Thursday, May 10, 2012

Kafein Perkecil Risiko Kanker Kulit

Para ilmuwan terus menguji manfaat kandungan kafein pada kopi. Baru-baru ini, para ilmuwan di Amerika Serikat mengklaim bahwa kafein dapat membantu menurunkan risiko salah satu jenis kanker kulit yang disebut karsinoma sel basal.

Temuan ini dipublikasikan dalam Cancer Research, sebuah jurnal untuk American Association for Cancer Research. Dalam kajiannya, peneliti menganalisis data dari Nurses Health Study, sebuah studi jangka panjang yang dimaksudkan untuk menyelidiki faktor yang mungkin mempengaruhi kesehatan perempuan dan Health Professionals Follow-up Study, untuk pria.

Penelitian ini melibatkan hampir 113.000 peserta. Para peneliti di Brigham and Women Hospital dan Harvard Medical School di Boston menemukan bahwa 22.786 partisipan didiagnosa dengan karsinoma sel basal selama periode 20-tahun masa tindak lanjut.

Bukan saja ada hubungan terbalik antara minum kopi dan risiko karsinoma sel basal, namun peningkatan asupan kafein dari berbagai jenis makanan - seperti teh, soda dan coklat - juga menunjukkan penurunan risiko kanker kulit.

"Temuan ini benar-benar memperlihatkan bahwa kafein dalam kopi bertanggung jawab dalam menurunkan risiko karsinoma sel basal yang terkait dengan meningkatnya konsumsi kopi," kata Jiali Han, profesor di Brigham and Women Hospital, Harvard Medical School, Boston, yang menjadi peneliti utama riset tersebut.

"Hasil ini konsisten dengan riset sebelumnya pada tikus, yang menunjukkan bahwa kafein dapat memblokir pembentukan tumor kulit. Namun, diperlukan studi lebih lanjut dengan menggunakan  kelompok populasi berbeda dan studi mekanistik tambahan sebelum kita bisa mengatakan ini secara definitif," jelasnya.
Karsinoma sel basal merupakan sejenis kanker kulit yang paling sering ditemukan dan biasanya tidak bermetastasis, berkembang lambat, invasif dan menimbulkan destruksi lokal. Rata-rata usia yang berisiko terkena karsinoma sel basal kurang lebih 60 tahun dan jarang sebelum usia 40 tahun.

Monday, May 07, 2012

Bahaya di Balik Obat Tidur

Obat tidur seringkali menjadi andalan para penderita insomnia. Namun berhati-hatilah dalam mengonsumsi obat tidur. Penyalahgunaan obat ini bisa membuat Anda tertidur selamanya.

Para peneliti dari sebuah klinik tidur di California mengungkapkan, orang-orang yang mendapatkan resep obat tidur beresiko lima kali lebih tinggi mengalami kematian dibandingkan dengan yang bukan peminum obat tidur.

Penelitian tersebut dilakukan terhadap 10.529 orang yang mendapat resep obat tidur dan 23.600 orang yang tidak. Kedua kelompok responden memiliki rentang usia, status kesehatan, serta status ekonomi yang sama.

Dalam membandingkan kedua kelompok tersebut, para peneliti mengungkapkan bahwa seseorang yang minum 18 pil tidur dalam setahun, risikonya mengalami kematian 3,6 kali lebih tinggi dibanding yang tidak mengonsumsi obat tidur sama sekali. Sementara itu, yang mengonsumsi obat tidur antara 18-132 pil dalam setahun risikonya naik menjadi lima kali lipat.

Memang penelitian tersebut belum sempurna karena menghubungkan antara obat tidur dengan tingginya kematian tidak berarti obat tidur sebagai faktor penyebab tunggal. Tetapi tidak ada salahnya Anda lebih berhati-hati terhadap dosis obat tidur yang dikonsumsi. Terlebih lagi hasil analisa yang dilakukan peneliti dari Kanada tahun 2010 memberikan hasil serupa.

Thursday, April 19, 2012

Pendapat 4 Ahli Seputar Manfaat Susu

Meskipun banyak penelitian telah membuktikan sejumlah manfaat susu untuk kesehatan, namun tidak semua orang sepakat bahwa susu benar-benar baik untuk kesehatan. Bahkan beberapa ahli gizi ada yang mengklaim susu dapat memicu kropos tulang dan bahkan mengandung zat berbahaya pemicu kanker.

Mitos susu sebagai penyebab kanker juga sempat muncul ketika FDA  menyetujui departemen peternakan Amerika untuk menggunakan hormon pertumbuhan (bovine growth hormone/rBGH) pada hewan ternak pada 1994. Praktik tersebut menyebabkan produksi susu sapi meningkat pesat di AS sehingga harga susu pun bisa ditekan. Namun penggunaan hormon rBGH pada sapi dilarang di beberapa negara lain seperti Kanada, Jepang, Uni Eropa, Australia dan Selandia Baru.

Lantas pertanyaannya adalah apakah susu benar-benar memberi manfaat bagi kesehatan? Untuk menjawabnya, berikut adalah keterangan beberapa ahli terkait pandangan terhadap minuman yang kaya akan protein, minreal dan vitamin ini, seperti dikutip Myhealthnewsdaily:

Vandana Sheth, juru bicara untuk Academy of Nutrition and Diabetetic

Satu gelas susu mengandung 150 kalori dan sekitar delapan gram lemak. Kadar lemak jenuh dalam segelas susu memang cukup besar yakni sekitar 5 gram. Jumlah kalori dan lemak yang Anda peroleh akan semakin tinggi bila dalam sehari Anda menenggak tiga gelas susu. Tapi tidak perlu khawatir, Anda dapat menyiasati lemak jenuh dengan minum susu rendah lemak atau tanpa lemak. Dengan begitu, Anda dapat mengurangi asupan lemak dan kalori, namun masih mendapatkan semua nutrisi dalam susu. Sebagai contoh, jika Anda minum delapan ounce (sekitar 235 ml) susu skim (rendah lemak), berarti Anda mendapatkan 90 kalori.

Susu sapi secara alami merupakan sumber yang kaya kalsium, vitamin D dan potasium. Yogurt akan menjadi pilihan yang baik untuk menggantikan susu sapi jika Anda menyukainya, terutama yogurt tanpa lemak seperti yogurt Yunani, yang dari sisi jumlah karbohidrat lebih rendah dan tinggi protein.

Keith Ayoob, profesor klinis, Departemen Pediatrik di Albert Einstein College of Medicine:

Beberapa isu seperti adanya dugaan penggunaan hormon pertumbuhan (rBGH) pada hewan ternak atau bovine somatotropin untuk mendorong produksi susu sapi, sempat membuat reputasi susu anjlok dan membuat banyak orang khawatir.

Namun penelitian telah membuktikan bahwa mengonsumsi susu yang berasal dari sapi yang diberi hormon tidak serta merta mentrasfer bahan aktif kimia ini ke dalam tubuh. Dengan kata lain, rBGH baru bisa menyebabkan kanker jika disuntikkan langsung ke tubuh manusia.

Dr Amanda Powell, dari Medicine Endocrinology, Diabetes and Nutrition Department di Boston Medical Center:

Dalam hal kesehatan, susu sapi adalah sumber protein yang lengkap. Susu memiliki delapan gram protein dan 12 gram karbohidrat dalam setiap gelasnya. Susu sapi murni - tanpa fortifikasi - mengandung 300 miligram kalsium, yang dapat mencukupi 30 persen dari jumlah asupan harian yang direkomendasikan untuk kebanyakan orang dewasa. Selain itu segelas susu memiliki setengah asupan harian vitamin B12 yang direkomendasikan.

Susu sapi biasanya juga diperkaya dengan vitamin D, dan setiap orang membutuhkan vitamin D untuk menyerap kalsium. Namun, serat tidak bisa Anda dapatkan dalam susu sapi. Jumlah lemak pada susu bervariabel, termasuk lemak jenuh. Perlu diingat, ada sedikit kandungan lemak dalam susu rendah lemak seperti susu skim yang kandungan lemaknya hanya 1-2 persen saja.

Tapi susu juga memiliki kandungan laktosa, sehingga dapat menyebabkan gastrointestinal atau masalah pencernaan untuk orang yang memiliki kekurangan enzim laktase.

Meagan Mohammadione, ahli diet klinis di Emory Bariatric Center Emory, Atlanta

Susu sapi memiliki kandungan protein dua kali lipat lebih banyak ketimbang susu kedelai. Akan tetapi, baik susu kedelai dan sapi, keduanya merupakan sumber makanan yang kaya kalsium, kalium, fosfor, vitamin D dan nutrisi lainnya.

Kedelai dan susu sapi memiliki berbagai jenis protein. Protein dalam susu sapi disebut kasein. Tubuh manusia umumnya lebih mudah memproses dan menggunakan nutrisi yang bersumber dari hewan ketimbang yang bersumber dari nabati.

Bagi para vegetarian, konsumsi susu kedelai dapat menjadi alternatif terbaik. Susu memiliki kandungan gula, dan beberapa orang yang bermasalah dengan kadar gula darah biasanya mencemaskan hal ini. Tetapi kandungan gula pada susu atau laktosa, tidak memiliki efek besar terhadap kenaikan gula darah dibandingkan gula pasir.
Selain itu juga ada perbedaan antara intoleransi lactosa dan alergi susu.  Alergi terhadap susu sebenarnya sangat jarang, dan yang terjadi sebenarnya adalah seseorang alergi terhadap kasein pada susu.  Jika Anda alergi terhadap susu, Anda akan merasakannya. Bila Anda mengalami intoleransi laktosa pun akan mengetahuinya; di mana perut Anda terasa sakit dan terasa kembung. Jika seseorang menyukai susu tetapi tidak mampu memtoleransi laktosa, maka disarankan untuk mengonsumsi susu bebas laktosa.