Thursday, April 03, 2008

Katakan Tidak Pada Perselingkuhan

Selingkuh, hubungan gelap, love affair, love cheat atau apapun namanya, disebut-sebut sebagai bentuk lain dari penipuan cinta. Seringnya pria dituding sebagai biang keroknya. Benarkah pria tidak dapat setia?

Dimana-mana perselingkuhan tidak pernah membuahkan kebahagiaan. Akan selalu ada pihak yang disakiti, air mata, dan penyesalan. Bahkan seringkali perselingkuhan tidak hanya memporakporandakan rumah tangga seseorang, namun juga karir dan seluruh aspek kehidupan yang bersangkutan.

Anda mungkin masih ingat kasus Gary Hart yang mencalonkan dirinya sebagai Presiden Amerika di penghujung tahun 1980-an. Saat itu Hart adalah calon presiden yang sangat potensial, poling menunjukan namanya lebih unggul dibanding kandidat saingannya. Jalan menuju Gedung Putih sudah terbentang di depan mata, ketika tiba-tiba surat kabar memuat foto Gary Hart bersama seorang wanita di pangkuannya di sebuah kapal pesiar.

Dalam sekejap popularitas Hart langsung merosot, keinginannya menjadi Presiden Amerika pun hanya tinggal impian. Love affair Hart dengan Donna Rice, wanita yang tampak di fotonya bersamanya, telah mengakhiri karir politiknya.

Masih banyak kasus-kasus Gary Hart yang bisa ditemui di sekitar kita. Satu pelajaran berharga adalah betapa mahal harga yang dibayar dari sebuah perselingkuhan. Kendati demikian, cerita tentang selingkuh seperti tidak pernah ada habisnya. Bahkan sebagian orang melegitimasinya dengan melakukan poligami.

Dalam setiap kasus perselingkuhan, pria lebih sering dituduh sebagai penyebabnya. Jarang sekali kita menemukan kasus polyandri, sebaliknya kasus poligami sangat mudah ditemui. Dari pejabat, artis, sampai pedagang sayur melakukan poligami. Dari poligami itu sebagian diawali dengan perselingkuhan. Namun sebaliknya, sebagian besar perselingkuhan tidak berakhir pada pernikahan.

Dari banyaknya kasus perselingkuhan dan pologami, timbul pertanyaan: benarkah pria tidak bisa setia pada pasangannya? Bahkan sebuah penelitian menyatakan dua dari tiga pria di Jakarta pernah selingkuh. Konon saat ini jumlahnya meningkat menjadi empat dari lima pria. Julukan pria mata keranjang, playboy, laki-laki hidung belang, adalah julukan-julukan pada pria-pria yang telah mengkhianati cinta pasangannya itu.

Apakah memang kodrat pria untuk memiliki lebih dari satu pasangan hidup? Menurut Winarini W.D Mansoer, PhD, Psikolog dari Universitas Indonesia, Jakarta, pendapat kaum pria cenderung berkeinginan memiliki pasangan lebih dari satu tidak dibenarkan.

Banyak faktor
Dijelaskan Winarini, pria pada umumnya mudah sekali tertarik dan terangsang pada bentuk fisik (polierotik, red). Apalagi ada mitos mengatakan nafsu pria lebih besar dari perempuan sehingga untuk menyalurkan nafsunya tak cukup dengan satu pasangan. Mitos keliru inilah yang kemudian membuat masyarakat melihat, wajar jika pria mempunyai selingkuhan atau melakukan poligami.

Walau ketertarikan fisik atau polierotik dalam tiap manusia merupakan hal yang alamiah, Winarini mengakui hal ini pula yang kerap memunculkan niat pria untuk menaklukkan perempuan lain meski dirinya telah memiliki pasangan. Seringkali perselingkuhan hingga poligami tidak terjadi secara spontan, tetapi ada serangkaian peristiwa yang melatarbelakanginya.

Penyebab utama pria kurang setia umumnya kurangnya perhatian isteri. Celah ini seringkali dijadikan pria sebagai alasan. Padahal pria seringkali tidak menyadari bahwa kurangnya perhatian isteri disebabkan oleh kesibukannya untuk mengurus anak-anak dan pekerjaan rumah lainnya.

Kondisi demikian, makin memperburuk komunikasi suami isteri. Celakanya, hal ini membuat pria makin tidak peduli dan mencari pelampiasan di luar rumah. Apalagi jika pasangan selingkuhannya dapat memberikan perhatian yang tidak diberikan istri di rumah, imaka a akan makin hanyut perselingkuhan dan tak jarang berakhir dengan pernikahan poligami.

Kebutuhan pria untuk memiliki lebih dari satu pasangan ini, menurut psikolog kelahiran Jakarta 48 tahun silam, didorong pula oleh situasi pekerjaan pria yang mengharuskan berhubungan dengan banyak orang, terutama perempuan. Bisa jadi awalnya pria tersebut tidak berniat melakukan perselingkuhan atau menikah dengan perempuan lain. Namun karena lingkungan di sekitarnya mendukung, maka terjadilah perselingkuhan itu.

Status kejantanan dan kebanggaan juga mendorong pria memiliki perempuan lain. Selain itu, keinginan untuk memiliki lebih dari satu pasangan ini dapat pula terbentuk dari pengaruh keluarga. Umumnya orang yang ingin memiliki lebih dari satu pasangan berasal dari keluarga poligami. Namun di sisi lain, poligami juga menyimpan trauma yang membuat seseorang takut untuk berkeluarga.

Alasan pria dan wanita berbeda
Kendati pria selalu dianggap sebagai biang kerok perselingkuhan, pada kenyataannya, wanita juga bisa melakukan perselingkuhan. Jadi mitos yang mengatakan kecenderungan pria berkeinginan selingkuh tidak benar. Pasalnya perempuan pun saat ini memiliki kecenderungan yang sama. Namun keinginan wanita untuk memiliki lebih dari satu pasangan, tidak sebesar pada pria.

Latar belakang melakukan perselingkuhan pada pria dan wanita berbeda. Perempuan biasanya berselingkuh karena adanya kebutuhan emosional. Dalam berbagai penelitian pun terungkap perselingkuhan yang dilakukan perempuan karena mereka tidak mendapatkan kebutuhan emosional dari pasangan resminya.

Sedangkan pada pria, perselingkuhan umumnya didorong oleh kebutuhan seksual. Sementara wanita bersedia melakukan hubungan seksual jika ada kebutuhan emosional. Sehingga ada dua macam perselingkuhan, perselingkuhan seksual dan perselingkuhan emosional tanpa hubungan seksual.

Winarini mengingatkan ketika sebuah penghianatan atau ketidakjujuran terbongkar, maka akan dibutuhkan waktu lama untuk mengerti, memahami dan memaafkan akibat yang ditimbulkannya. Seringkali bukan hanya pasangan yang jadi korban, tapi juga anak-anak. Jadi, say no to affair!

Tips setia pada pasangan
------------------------------------

•Bangun komunikasi yang positif dengan pasangan.
•Berpikir positif terhadap masalah yang menggangu hubungan dengan pasangan.
•Ingatkan selalu tujuan pernikahan Anda.
•Lupakan masalah dan tatap masa depan dengan optimis.
•Cobalah meminta bantuan terapis, konselor atau pun orang-orang yang ahli dalam mengatasi persoalan perkimpoian.

Tentang Katarak

Katarak tak hanya diderita oleh manula. Kenali gejala, penyembuhan dan pencegahannya, mengingat katarak merupakan salah satu penyebab utama kebutaan
Salah satu penyebab utama kebutaan pada manusia adalah katarak. Menurut penelitian beberapa tahun lalu, di Indonesia, angka kebutaan sekitar 1,4 persen dari jumlah penduduk, 78 persen-nya disebabkan oleh katarak.

Pandangan mata yang kabur atau berkabut bagaikan melihat melalui kaca berembun, ukuran lensa kacamata yang sering berubah, penglihatan ganda ketika mengemudi di malam hari, merupakan gejala katarak. Tetapi di siang hari penderita malah merasa silau karena cahaya yang masuk ke mata terasa berlebih.

Kalau pada orang normal lensa mata jernih dan tembus cahaya, maka penderita katarak tidak bisa melihat dengan jelas. Dalam penglihatan mereka segalanya terlihat keruh, berkabut dan buram. Cahaya sulit mencapai retina yang ada di bagian belakang mata, hingga akibatnya muncul bayangan pada retina yang kabur. Dapat diumpamakan seperti hasil pemotretan yang tidak jelas akibat lensa kamera yang kotor.

Menurut dr. Ira Sudarmadji, SpM dari Klinik Mata Nusantara - Jakarta, katarak merupakan istilah yang berarti kekeruhan pada lensa mata, yang letaknya di dalam biji mata dan dekat daerah pupil. Biasanya disebabkan oleh kelainan metabolisme di lensa mata. “Layaknya organ tubuh lain, lensa mata juga perlu suplai makanan untuk mempertahankan kejernihannya, hingga bila ada gangguan pada aliran darah yang selalu keluar masuk lensa akan menimbulkan kekeruhan pada lensa mata,” ujar dr. Ira.

Berbagai hal bisa menyebabkan gangguan pada suplai makanan ke lensa mata. Pada orangtua disebabkan sel-sel lensa yang mulai menua, “Seperti mobil yang mulai tua, rusak disana-sini, pada manula beberapa organnya sudah tidak mendapatkan suplai makanan yang baik,” ucap dokter berusia 47 tahun ini.

Bukan hanya diderita manula
-----------------------------
Dijelaskan dr. Ira, penyebab katarak beragam seperti penyakit yang diturunkan sejak lahir oleh ibu (katarak kongenital), benturan/trauma akibat kecelakaan (katarak traumatik), proses penuaan (katarak senilis), atau komplikasi penyakit lainnya (katarak komplikata). Dilihat dari penyebabnya, dapat disimpulkan bahwa kekeruhan pada lensa mata ini bukan hanya dialami oleh manula.
Ibu hamil yang pada masa kehamilannya kekurangan gizi atau menderita infeksi seperti toxoplasma dan rubella, dapat menyebabkan katarak pada bayi yang dilahirkannya. Selain itu seseorang yang mengalami trauma akibat terbentur atau kecelakaan juga memiliki kemungkinan untuk menderita katarak.
Bila seseorang menderita uvetis atau disebut juga penyakit mata yang menyebabkan radang pada bagian mata yang bernama uvea, maka kemungkinan besar akan menimbulkan komplikasi berupa penyakit katarak.
Selain penyakit mata, orang dengan diabetes melitus (kencing manis) juga berisiko mendapatkan katarak. “Penyakit kencing manis menganggu peredaran darah, darah cenderung lebih kental dan alirannya lebih lamban pada akhirnya dapat menganggu metabolisme di lensa mata,” jelas dokter yang hobi melukis ini.

Selain kategori penyebabnya, katarak juga dibagi berdasarkan tingkat kekeruhannya. Yaitu katarak awal, setengah matang, matang, dan terlalu matang. Semakin matang sifat katarak, maka semakin tebal juga kekeruhan yang ada pada lensa mata penderitanya.

Pengobatan dengan operasi
------------------------------
Satu-satunya pengobatan katarak adalah operasi untuk mengangkat lensa yang telah keruh dan sekaligus menanam lensa intra-okuler. Perlu tidaknya mata penderita dioperasi, ditentukan dari hasil konsultasi dengan dokter spesialis mata. Apabila penderita sudah merasa terganggu penglihatannya, maka biasanya dokter akan menyarankan operasi.
Sebelum menjalani operasi, dokter akan mengadakan tes rutin untuk mengetahui keadaan kesehatan pasien. Hal ini dilakukan karena operasi memerlukan insisi (pembukaan) hingga menyebabkan luka yang harus sembuh setelah operasi. Jadi bila pasien menderita kencing manis, penyakitnya harus diatasi terlebih dahulu, supaya luka operasi dapat sembuh dengan baik.
Teknik operasi terbaru disebut teknik fakoemulsifikasi dimana dokter akan membuat irisan sekitar tiga mm di sisi kornea. Untuk menghilangkan katarak / kekeruhan pada lensa, digunakan getaran ultrasonik, kemudian sebuah lensa intraocular akan dimasukkan melalui irisan tersebut.

Irisan kecil tersebut dapat pulih dengan sendirinya tanpa memerlukan jahitan. Operasi berlangsung singkat, hanya sekitar 15-30 menit. Sedangkan biaya operasi tergantung tempat dan teknik operasi, biasanya berkisar antara 4-7 juta rupiah.
Lensa yang ditanamkan di mata pasien terbuat dari beragam jenis bahan yaitu pmma (poly metil meta crylat), silikon, atau acrylic. Biasanya untuk pemilihan bahan, dokter akan mengetes terlebih dahulu jenis bahan mana yang lebih cocok untuk pasien.
Fungsi lensa tanam pengganti ini agar mata kembali memiliki daya refraksi atau mampu membiaskan sinar. Hasilnya seseorang dapat melihat dengan jelas kembali dan bebas dari rasa buram atau berkabut pada mata. Selesai operasi pasien tidak perlu menginap di rumah sakit. Bila kondisi sehat pasien bisa langsung pulang tapi wajib kontrol tiap minggunya hingga beberapa bulan.
Perlu diketahui bahwa operasi hanya untuk menghilangkan kekeruhan, bukan lantas menghilangkan minus atau plus pada mata seseorang. Karenanya selesai operasi (bila perlu) seseorang masih tetap menggunakan kacamata sebagai alat bantu penglihatan atau baca.

Apabila beberapa saat setelah operasi timbul keluhan dari pasien, misalnya penglihatannya kembali keruh, maka perlu diadakan tindakan dengan laser. Sebenarnya kekeruhan yang menimbulkan gejala katarak lagi (secondary cataract) tersebut diakibatkan kekeruhan pada lensa mata bagian belakang lensa tanam (lensa mata asli yang tidak dibuang).

“Biasanya sekitar 90 persen operasi berhasil dengan baik kecuali bila daya tahan tubuh kurang baik atau terkena infeksi,” tutur ibu dua anak ini. Karenanya bila mata menunjukkan gejala katarak, segeralah periksakan diri ke dokter dan jangan takut karena operasinya singkat dan penyembuhannya tidak memakan waktu lama

Pencegahan Katarak
------------------------
Untuk pencegahan katarak disarankan banyak mengkonsumsi buah-buahan yang mengandung vitamin C, A dan E. Selain itu cukup olahraga dan mengonsumsi makanan bergizi yang dapat memperlancar metabolisme di daerah lensa hingga dapat memperkecil kemungkinan terkena katarak.

Menurut literatur, para ahli dari Universitas Tufts AS, menyimpulkan bahwa mengkonsumsi vitamin dapat menghindari katarak. Hasil penelitian yang dimuat di American Journal of Clinical Nutritions beberapa waktu lalu juga menyebutkan, semakin lama tambahan vitamin dikonsumsi, semakin rendah risiko terkena katarak.

Pada beberapa kasus, angka penderita katarak sekitar 60 persen lebih rendah pada wanita yang mengkonsumi vitamin C untuk jangka waktu lebih dari 10 tahun. Selain itu wanita yang tidak pernah merokok dapat mengurangi risiko terkena katarak jika rajin mengonsum folat—salah satu jenis Vitamin B— dan Karotenoid, seperti Karoten.

Jika sudah pernah menjalani operasi pengangkatan katarak, untuk menghindari munculnya katarak kembali, pasien harus rajin kontrol sesuai anjuran dokter dan menjaga kebersihan mata untuk mencegah infeksi
Jangan lupa, periksakan kesehatan mata minimal setahun sekali sebagai langkah deteksi dini.

Terapi Tertawa

Sering-seringlah tertawa. Disamping gratis, tertawa juga menyehatkan.

Tertawa merupakan reaksi normal pada setiap orang saat melihat atau mendengar sesuatu yang lucu. Kelihatannya tertawa memang aktivitas biasa Namun, jangan sekalipun menganggap sepele urusan tertawa. Demikian dikatakan dr. H. Yul Iskandar, Ph.D, Psikiater dari Rumah Sakit Khusus Dharma Graha, Jakarta.

Menurut pakar terapi tertawa ini, sejak ratusan tahun lalu tertawa diketahui memiliki efek medis terhadap kesehatan manusia. “Orang yang cepat sedih, akan lebih mudah terkena penyakit dibandingkan orang yang mudah tertawa dengan spontan,” jelasnya. Meski orang sudah tahu manfaat positif tertawa tersebut, banyak orang yang tidak tahu bagaimana cara melakukan tertawa yang sehat.

Tontonan komedi yang hampir tiap saat hadir di layar televisi, menurut dr Yul, bukanlah media yang tepat untuk membuat orang tertawa dengan sehat. “Tayangan Mr. Bean memang lucu dan membuat orang tertawa. Akan tetapi tidak semua orang bisa tertawa melihatnya, mungkin saja ada yang marah dan benci. Tertawa yang sehat harus spontan dan tidak memerlukan stimulus seperti guyonan atau adegan film. Justru dengan adanya stimulus, reaksi tertawanya tidak akan bisa dikontrol,” katanya.

Dokter yang juga President Director dari Institute for Cognitive Research ini menyatakan, sejak akhir tahun 1990, dia sudah mengembangkan Terapi Tertawa yang merupakan bagian dari program Escape From Stress (EFS). Program tersebut adalah upaya merubah perilaku untuk mengurangi efek buruk dari stres.

“Tertawa diketahui bisa mengurangi bahkan mengatasi stres yang dialami seseorang. Orang yang biasa tertawa dengan spontan lebih mungkin tidak mengalami stres,” tegasnya. Gangguan stres, katanya, lebih efektif diatasi bila dilakukan terapi tertawa secara teratur.

Ketika seseorang tertawa maka tubuhnya akan menghasilkan zat baik seperti melantonin, endorphin dan serotonin yang menekan capisol, adrenalin serta radikal bebas. “Secara berangsur-angsur tubuh akan merasakan rileks dalam jangka panjang dan membuat rasa senang. Efek jangka panjangnya, tertawa akan mencegah kanker dan membuat awet muda,” katanya.

Stres jika tidak ditangani secara serius akan berakibat fatal. Seperti terjadinya serangan jantung, stroke, serta depresi. “Stres sedang dan sub-kronik bisa menyebabkan nyeri lambung, sakit jantung, sakit kepala, impotensi, sakit punggung, diare juga insomnia,” tukasnya.

Melihat efek berbahaya stres tersebut, ia menganjurkan orang untuk hidup sehat dan menghidari stress. Salah satu caranya bisa dengan tertawa. Namun ditegaskan dr Yul, terapi tertawa hanya merupakan upaya tambahan dari suatu terapi medis.

“Dengan tertawa tidak mungkin semua penyakit itu hilang. Penyakitnya juga harus diobati,” ungkapnya. Dokter Yul kembali mengingatkan, tertawa yang sehat itu tidak asal tertawa saja tetapi harus dilakukan dengan teknik-teknik tertawa seperti yang sejak lama telah dikembangkannya yaitu terapi tertawa spontan.

Teknik Terapi Tertawa
Di Indonesia, meski terapi tertawa sudah diperkenalkan sejak 10 tahun lalu, meskipun perkembangannya masih kurang menggembirakan. Terapi ini lebih banyak dikenal di kalangan medis saja, meski banyak pasien yang telah mengalami efek positif terapinya. “Mungkin orang Indonesia itu sudah bisa tertawa sendiri dengan melihat kejadian sehari hari,” katanya.

Padahal di India, jumlah grup terapi tertawa lebih dari ribuan dan di Singapura sudah berdiri ratusan grup terapi tertawa. Sementara untuk teknik terapi tertawa yang telah dikembangkan RS Dharma Graha telah terbukti membuat peserta bisa tertawa spontan dan tertawa dengan terbahak-bahak selama 5-10 menit.

Tekniknya sendiri biasanya dilakukan dalam grup dengan jumlah anggota minimal lima orang. Selain itu, diharuskan ada pemandu terapi yang mampu dan mudah tertawa. Dialah yang memberikan arahan dan kontrol terhadap semua aktivitas terapi yang dilakukan anggota terapi tertawa.

Sebelum melakukan terapi, dilakukan dulu meditasi yang membuat mental peserta siap untuk berkonsentrasi hingga membuat semua perasaan dapat dirangsang secara monoton. Para peserta ditempatkan dalam ruangan yang penuh dengan oksigen dan mencium bau yang menenangkan, misalnya sejenis parfum tertentu.

Di depan peserta ditempatkan juga sebuah slide yang menayangkan visualisasai abstrak sebuah bentuk yang menuntun peserta melihat gerakan yang tak ada artinya dengan disertai suara-suara alam. Setelah itu, peserta melakukan relaksasi yang dipandu sang pemandu sebelum melakukan pemanasan dengan pernafasan perut dan pernafasan diafragma.

Peserta kemudian berkumpul membentuk sebuah lingkaran dimana pemandu mulai melakukan aba-aba ke semua peserta untuk melakukan tertawa. Bila grup kurang kompak ketika tertawa, maka tertawanya akan berlangsung singkat. Bila ini terjadi, perlu diulang lagi dengan teknik pernapasan dan dimulai aba-aba lagi, hingga terdengar haa-haa-haa-hii hii hii-huu huu huu…. yang panjang.

Ada beberapa pantangan dalam terapi tertawa ini. Jangan dilakukan bila grup kurang dari lima orang karena bila hanya 2-3 orang saja, terapi ini seringkali tidak berjalan dengan baik. Tidak perlu joke karena guyonan yang konyol atau basi justru membuat orang bukannya tertawa tapi malah marah. Juga jangan mentertawakan orang lain. Bila ada orang yang merasa ditertawakan bisa membuatnya marah dan grup itu akan sulit untuk kompak.

“Tertawa yang spontan dan berlangsung dalam beberapa menit, akan mengakibatkan stres yang dialami tubuh berkurang,” tukas dr. Yul. Efek positif terapi tertawa itu tidak akan langsung dirasakan tubuh saat itu juga, karena harus dilakukan secara teratur dan dalam jangka waktu tertentu. “Keberhasilan terapinya memang membutuhkan waktu yang lumayan lama. Meski begitu, terapi yang dilakukan teratur dengan baik akan membuat kita tidak mudah terkena penyakit,” tuturnya.

Bisa awet muda
Dijelaskan psikiater ini, dengan tertawa, otot muka menjadi rileks hingga membuat kerut-kerut di kulit muka hilang dan tampak awet muda. Tertawa yang reguler pun akan mengurangi stres dan nyeri kronik. “Tertawa dalam waktu 1-5 menit dapat merangsang pengeluaran endorphin, serotonin, melatonin. Pelepasan dari zat-zat itu akan menyebabkan perasaan seseorang itu menjadi tenteram, nyaman serta bahagia,” jelasnya.

Efek tertawa lainnya, pengeluaran adrenalin dapat dikurangi, juga kartisol dan radikal bebas lainnya. Tekanan darah dan detak jantung pun akan menurun setelah melakukan aktivitas tertawa. “Yang terpenting, tertawa bisa mengurangi kolesterol jahat yang ada dalam tubuh kita,” tegasnya.

Penelitian terkini pun menyatakan, tertawa merangsang sistem imun dalam tubuh yang membuat sel-sel anti-kanker akan memakan sel-sel kanker dalam tubuh. Selama ini, dr Yul telah memberikan terapi tersebut kepada ratusan pasien-pasiennya dan ternyata tidak pernah mengalami kegagalan.

Pasien yang tidak suka tertawa pun akan berangsur-angsur bisa tertawa setelah masuk grup terapi tertawa. Bagi yang ingin masuk dalam tearpi tertawa, ia merekomendasikan kepada orang yang telah berumur diatas 15 tahun. Karena gangguan stres umumnya dialami kelompok orang yang berada di atas batas usia tersebut.

Mari tertawa sehat, agar tubuh sehat dan awet muda!