat pewarna, pengawet dan MSG. "Keadaan asma terkontrol dapat tercapai jika tersedia obat-obatan asma dan terciptanya kondisi lingkungan yang mendukung," katanya.

Soal Gizi Buruk, Perlu Optimalkan Penyuluh Kesehatan

PERAN penyuluh kesehatan harus dioptimalkan lagi dalam memberi pemahaman pada para ibu di Indonesia yang sebagian besar harus diakui masih berpendidikan rendah. Padahal, tingkat pendidikan ibu sangat mempengaruhi kualitas asuhan gizi anak termasuk pemberian Air Susu Ibu dan pemberian makanan bayi serta anak.

Hal itu diungkapkan Direktur Jenderal Bina Kesehatan Masyarakat (Binkesmas) Departemen Kesehatan dr Budihardja dalam Seminar Nasional bertema Problema Gizi Buruk, Kebijakan Pemerintah dalam Ketahanan Pangan dan Kesehatan Masyarakat di Universitas Katolik Soegijapranata, Kota Semarang, Jawa Tengah, Sabtu (3/5).

Budihardja mengatakan, hampir 80 persen penderita gizi buruk berada di pedesaan terutama wilayah terepencil yang belum banyak terjangkau pendidikan. Selama pembangunan pemerintah belum menyentuh hingga ke areal pelosok, maka kasus gizi buruk dikhawatirkan akan tetap tinggi.

Guru Besar Fakultas Pertanian Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta Prof Dr Totok Mardikanto mengatakan, harus ada revitalisasi penyuluhan untuk menyelamatkan ketahanan pangan di Indonesia. Masing-masing penyuluh juga jangan tertutup untuk mempelajari bidang lain. Penyuluh kesehatan juga harus mempelajari masalah pangan. Demikian juga sebaliknya, jelas Totok.

Menurut Staf Pengajar Program Magister Hukum Kesehatan Universit as Katolik Soegijapranata, Endang Wahyati menyebutkan, tingginya angka gizi buruk selama ini diakibatkan kebijakan ketahanan pangan pemerintah yang tidak konsisten. Menurut dia, sudah saatnya pemerintah merancang Undang-Undang Pangan yang khusus mengatur masalah penyediaan pangan untuk masyarakat.

Pemerintah harus bertanggungjawab sepenuhnya pada penyediaan pangan. Jika tidak dibahas secara khusus, kebijakan pangan hanya sektoral dan akhirnya tidak akan menyelesaikan masalah krisis pangan yang berdampak pada kasus gizi buruk, tutur Endang.

Budihardja mengakui, selama ini ada beberapa kendala dalam penanggulan kasus gizi buruk di Indonesia. Kendala pertama yakni perbedaan persepsi mengenai gizi buruk yang menyebabkan perbedaan respons terhadap setiap kasus. Selain itu, koordinasi lintas sektor antar Departemen Kesehatan, Departemen Pendidikan dan instansi pemerintah lainnya masih lemah.

"Hingga kini, memang belum ada konsistensi dan keberlanjutan dalam tiap penanganan kasus gizi buruk," ujarnya mengakui.

Gemuk, Hamil Lebih Berisiko

WANITA yang mengalami kegemukan (obesitas) pada trimester pertama kehamilan maupun yang berat badannya melonjak naik, kemungkinan besar akan melewati masa kehamilan lebih lama serta berisiko mengalami komplikasi, demikian hasil penelitian terbaru.

Dengan menggunakan arsip Swedish Medical Birth Register, Dr Fiona C. Denison berserta timnya dari Universitas Edinburgh Inggris menganalisa data medis para wanita yang melahirkan antara tahun 1998 dan 2002. Dari 143.519 kehamilan, 6,8 persen di antaranya melahirkan melewati jadwal normal atau lebih dari 42 pekan. Masa kehamilan normal berlangsung selama 40 pekan.

Dari data tersebut terungkap bahwa kehamilan yang melewati masa normal, lebih banyak dialami ibu hamil yang pada trimester pertama memiliki indeks massa tubuh (BMI) lebih tinggi maupun mereka yang berat badannya melonjak tinggi saat hamil.

Kelebihan berat badan atau obesitas saat trimester pertama dihubungkan dengan kemungkinan yang makin kecil untuk melahirkan secara spontan pada masa normal. Selain itu, obesitas dihubungkan dengan risiko yang lebih tinggi untuk mengalami kelahiran mati, diabetes yang terkait kehamilan, dan operasi cesar.

"Kegemukan menimbulkan risiko signifikan bagi kesehatan ibu maupun bayi yang dikandungnya, dan penelitian kami menegaskan temuan lainnya bahwa obesitas punya hubungan yang signifikan dengan komplikasi-komplikasi seperti kelahiran mati, diabetes terkait kehamilan, darah tinggi yang disebabkan oleh kehamilan dan operasi cesar," ungkap Denison dan timnya.

"Jika gaya hidup sehat , termasuk beraktivitas fisik dan makan makanan sehat semakin dianjurkan untuk mereka yang hamil dalam keadaan gemuk, maka hasil dari proses melahirkan kemungkinan akan lebih baik.