Saya wanita berusia 26 tahun. Sebelumnya saya tidak pernah memperhatikan ukuran labia. Suatu hari labia terasa gatal dan setelah saya sadari ukuran labia bagian paling luar sebelah kanan ternyata lebih besar dibandingkan dengan yang kiri, kira-kira 1 cm. Kejadian gatal itu hanya teralami 1 kali saja dan saya obati, mencucinya dengan sabun sulfur dan air daun sirih. Pertanyaan saya:
(1) Apa yang menyebabkan labia membesar-lebar (sebelah) sehingga agak bergelambir dan menonjol keluar dibandingkan dengan klitorisnya?
(2) Mengindikasikan ada penyakitkah?
(3) Dapatkah ukurannya kembali normal (sama), bagaimana?
(4) Warnanya gelap dapatkah dicerahkan, bagaimana?
Jawab:
Mbak Vier, itulah jika Anda "tidak perhatian" dengan alat reproduksi sendiri. Ketika suatu kali memperhatikan, Anda jadi panik. Merasa ada yang tidak wajar, cemas, dan takut itu menjadi indikasi suatu penyakit. Padahal, memang tidak ada ukuran labia yang sama persis antara sisi kanan dan kiri.
(1) Labia pasti selalu lebih menonjol dan lebar daripada klitoris. Apa coba jadinya jika klitoris yang lebih besar dan lebar dari labia, malah jadi aneh kan? Tidak ada sebab yang pasti mengapa labia menjadi lebar sebelah. Faktor genetik bisa jadi salah satu sebab. Sebab lainnya karena faktor "alam", misalnya perlakuan yang berbeda antara labia kiri dan kanan. Tapi, apa pun, perbedaan itu hal yang biasa. Bahkan, "menguntungkan" karena labia kiri dan kanan Anda jadi punya keunikan masing-masing. Jadi jangan cemas ya?
(2)dan (3) Karena bukan berupa penyakit, tentu tidak penting "menormalkan" kembali ukuran labia Anda. Jadi jangan terlalu panik. Kelak pasangan Anda pasti menyukuri perbedaan itu. Apalagi, perbedaan itu terlalu kecil, sehingga kami percaya tidak mengganggu estetika keseimbangan organ intim Anda.
(4) Soal warna, gelap-terang labia mengikuti warna dasar kulit Anda. Karena organ intim tidak sering terpapar matahari, jelas warnanya alamiah, gelap bukan karena faktor lain. Jadi, kalau pun ingin "dicerahkan", saran kami tanyalah lebih jauh ke dokter spesialis. jangan menggunakan produk kosmetik lain untuk uji coba. Karena menyangkut organ intim, sangat berbahaya jika sekadar coba-coba.
Kesehatan Solusi Tips Alternatif Seksologi Medis Spesialis Konsultasi Kebugaran Kesegaran Hidup Sehat Bersih Keluarga Harmonis Penyembuhan Spesialis Dokter Gigi Syaraf Kulit Mata THT Tenggorokan Hidung Telinga Ibu Anak Internist Pencernakan Diet Tubuh Rongga Mulut Biologi Penyakit Tips Kedokteran Artikel Kiat Obat Khasiat Makanan Buah-buahan Tumbuhan Sayuran Higiene Resep Seimbang Aman | Kesehatan.blogspot.com - Informasi Kesehatan Pengobatan Lengkap
Wednesday, March 26, 2008
ML berlebihan
Begini, usia saya (22) dan pasangan saya (20), kami sering melakukan hubungan intim. Bahkan, kadang kami melakukannya 5-6 sehari. Apakah saya dan pasangan termasuk hyper sex, lalu apakah keseringan berhubungan intim dapat mempengaruhi berkurangnya hormon sehingga mengakibatkan kemandulan. Itu saja dulu, bye...
Rico
Jawab:
Jika melihat dari usia, wajar apabila Anda melakukan hubungan intim keseringan. Untuk usia-usia awal, gairah memang tengah menggebu-gebu sehingga keinginan untuk bercinta terus-menerus selalu muncul. Setiap kali gairah muncul, kepinginnya langsung disalurkan. Tapi saya memperkirakan frekuensi bercinta Anda dan pasangan pasti akan menurun dengan sendirinya. Jadi sulit untuk mengatakan dari sekarang, apakah Anda berdua hyper sex atau tidak.
Terlalu sering melakukan hubungan seks tidak akan mengurangi jumlah hormon pada diri Anda, karena hormon diproduksi setiap saat. Apalagi sampai membuat mandul.
Rico
Jawab:
Jika melihat dari usia, wajar apabila Anda melakukan hubungan intim keseringan. Untuk usia-usia awal, gairah memang tengah menggebu-gebu sehingga keinginan untuk bercinta terus-menerus selalu muncul. Setiap kali gairah muncul, kepinginnya langsung disalurkan. Tapi saya memperkirakan frekuensi bercinta Anda dan pasangan pasti akan menurun dengan sendirinya. Jadi sulit untuk mengatakan dari sekarang, apakah Anda berdua hyper sex atau tidak.
Terlalu sering melakukan hubungan seks tidak akan mengurangi jumlah hormon pada diri Anda, karena hormon diproduksi setiap saat. Apalagi sampai membuat mandul.
Keguguran terus
Tanya:
Begini, saya dan suami telah menikah 3 tahun, tapi hingga kini belum diberikan oleh Yang Kuasa keturunan. Saya pernah keguguran hingga dua kali, dan keduanya dikuret sama dokter spesialis di kotaku. Padahal, setelah enam bulan menikmati waktu itu saya langsung hamil, tapi ya itu tadi, keguguran.
Pada keguguran kedua, oleh dokter bayi saya (waktu itu umurnya baru 2 bulan) dinyatakan mati. Nah, dinyatakan tidak berkembang bahkan mengecil dan akhirnya dinyatakan mati.
Pertanyaan saya:
1. Apakah saya memiliki kelainan atau penyakit di rahim, padahal oleh dokter rahim saya dinyatakan bagus?
2. Apakah keguguran juga bisa disebabkan oleh kualitas sperma yang kurang baik? Bagaimana caranya untuk mengetahui bagus tidaknya kualitas sperma?
3. Setelah mengalami 2 kali keguguran, secara medis apakah saya bisa punya anak? Terima masih atas jawabannya.
Yanti
Jawab:
1. Jika dokter menyatakan rahim Anda sehat, mungkin memang benar-benar sehat. Kalau Anda ragu, Anda bisa memeriksakannya ke dokter lain, sekedar untuk pembanding. Siapa tahu dokter kedua menemukan sesuatu yang tidak ditemukan oleh dokter pertama. Tapi umumnya keguguran disebabkan oleh karena adanya kelainan kromoson sehingga janin tidak berkembang, mati dan 'dibuang' oleh tubuh. Kenapa bisa terjadi kelainan kromosom, sampai saat ini belum diketahui dengan pasti.
2. Umumnya kualitas sperma dihubungkan dengan kemampuannya membuahi telur, bukan pada perkembangan janin. Jika lelaki bisa membuat perempuan hamil, biasanya dikatakan spermanya cukup berkualitas. Untuk mengetahui kualitas sperma suami Anda, bisa diperiksakan ke laboratorium.
3. Jika kuretnya tidak menimbulkan masalah pada rahim, kemungkinan hamil lagi masih sangat besar. Hanya kemungkinan keguguran lagi juga sama besarnya. Selain kelainan kromosom, kasus terbanyak kedua adalah karena kelelahan. Karena itu cobalah dalam kehamilan tiga bulan pertama Anda mengurangi aktivitas dan lebih banyak istirahat.
Begini, saya dan suami telah menikah 3 tahun, tapi hingga kini belum diberikan oleh Yang Kuasa keturunan. Saya pernah keguguran hingga dua kali, dan keduanya dikuret sama dokter spesialis di kotaku. Padahal, setelah enam bulan menikmati waktu itu saya langsung hamil, tapi ya itu tadi, keguguran.
Pada keguguran kedua, oleh dokter bayi saya (waktu itu umurnya baru 2 bulan) dinyatakan mati. Nah, dinyatakan tidak berkembang bahkan mengecil dan akhirnya dinyatakan mati.
Pertanyaan saya:
1. Apakah saya memiliki kelainan atau penyakit di rahim, padahal oleh dokter rahim saya dinyatakan bagus?
2. Apakah keguguran juga bisa disebabkan oleh kualitas sperma yang kurang baik? Bagaimana caranya untuk mengetahui bagus tidaknya kualitas sperma?
3. Setelah mengalami 2 kali keguguran, secara medis apakah saya bisa punya anak? Terima masih atas jawabannya.
Yanti
Jawab:
1. Jika dokter menyatakan rahim Anda sehat, mungkin memang benar-benar sehat. Kalau Anda ragu, Anda bisa memeriksakannya ke dokter lain, sekedar untuk pembanding. Siapa tahu dokter kedua menemukan sesuatu yang tidak ditemukan oleh dokter pertama. Tapi umumnya keguguran disebabkan oleh karena adanya kelainan kromoson sehingga janin tidak berkembang, mati dan 'dibuang' oleh tubuh. Kenapa bisa terjadi kelainan kromosom, sampai saat ini belum diketahui dengan pasti.
2. Umumnya kualitas sperma dihubungkan dengan kemampuannya membuahi telur, bukan pada perkembangan janin. Jika lelaki bisa membuat perempuan hamil, biasanya dikatakan spermanya cukup berkualitas. Untuk mengetahui kualitas sperma suami Anda, bisa diperiksakan ke laboratorium.
3. Jika kuretnya tidak menimbulkan masalah pada rahim, kemungkinan hamil lagi masih sangat besar. Hanya kemungkinan keguguran lagi juga sama besarnya. Selain kelainan kromosom, kasus terbanyak kedua adalah karena kelelahan. Karena itu cobalah dalam kehamilan tiga bulan pertama Anda mengurangi aktivitas dan lebih banyak istirahat.
Subscribe to:
Posts (Atom)