Sunday, June 10, 2012

Anak Batuk, Perlukah Obat?

Orangtua sebaiknya berhati-hati dalam memberikan obat batuk, khususnya pada balita. Apabila batuk dirasakan tidak terlalu menganggu dan berbahaya, anak sebaiknya cukup diberikan air putih atau ASI saja (usia di bawah 6 bulan).

Ada beberapa jenis obat batuk yang tersedia dipasaran, seperti ekspektoran dan antitusif.  Menurut dokter spesialis anak di Rumah Sakit Ibu dan Anak Hermina dr. Herbowo Soetomenggolo, untuk anak di bawah usia 6 tahun, penggunaan obat batuk antitusif tidak dianjurkan karena justru dapat memicu masalah yang lebih serius seperti pneumonia.

"Batuk adalah suatu mekanisme tubuh untuk mengeluarkan lendir dan kuman. Jadi bagaimana anak bisa mengeluarkan lendir atau kuman kalau diberikan antitusif," kata Herbowo saat acara temu media di Jakarta.

Antitusif adalah senyawa yang bekerja dengan menekan pusat batuk. Obat-obat antitusif ini menghentikan rangsangan batuk, menurunkan frekuensi dan intensitas dorongan batuk karena refleks batuk ditekan atau dihambat.

Herbowo menerangkan, pemberian antitusif akan membuat lendir dan kuman menetap di dalam paru-paru sehingga akan berkembang biak. Masa inkubasi (dari kuman masuk sampai menimbulkan penyakit) biasanya berlangsung selama 3-7 hari. Tapi, bila yang masuk adalah kuman pneumonia yang ganas, hanya dalam waktu satu hari bisa langsung menimbulkan gejala sesak dan kematian.

"Makanya pada anak yang sedang batuk obat ini sangat tidak dianjurkan. Kalau anak masih di bawah 6 bulan minum beri saja ASI. Karena ASI dan air putih adalah pengencer dahak yang paling baik," katanya.

Herbowo menganjurkan, kalau memang batuk pada anak terlihat sangat mengganggu dan butuh obat, sebaiknya berikan obat batuk pencencer dahak (ekspektoran) dan obat yang bisa membantu mengeluarkan dahak. Penggunaan obat batuk pada anak adalah pilihan terakhir. Bilamana anak mengalami batuk yang disebabkan oleh flu biasa, maka tanpa diberikan obat gejala batuk-batuk ini akan hilang dengan sendirinya.
"Bilamana batuk-batuk berlangsung lebih dari dua minggu, sebaiknya bawa ke dokter untuk mencari penyebabnya, sehingga obat yang diberikan tepat guna dan sasaran," tutupnya.

Tuesday, May 22, 2012

Pertengkaran Orangtua Lukai Emosi Anak

Teriakan, pintu yang dibanting, hingga aksi saling mendiamkan, yang kerap mewarnai pertengkaran pasangan rumah tangga ternyata bisa melukai emosi anak dan berdampak jangka panjang.

Anak-anak usia balita yang tinggal dengan kedua orangtua yang sering terlibat percekcokan akan tumbuh menjadi anak yang secara emosional tidak aman sehingga mereka rentan depresi, menderita kecemasan, dan mengalami gangguan perilaku di usia sekolah dasar. Perkembangan konsep diri juga bisa terganggu.

Penelitian yang dipublikasikan dalam jurnal Child Development membuktikan hal tersebut. Penelitian dilakukan terhadap 235 orang dari keluarga kelas menengah di beberapa wilayah di Amerika Serikat. Para responden responden diwawancara mengenai pertengkaran orangtua ketika mereka masih bersekolah di TK. Kemudian 7 tahun kemudian mereka diwawancara kembali.

Menurut anak-anak tersebut, ketika mereka masih duduk di bangku TK dan menyaksikan orangtua sering bertengkar, mereka merasa tidak aman dan kurang terlindungi. Mereka juga mengaku merasa sengsara dengan pertengkaran itu. Sebagian besar anak yang orangtuanya tidak akur itu juga cenderung lebih agresif dan mudah marah.

Yang menarik, ternyata tidak semua konflik rumah tangga itu menyebabkan masalah pada anak. Jika orangtua bisa berkonflik secara dewasa, mampu menahan diri untuk tidak saling berteriak atau melakukan aksi kekerasan, pengaruh pertengkaran itu tidak negatif.

"Masalah terjadi setiap hari. Namun jika orangtua bisa bekerjasama menyelesaikannya serta menampilkan emosi yang positif saat berkonflik, hasilnya justru positif bagi anak," kata ketua peneliti E.Mark Cummings, profesor psikologi dari Universitas Notre Dame.

Dengan kata lain, perbedaan pendapat antar suami istri yang bisa diselesaikan secara baik justru akan mengubah cara pandang anak terhadap suatu konflik.

Ditambahkan oleh Cummings, untuk membantu anak memiliki kematangan emosi yang baik, kuncinya justru bukan membesarkan mereka dalam keluarga yang steril dari konflik. Orangtua seharusnya mampu memberi contoh pada anak bagaimana mengendalikan emosi untuk "bertengkar" secara adil dan menyelesaikan konflik dengan dewasa.

"Bertengkar adalah hal yang normal dalam rumah tangga. Tapi orangtua harus sadar bahwa anak-anak mereka melihat dan mendengarkan," katanya.

Thursday, May 10, 2012

Kafein Perkecil Risiko Kanker Kulit

Para ilmuwan terus menguji manfaat kandungan kafein pada kopi. Baru-baru ini, para ilmuwan di Amerika Serikat mengklaim bahwa kafein dapat membantu menurunkan risiko salah satu jenis kanker kulit yang disebut karsinoma sel basal.

Temuan ini dipublikasikan dalam Cancer Research, sebuah jurnal untuk American Association for Cancer Research. Dalam kajiannya, peneliti menganalisis data dari Nurses Health Study, sebuah studi jangka panjang yang dimaksudkan untuk menyelidiki faktor yang mungkin mempengaruhi kesehatan perempuan dan Health Professionals Follow-up Study, untuk pria.

Penelitian ini melibatkan hampir 113.000 peserta. Para peneliti di Brigham and Women Hospital dan Harvard Medical School di Boston menemukan bahwa 22.786 partisipan didiagnosa dengan karsinoma sel basal selama periode 20-tahun masa tindak lanjut.

Bukan saja ada hubungan terbalik antara minum kopi dan risiko karsinoma sel basal, namun peningkatan asupan kafein dari berbagai jenis makanan - seperti teh, soda dan coklat - juga menunjukkan penurunan risiko kanker kulit.

"Temuan ini benar-benar memperlihatkan bahwa kafein dalam kopi bertanggung jawab dalam menurunkan risiko karsinoma sel basal yang terkait dengan meningkatnya konsumsi kopi," kata Jiali Han, profesor di Brigham and Women Hospital, Harvard Medical School, Boston, yang menjadi peneliti utama riset tersebut.

"Hasil ini konsisten dengan riset sebelumnya pada tikus, yang menunjukkan bahwa kafein dapat memblokir pembentukan tumor kulit. Namun, diperlukan studi lebih lanjut dengan menggunakan  kelompok populasi berbeda dan studi mekanistik tambahan sebelum kita bisa mengatakan ini secara definitif," jelasnya.
Karsinoma sel basal merupakan sejenis kanker kulit yang paling sering ditemukan dan biasanya tidak bermetastasis, berkembang lambat, invasif dan menimbulkan destruksi lokal. Rata-rata usia yang berisiko terkena karsinoma sel basal kurang lebih 60 tahun dan jarang sebelum usia 40 tahun.