Thursday, February 24, 2011

Ciuman, Tak Sekadar Bibir Ketemu Bibir

Kedua sejoli yang sedang berbahagia Pangeran William dan Kate Middleton melakukan ciuman pertama di balkon Istana Buckhingham setelah upacara pernikahan di Westminster Abbey. Di hadapan khalayak dan dua miliar pemirsa televisi, mereka bukan cuma sekali berciuman, tapi dua kali.

Berciuman memang menimbulkan perasaan menggairahkan dan intim. Tapi tahukah Anda bahwa berciuman tak sekadar bertemunya bibir dengan bibir. Berciuman juga melibatkan berbagai otot wajah, hormon dan gerakan tubuh lainnya.

Para peneliti dari Lafayette College, Pennsylvania menyebutkan, berciuman akan meningkatkan hormon tertentu di otak. Pengeluaran hormon-hormon tersebut merupakan hasil dari kombinasi antara perasaan cinta, gairah, dan perasaan rileks. Berpegangan tangan, kontak mata dan berpelukan sambil berciuman juga diketahui akan mengurangi kadar hormon stres, kortisol.

Kunci berciuman memang ada di bibir. Namun ketika Anda melakukan ciuman yang hangat dan dalam, ada 34 otot wajah yang ikut bergerak. Sementara itu kecupan sederhana yang kita lakukan hanya menggunakan dua otot wajah saja.

Berciuman juga melibatkan ludah. Namun menurut penelitian ternyata pria lebih "basah" dibanding perempuan. "Ada bukti bahwa di dalam air ludah pria terkandung testosteron yang akan meningkatkan dorongan seksual. Karena itu ketika berciuman, pria cenderung lebih banyak menghasilkan saliva, salah satu fungsinya untuk mentransfer testosteron untuk meningkatkan hasrat seksual wanita," kata Helen Fisher, antropolog dari Rutgers University.

Di luar hal-hal ilmiah tersebut, ciuman yang sempurna juga harus memiliki irama, pelan tapi lama, ringan dan lunak, kemudian semakin cepat, memanas dan menggairahkan.

Sebuah survei juga menyebutkan 66 persen perempuan dan 59 persen pria mengatakan kualitas ciuman pertama akan memengaruhi kelanggengan hubungan. Dengan kata lain, cara Anda berciuman bisa membuat kekasih semakin lengket dengan Anda, atau sebaliknya, dicampakkan begitu saja.

Monday, January 24, 2011

Cegah Impotensi, Enyahkan Stres Pikiran

Ternyata, meskipun Anda telah makan dengan benar, rajin berolahraga, dan tidak merokok, terkadang pria masih mengalami masalah ereksi. Dalam hal ini, biang keladinya mungkin amarah, stres, atau masalah psikologis lain.

"Kecemasan dan stres akan menghambat kelenjar pituitari di bawah otak mengeluarkan hormon yang diperlukan untuk timbulnya libido," kata Dr Arun Ghosh, seksolog dari Spire Liverpool Hospital, Inggris.

Selain itu, respons melawan atau menghindar ketika tubuh menghadapi stres juga akan mematikan fungsi-fungsi non-esensial dalam tubuh, termasuk fungsi seksual.

Faktor lain yang berperan dalam terjadinya impotensi adalah pikiran negatif tentang pasangan seksual atau pernyataan pasangan, seperti kekesalan, kebencian, atau kurangnya perhatian.

"Bila hubungan Anda dengan istri tidak harmonis, impotensi mungkin isyarat dini yang diberikan tubuh untuk mengatakan bawa di antara Anda ada masalah," kata Herb Goldberg, psikolog klinis dan penulis buku The Inner Male.

Itu sebabnya, mengelola stres bisa menghindarkan Anda dari kegagalan ereksi. Seimbangkan gaya hidup Anda dengan kegiatan-kegiatan rileksasi. Olahraga juga sangat efektif untuk meringankan stres. Selama berolahraga, tubuh akan melepaskan endorfin yang berfungsi menenangkan pikiran.

Yang terpenting adalah jangan menganggap impotensi sesaat yang dialami itu merupakan masalah permanen dan menimbulkan kecemasan akan terjadi lagi. Hal yang terbaik untuk dilakukan jika seorang pria mengalami episode impotensi adalah menganggapnya sebagai sesuatu yang bisa terjadi sekali-sekali pada semua pria dan tetap berharap dapat berhasil di lain waktu.

Friday, January 07, 2011

Apakah Anda Bingung Bagaimana Cara Menentukan Masa Subur Istri Anda dengan Tepat ?

Jika Anda termasuk orang diatas, maka hari ini adalah hari keberuntungan Anda! Karena Kami akan memberikan Anda sebuah AKSES KHUSUS ke buku kami yang akan menjelaskan secara terperinci dan mendalam tentang BAGAIMANA CARA INGIN HAMIL dengan MENGETAHUI MASA SUBUR ISTRI ANDA !

Benar ! Kehamilan adalah salah satu anugerah terbesar yang diberikan yang Maha Pencipta kepada pasangan suami istri. Kehamilan merupakan awal dari terciptanya kehidupan. Awal dari proses yang amat mengagumkan saat terjadinya tumbuh kembang janin menjadi seorang manusia yang sempurna. Kehamilan disambut dengan suka cita seluruh keluarga. Semua menyambut kedatangan buah hati baru yang akan mengisi kegembiraan keluarga. Seorang anak menambah semarak dan menyempurnakan kehidupan pasangan suami istri. Kelahiran anak menyempurnakan peran pria dan wanita dalam proses reproduksinya.Tangisan pertama bayi yang baru lahir ke dunia merupakan awal dari kegembiraan akan hadirnya generasi penerus dan akhir dari penantian suami istri selama 9 bulan kehamilan yang membahagiakan.
Namun.. tahukah Anda bahwa peluang terjadinya kehamilan pada manusia pada siklus masa subur relatif kecil ?

Secara statistik seorang wanita yang normal pada usia 20-an memiliki kemungkinan hamil sebesar 20-35 % setiap bulannya. Pada populasi umum diperkirakan 85 % wanita tanpa alat kontrasepsi dan melakukan hubungan seksual secara rutin (2-3 kali tiap minggu) akan hamil dalam satu tahun pertama. Jumlah ini meningkat menjadi 92% pada tahun kedua dan 93% pada tahun ketiga. Ada beberapa faktor yang menetukan tingkat kesuburan, antara lain: faktor usia. Puncak kesuburan pada wanita dicapai pada usia dekade 20-an dan akan menurun sesudahnya hingga berhenti total pada masa menopause. Penurunan angka keberhasilan hamil mulai bermakna pada usia 35 tahun keatas, sedangkan pada laki-laki kemampuan menghamili tidak dibatasi oleh umur. Faktor lain yang penting dalam peluang untuk hamil adalah frekuensi berhubungan seksual. Pada pasangan berusia 35 dan 38 tahun yang rutin dan teratur berhubungan seksual didapati 94 % dan 77 % hamil dalam tiga tahun. Selain itu faktor stres dan psikologi berpengaruh pada terjadinya hubungan seksual.
Proses reproduksi manusia dimulai dengan dikeluarkannya jutaan sel sperma selama hubungan seksual. Sperma bergerak masuk ke rahim dan bertemu dengan sel telur pada saluran telur dan terbentuknya janin yang akan bertumbuh dan berkembang di dalam rahim. Proses terjadinya kehamilan yang kompleks ini hanya dapat terjadi apabila terpenuhi syarat; keadaan sperma yang normal, adanya ovulasi (keluarnya sel telur dari indung telur) dan transpor sperma dan sel telur yang lancar dalam saluran reproduksi. Semuanya didasarkan pada kondisi kesehatan secara umum pasangan yang baik, kondisi hormonal dan waktu yang tepat (timing) dan frekuensi hubungan seksual. Manusia berbeda dengan hewan dimana hubungan seksual tidak terpengaruh adanya masa birahi (estrus), hubungan seksual dapat terjadi kapan saja.
Kehamilan hanya dapat terjadi apabila hubungan seksual dilakukan pada masa subur, karena itu
mengetahui masa subur merupakan cara yang PERTAMA dan UTAMA bagi pasangan untuk mendapatkan keturunan.