Thursday, April 03, 2008

Kantung Mata Hilang, Mata Indah

Kantung Mata Hilang, Mata Indah
--------------------------------------
Mata dengan kantung mata yang samar memang membuat pemiliknya tampak lebih muda dan segar. Tidak heran jika operasi kantung mata sangat diminati.

Operasi kantung mata adalah salah satu operasi plastik yang paling populer. Selama ini orang mengira, tujuan operasi kantung semata-mata untuk estetika. Hal ini tidak bisa dipungkiri, karena sebagian besar mereka yang melakukan operasi kantung mata adalah wanita yang ingin tampil lebih cantik.

Menurut dr. Sidik Setiamihardja, SpBP, dari Rumah Sakit Bedah Plastik Bina Estetika - Jakarta, operasi kantung mata bagian bawah memang lebih banyak dilakukan untuk tujuan estetika. Sedangkan operasi kantung mata bagian atas lebih ke tujuan yang fungsional.

“Seiring bertambahnya usia, otot pada kelopak mata bagian atas melemah. Sehingga kelopak mata menjadi turun dan menutup pandangan. Biasanya orang yang bersangkutan akan banyak menggunakan otot dahi untuk melihat sesuatu. Akibatnya timbul kerutan pada dahi,” jelas dr. Sidik. Inilah yang biasanya menjadi tujuan orang melakukan operasi kantung mata atas.

Sedangkan, operasi kantung mata bawah sudah jelas, yaitu memperindah penampilan. Pada operasi kantung mata bawah, juga selalu dibarengi penghilangan kerutan pada kelopak mata atas. Karena biasanya, saat lemak sudah menggelantung di kantung mata, maka lemak juga akan menumpuk di kelopak mata.

Operasi kantung mata tergolong operasi ringan dan tidak memakan banyak waktu. Sehingga pasien bisa meluangkan waktu kapan saja dan tidak membutuhkan persiapan banyak.

Berikut adalah tahapan dalam operasi kantung mata:

Persiapan sebelum operasi
-------------------------------
# Pasien : - Tidak ada persiapan khusus, hanya beberapa jam sebelum operasi diberi obat antibiotika.
- Kondisi sehat.

Tahapan Operasi kelopak mata.
-----------------------------------
–Kelopak mata pasien digambar/dibentuk di bagian yang membentuk kerutan.
–Begitu pula pada kantung mata di buat garis persis di bawah bulu mata.
–Pembiusan dilakukan pada bagian yang dioperasi.
–Untuk mencegah terjadinya kerutan kembali, operasi dimulai dengan kelopak mata dengan membuat sayatan kecil dari pangkal mata hingga hidung untuk membuang kulit dan lemak yang membuat kelopak mata berkerut.
–Pada saat operasi pasien tetap sadar karena menggunakan bius lokal.
–Pendarahan pada pembuluh darah akibat sayatan dihentikan dengan diatermia (alat untuk menghentikan pendarahan).
–Setelah diambil lemaknya, kemudian dilakukan penjahitan sebanyak dua kali. Jahitan pertama untuk menutup jaringan dalam kelopak mata. Sedangkan jahitan kedua dibuat untuk menutup luka bagian luar akibat sayatan operasi.
–Saat penutupan bekas operasi, pasien diminta beberapa kali membuka matanya untuk memastikan tidak ada kerutan akibat kulit yang mengendur. Dan mata tidak terbuka akibat membuang kulitnya kelebihan.

Tahapan Operasi kantung mata
--------------------------------------------
–Hal yang sama pun dilakukan saat operasi kantung mata. Pembiusan dilakukan pada bagian yang di operasi.
–Sayatan dari pangkal mata hingga hidung.
–Setelah diambil lemaknya, kemudian dilakukan penjahitan sebanyak dua kali. Jahitan pertama untuk menutup jaringan dalam kelopak mata. Sedangkan jahitan kedua dibuat untuk menutup luka bagian luar akibat sayatan operasi.
–Saat penutupan bekas operasi, pasien diminta beberapa kali membuka matanya untuk memastikan tidak ada kerutan akibat kulit yang mengendur.

Setelah operasi
------------------------
–Pasien dapat langsung diperbolehkan pulang beberapa jam setelah operasi.
–Pasien diberi obat selama lima hari untuk mencegah terjadinya infeksi di bekas sayatan operasi.
–Untuk membantu luka bekas operasi lekas kering, pasien disarankan untuk tidak makan pedas atau asam selama dua minggu. Hal ini untuk menghindari bekas luka kembali berdarah.
–Kurang lebih selama 10 hari, bekas luka operasi tidak boleh terkena air. Jika ingin cuci muka harus setelah enam hari setelah operasi dan menggunakan air steril.

Sunat di Usia Dewasa

Mungkin karena tradisi dan beberapa agama menganjurkannya, sunat sudah dianggap sebagai hal yang biasa. Namun kalau dilakukan saat usia beranjak dewasa, masih amankah?

Ketika seorang anak menghampiri Hendry (40) saat sedang bercengkrama dengan beberapa kerabatnya menanyakan bagaimana rasanya di sunat, dan mengapa harus disunat, sontak muka Hendry menjadi merah merona. Bukan lantaran anak kecil itu bertanya di depan orang banyak, namun karena Hendry malu menceritakan pengalamannya saat disunat beberapa tahun lalu.

Pasalnya, Hendry melakukan sunat ketika usianya 38 tahun atau telah usia memasuki dewasa madya. Tak hanya itu, dia pun harus melakukan sunat hingga tiga kali dalam kurun waktu tiga tahun. Ketika usianya 38 tahun, ada infeksi di penis Hendry, sehingga dokter menyaran untuk segera dilakukan sirkumsisi atau sunat agar tidak menggangu kesehatan reproduksinya.

Saran dokter itupun diturutinya, namun karena alasan malu dan tidak ingin orang lain tahu, dia pun melakukan sunat dengan pertolongan seorang mantri. Ternyata pada sunat yang pertama, hasilnya tidak sempurna, masih ada bagian kulit yang masih kepanjangan. Walhasil, penisnya seakan mempunyai ‘jengger’ seperti ayam jago, dan tiap kali berhubungan badan dengan istrinya, hal itu menjadi bahan tertawaan.

Akhirnya Hendry memutuskan untuk kembali melakukan sirkumsisi. Akan tetapi kali ini dia lakukan dengan bantuan dokter bedah. Pada usia 39 tahun itulah Hendry disunat lagi oleh dokter bedah. Tapi masih juga kurang puas karena penisnya masih punya 'jengger' di sampingnya dengan kulit penis bagian atas dan bawah cukup ketat.

Yang paling menyedihkan, kalau sedang ereksi bentuknya jadi agak menunduk ke bawah. Sedangkan kalau sedang tidak ereksi, ‘jengger’ itu menggantung. Akhirnya, setahun kemudian Hendry kembali disunat untuk yang ketiga kalinya oleh dokter bedah. Setelah sunat yang ketiga kali inilah, dia baru merasa puas. Bentuk penisnya jadi tegak sempurna, tanpa jengger dan bekas luka (scar), rapi seolah-olah disunat sekali dari awal secara sempurna.

Dokter Barlian Sutedja, Sp.B dari RS. Gading Pluit, Jakarta, mengungkapkan bahwa bagi kaum Adam di Indonesia, masalah sirkumsisi atau sunat bukan suatu hal yang perlu dipertentangkan. Hampir tiap anak laki-laki yang jelang masa pubertas telah melakukan sunat, bahkan jika tidak disunat beberapa anak menjadi malu dan tidak mau bermain kembali dengan temannya.

Mungkin karena tradisi, sunat dianggap biasa dan sesuai dengan ajaran agama. Padahal saat ini sunat tak hanya lagi dipandang sebagai suatu kewajiban agama yang dianutnya, namun lebih karena sebagian besar pria telah sadar bahwa sunat baik bagi kesehatan.

Baik bagi kesehatan
-------------------------
Meski jamak dilakukan, tetapi ketika seorang pria dewasa mendadak diharuskan sunat oleh dokter, tentulah hatinya gentar. Apalagi bila ia tidak merasa punya keluhan seksual ataupun ada yang aneh pada penisnya.

Menurut dr. Barlian, sunat di usia dewasa tak melulu berdasarkan dalil agama saja, tapi sunat juga dilakukan dengan alasan kesehatan. Seperti pada penderita phimosis atau penyempitan kulit pada penis bagian atas. Penyempitan yang terjadi akibat kotoran dan infeksi yang berulang pada penis itu.

Jika penyempitan ini tak segera diatasi, dapat menggangu aktivitas seksual pria tersebut. Pasalnya, hal itu menimbulkan rasa sakit pada pria saat berhubungan intim, sehingga dia merasa tidak nyaman. Tak jarang pria yang terkena penyempitan kulit kulup penis ini juga menjadi tidak percaya diri dan malu, karena dia merasa tidak bisa memuaskan pasangannya.

Dengan melakukan sunat, penyempitan kulup penis tersebut dapat dihindari. Selain itu, secara medis sangat menguntungkan. Banyak penyakit yang dapat dihindarkan dengan sirkumsisi, misalnya phimosis, paraphimosis, candidiasis, tumor ganas dan praganas, pada daerah kelamin pria.

Pria yang disunat lebih higienis, pada masa tua lebih mudah merawat bagian tersebut, dan secara seksualitas lebih menguntungkan seperti lebih bersih, tidak mudah lecet/iritasi, dan juga terhindar dari ejakulasi dini. Keuntungan lainnya adalah mencegah penumpukan smegma, yaitu zat lengket, berwama putih yang sering berbau tidak sedap yang berasal dari lemak yang diproduksi tubuh yang bercampur bakteri dan sisa-sisa urine.

Sunat juga dapat mengurangi sisa-sisa kotoran yang ada di sekitar kepala penis dan lipatan kulit yang agak sempit. Walau diakui dr. Barlian, kotoran smegma pada penis tidak berbahaya bagi pria, namun smegma itu dapat menjadi bahaya bagi wanita yang melakukan hubungan intim dengan pria tersebut.

Berdasarkan data dalam sebuah jurnal kesehatan, menyebutkan kotoran smegma yang berwarna putih susu pada penis tersebut dapat mengakibatkan gangguan pada rahim pasangannya. Pasalnya kotoran itu dapat merangsang terjadinya radang dan infeksi pada mulut rahim. Bahkan, ketika infeksi tersebut dibiarkan dapat menyebabkan kanker mulut rahim.

Dengan disunat, kebersihan penis lebih mudah dijaga. Apalagi saat ini sunat hampir tak mengeluarkan darah dan lukanya mudah sembuh. “Sunat merupakan operasi kecil yang bertujuan membuka kulup sehingga kepala penis ada dalam keadaan terbuka. Cara melakukan sirkumsisi ada beberapa cara, di antaranya dipotong dengan gunting atau pisau, sunat dengan pemotongan listrik, diklip dengan plastik, dan sunat laser,” jelas dokter yang jebolan dari salah satu universitas di Jerman ini.

Beberapa waktu belakangan ini, sunat laser lebih banyak dipilih kaum pria karena tidak terlalu sakit, sedikit pendarahan, dan luka bekas sayatan cepat kering. Sunat dengan laser adalah tehnik baru yang pemotongannya dilakukan dengan menggunakan sinar laser. Oleh karena itu pendarahan yang biasanya banyak terjadi pada orang dewasa karena telah banyaknya pembuluh darah di penis, menjadi sangat berkurang, bahkan nyaris tak ada.

Selain itu, luka pemotongan menjadi lebih cepat kering dan mengurangi kemungkinan terjadinya infeksi lebih lanjut. Karena luka yang cepat kering itulah, maka penyembuhannya tentu akan menjadi lebih cepat dibandingkan dengan tehnik konvensional yang memakai gunting atau pisau bedah.

“Dengan kata lain, dengan melakukan sunat memakai laser tidak perlu mengganggu aktivitas seperti bekerja dan bersekolah karena pendarahan yang ditakutkan kecil kemungkinannya terjadi. Tehnik ini diawali dengan memakai bius lokal, yaitu dengan memberikan suntikan seperti sunat konvensional lainnya,” jelas dr. Barlian. Jadi praktis nyeri yang terjadi hanya pada saat disuntik.

Efek sunat terhadap seksualitas
----------------------------------
Sayangnya, selama ini banyak orang menghubungan sunat dengan peningkatan aktivitas seksual. Bahkan konon, sunat di usia dewasa kerap dihubung-hubungkan dengan ketidakpuasan dengan penisnya. Ketidakpuasaan ini menyangkut berbagai hal, mulai dari ukuran, warna, sampai bentuk fungsinya, baik yang menyalurkan urine ataupun sperma.
Anehnya, ketidak puasan ini biasanya lebih banyak muncul dari ukuran, warna, dan bentuknya. Bukan karena fungsinya.

Hal ini disebabkan adanya mitos-mitos seks yang sudah terlajur melekat di benak kita. Padahal pria yang kurang keperkasaannya, boleh jadi akibat adanya gangguan infeksi pada saluran reprosuksinya, atau pria tersebut mempunyai masalah psikologis yang mengurangi gairah seksnya.

Meskipun ada anekdot yang mengatakan bahwa penis yang disunat jadi kurang sensitif dibandingkan yang tidak sunat, tetapi pendapat ini tidak didukung dengan suatu penelitian yang menunjukkan bahwa sunat berpengaruh terhadap kenikmatan seksual atau tidak, sampai adanya hasil kedua penelitian ini.

Padahal, kata dr. Barlian lebih lanjut, sunat atau tidak, seorang pria dapat tetap perkasa di atas ranjang, asalkan tubuhnya dalam kodisi sehat. Selain itu, sunat hanyalah memotong bagian kulit luar penis yang menutup bagian atas penis sehingga kepala penis menjadi lebih terbuka dan mudah dibersihkan.

Memang, dalam beberapa situs jurnal kesehatan mengungkapkan adanya suatu penelitian, menunjukkan bahwa pria dewasa yang menjalani sunat dilaporkan mengalami penurunan fungsi ereksi dan sensitivitas penis setelah menjalani prosedur ini.

Namun pada penelitian lain, berdasarkan hasil dari kelompok pasien yang lebih kecil, Dr. Sean Collins dari Louisiana State University dan timnya menemukan bahwa pria dewasa yang baru saja disunat melaporkan tidak adanya perbedaan pada fungsi seksual setelah prosedur tersebut.

Pada hasil penelitian tersebut juga mencatat, meskipun melaporkan penurunan dalam fungsi seksual mereka, 62% pria tersebut mengatakan kalau mereka puas dengan hasil prosedur ini. Dan yang jelas, kehidupan seksual dengan pasangan jadi lebih higienis.

Pasangan Anda Possesif?

Orang bilang kalau tidak cemburu maka tak sayang. Ada juga yang bilang kalau rasa cemburu itu dianggap dapat menambah dan menstimulasi perasaan cinta pada pasangan. Namun hati-hati, karena cemburu’buta’ juga bisa jadi bumerang pemutus hubungan cinta.

Cemburu dan cinta, kedua rasa ini bisa tumbuh secara alamiah. Bahkan cemburu tampaknya dijadikan suatu standar untuk menilai kasih sayang seseorang pada pasangannya. Namun jika cemburu sudah mulai mendatangkan 'penderitaan' dan terlalu mengganggu diri pasangannya secara fisik maupun psikis, maka sulit rasanya bagi pasangan satunya lagi untuk menikmati kebebasan hidup.

Orang yang cemburu biasanya cenderung memberi cinta pada pasangannya pada tingkat yang lebih dalam. Sehingga sang pasangan kerap merasa bahwa rasa cemburu si dia merupakan bagian dari cinta. Padahal cemburu tak melulu mengatasnamakan cinta, dan hal itu selalu digunakan sebagai alat pembenaran mengontrol pasangannya setiap waktu. Menanyakan keberadaan dan apa yang tengah dilakukan pasangan kala tidak bersama dengannya.

Titi P. Natalia, MPsi dari Empati Development Center, Jakarta mengungkapkan munculnya kecemburuan disebabkan oleh sikap possesif seseorang terhadap pasangannya. “Dalam diri orang tersebut, ada satu pengakuan jelas bahwa pasangannya hanyalah milik dia dan tidak untuk dibagi dengan orang lain. Orang itu pun tidak ingin kehilangan orang yang amat disayanginya dengan bersikap possesif,” jelasnya.

Kala rasa cemburu tersebut masih dalam ukuran yang sewajarnya, mungkin memang akan menambah rasa sayang. Tetapi bagaimana kalau cemburu tersebut sudah mulai tidak rasional, menjadi agresif dan malah mempersulit hidup pasangannya? Akibatnya, mungkin dapat kita lihat dari banyaknya kasus perceraian karena sikap pasangannya yang possesif.

Sayangnya, orang tersebut sulit mengakui bahwa dia pencemburu dan ‘over-protektif’. Bahkan sikap possesif yang amat sangat atau yang sudah bersifat seperti penyakit, kerapkali mendorong penderita terus merasa terdorong untuk mengawasi pasangannya, datang ke tempat kerja pasangan secara mendadak, dan terus-menerus menginterogasinya.

Alasan Bersikap Possesif
Sikap possesif yang berlebihan itulah yang dapat menjadi sesuatu yang berbahaya dan kerap mengakibatkan pertengkaran hebat serta kekerasan dalam rumah tangga. Walau bertengkar hebat lalu berbaikan memang lika-liku mengasyikan dalam hubungan percintaan, namun jika pertengkaran itu sering terjadi akibat kurang mempercayai pasanganya, bukan tidak mungkin pasangan untuk memutuskan hubungan tersebut.

Sikap possesif, kata Titi, kerap muncul pada berbagai pasangan dan mendorong orang tersebut untuk bertindak yang ‘over-protektif’ agar tidak kehilangan pasangannya. Possesif juga merupakan rasa kekhawatiran seseorang yang tidak bisa dipahami. Khawatir akan perubahan, khawatir hilang kemampuan mengontrol hubungan, khawatir kehilangan, dan khawatir ditinggal. Tentunya hal ini membuat pasangannya tak nyaman.

Namun, di balik sikap possesif, terdapat emosi yang sangat berpengaruh daripada possesif itu sendiri, yakni khawatir kebutuhan tidak akan terpenuhi. Oleh karena itu, Titi menyarankan agar orang yang memiliki pasangan yang bersikap possesif untuk mengetahui latar bekalang dia bersikap demikian. Sejak kapan dia mulai possesif, atau karena sebab apa dia mulai menunjukan sikap seperti itu. Apa dia dari dulu sudah seperti itu?

Diakui psikolog lulusan Universitas Indonesia ini, sikap possesif tersebut bisa jadi sinyal awal bahwa hubungan Anda berdua mulai kurang hangat atau dia sedang membutuhkan perhatian Anda. Sehingga dia memanfaatkan kecemburuan itu untuk memperbaiki atau meningkatkan kualitas hidup. “Tetapi sikap possesif ini juga disebabkan oleh pola asuh keluarga, dimana orangtuanya terlalu melindunginya. Ketika dewasa dan membina keluarga, tanpa disadari dia melakukan pola yang sama ketika dia masih kecil dahulu,” jelas Titi.

Selain itu, sikap possesif juga disebabkan oleh fanatisme yang berlebihan terhadap seseorang, dimana sang idola tersebut juga menerapkan pengawasan yang berlebihan kepada keluarga atau pasangannya. Akibat terlalu terobsesi dengan keberhasilan idolanya itulah, sadar atau tidak, orang tersebut bersikap sama dengan sang idola.

Psikolog yang gemar menyanyi dan travelling ini juga menjelaskan, beberapa orang yang bersikap possesif karena kebutuhannya akan rasa aman. Egonya yang tinggi dan dipengaruhi pengalaman buruknya, membuat seseorang merasa berhak untuk tidak memberi kebebasan seutuhnya pada pasangannya, mengontrol semua aktivitasnya agar dia merasa aman, disamping rasa curiga yang berlebihan.

Padahal dengan sikap possesifnya tersebut, bukan hanya pasangannya yang tidak nyaman terhadap kecurigaan dan cemburu yang berlebihan itu, justru dia pun merasa tidak nyaman. Pasalnya orang yang meragukan kesetiaan pasangannya tersebut juga selalu diliputi rasa was-was dan curiga terhadap pasangannya. Apalagi dasar seseorang menjalankan hubungan keintiman adalah adanya rasa saling percaya, kasih sayang, dan komitmen untuk membina hubungan yang harmonis.

Berpikir Positif
Sadar atau tidak, munculnya sikap possesif pada diri seseorang akibat adanya krisis kepercayaan, baik pada dirinya maupun pada pasanganya. Kepercayaan adalah dasar dalam hubungan cinta. Tidak diragukan bahwa hubungan cinta yang baik adalah hubungan yang didasari dengan kepercayaan.

Ketika seseorang meragukan kebenaran apa yang pasangannya katakan, itu artinya dia telah merusak arti kepercayaan itu sendiri. Ketidakpercayaan akan membuat orang tersebut sakit secara fisik dan mental.

Memang diakui Titi, tidak ada solusi yang mudah dan sederhana untuk menghadapi sikap possesif tersebut. Namun, dengan selalu melakukan berpikir positif dan berupaya untuk menemukan penyebab yang sebenarnya, maka perasaan itu pasti bisa teratasi. Sikap bijaksana pasangan diperlukan, dan jangan mengharapkan perubahan instan.

Oleh karena itu perlu kesadaran dari keduanya untuk memecahkan masalah tersebut. Pertama, ciptakanlah komunikasi yang baik dan saling terbuka, sehingga pasangan dapat mengetahui pelbagai kegiatan yang dilakukan setiap harinya.

“Cobalah memahami dan mengkomunikasikan perasaan serta kebutuhan masing-masing. Situasi adil harus tercipta agar dapat membuat keputusan dan peraturan yang tepat, sehingga masing-masing terpenuhi kebutuhannya,” papar Titi. Setidaknya pasangan menunjukkan kalau dirinya masih memiliki kepercayaan, dengan cara yang tidak bersikap possesif.

Berpikir positif dan mengkomunikasikannya, membuat pasangan jadi mengerti apa yang membuat pasangannya takut saat tak bersamanya. Ia dapat menjelaskan bahwa apa yang terjadi tak akan seperti yang dibayangkan. Keterbukaan tersebut bukan berarti seseorang harus selalu ‘lapor’ tiap saat kepada pasangannya, sehingga lambat laun kepercayaan terhadap dirinya maupun Anda mulai tumbuh.

Selain itu, Titi juga menyarankan pasangannya selalu memberi motivasi padanya untuk selalu tenang dan percaya diri saat dia dalam situasi sendiri. Mintalah padanya untuk membuang prasangka buruk bahwa Anda akan mengkhianatinya. Dan untuk lebih menyakinkan dia bahwa Anda adalah orang yang dapat dipercaya, telepon atau SMS (Short Massage Services) dia saat Anda jauh darinya. Atau ceritakan apa saja yang telah Anda lakukan saat tak bersamanya.

Hal kedua yang perlu dilakukan adalah selalu melibatkan pasangan dalam setiap kegiatan. Tentunya tidak semua kegiatan yang berhubungan dengan pekerjaan, namun pasangan dapat diikutsertakan pada kegiatan yang lebih bersifat relasi sosial. Dengan melibatkannya dalam kegiatan tersebut, dia dapat mengetahui dan mengenal pelbagai kegiatan serta orang-orang yang berada di lingkungan Anda, sehingga kecurigaannya berkurang.

Diakui Titi beberapa orang yang possesif melampiaskan amarah yang meledak-ledak dengan berupa makian kata-kata kotor, bahkan mereka seringkali melakukan kekerasan fisik pada pasangannya untuk melampiaskan amarahnya.

“Memang ada beberapa orang bersikap possesif yang amat sangat atau yang sudah bersifat seperti penyakit kerapkali mendorong penderita terus merasa terdorong untuk mengawasai pasangannya. Penderita menjadi begitu terobsesi dengan bayangan perselingkuhan yang dilakukan pasangannya sehingga membuat hidupnya lebih merana,” jelasnya.

Orang yang bersikap possesif yang amat sangat tersebut perlu penanganan psikolog atau psikiater, untuk mengatasi masalahnya yang berkaitan dengan rendahnya percaya diri dan pemikiran yang irasional. Namun kala mengajaknya, yakinkan dia bahwa ini adalah masalah bersama. Jangan membuatnya seolah merasa menjadi pesakitan.

Titi pun mengingatkan, sikap possesif tak selamanya negatif. Wajar-wajar saja selama masih di ambang batas normal, Anda tak perlu merasa terganggu atau marah dengan ulahnya. Dalam kadar tertentu Anda bisa membiarkan kecemburuan dan pengawasannya tersebut sampai batas yang wajar. Atau bahkan menikmatinya.

Karena cemburu dan pengawasanya juga berarti sebuah ungkapan cinta dan takut kehilangan. Sebuah pertanda bahwa Anda masih begitu berarti bagi dia. Cemburu bahkan bisa dijadikan penyedap sekaligus pemacu semangat kemesraan dan gairah Anda berdua.