Friday, October 10, 2008

Kipas Angin Cegah Kematian Bayi

Penggunaan kipas angin ketika bayi sedang tidur dapat secara mencolok mengurangi sindrom kematian bayi secara tiba-tiba (SIDS). Demikian hasil penelitian terbaru di AS yang diumumkan Senin (6/10) dan dilansir kantor berita China, Xinhua.

Studi tersebut, yang dilakukan oleh para peneliti di lembaga medis AS, Kaiser Permanente, adalah yang pertama yang memusatkan perhatian hubungan antara saluran udara ruangan dan SIDS.

Penelitian tersebut menyimpulkan bahwa ketika bayi terlelap di satu ruangan yang pertukaran udaranya dilakukan oleh kipas angin, terdapat 72 persen risiko yang lebih rendah akan SIDS dibandingkan dengan yang dihadapi bayi yang tidur di satu ruangan tanpa kipas angin. Tidur di ruangan dengan jendela terbuka juga berhubungan dengan rendahnya risiko sindrom tersebut.

Laporan itu disiarkan dalam edisi paling akhir Archives of Pediatric & Adolescent Medicine. "SIDS sangat merusak dan misterius," kata pemimpin peneliti itu, Dr De-Kun Li, ahli reproduksi dan epidemiologi prakelahiran di divisi penelitian Kaiser Permanente di Oaklanda, Northern California.

"Kami tak melihat kecondongan dalam temuan kami bagi penggunaan kipas angin. Tetapi ada masalah keselamatan umum. Jika Anda mempunyai bayi, pastikan bahwa mereka tak memasukkan jari mereka ke dalam kipas angin."

Sindrom kematian bayi secara tiba-tiba ditandai dengan kematian bayi secara mendadak yang sering kali tak dapat dijelaskan. Meskipun itu dapat terjadi pada anak-anak hingga ulang tahun pertama mereka, lebih khusus itu terjadi pada bayi dalam usia enam bulan pertama mereka.

Menurut American SIDS Institute, sebanyak 2.500 SIDS terjadi setiap tahun di Amerika Serikat. Dengan meningkatnya saluran udara di satu ruangan, kipas angin dapat membuyarkan karbon dioksida yang bertumpuk di ruang udara tertutup di sekitar hidung dan mulut bayi di lingkungan tempat mereka tidur, kondisi ini meningkatkan risiko pengambilan napas kembali, kata banyak ahli.

Studi tersebut dipusatkan pada 497 bayi di 11 wilayah di seluruh California, 185 di antara bayi itu meninggal akibat SIDS.

Vitamin A, Tak Hanya Untuk Mata

PERAN vitamin A bagi kesehatan mata sudah bukan rahasia lagi. Namun, ternyata vitamin A masih menyimpan banyak kegunaan. Salah satunya, menurunkan angka kematian dan angka kesakitan. Selain itu?

SUMBER VITAMIN A
Seperti vitamin lainnya, vitamin A bisa diperoleh dari mana saja. Menurut Prof. Dr. Ir. Ali Khomsan, ahli gizi dari IPB, sumber termudah yang bisa diperoleh adalah dari sayuran berwarna hijau tua.

"Ini karena di dalamnya banyak mengandung provitamin A (betakaroten)," ungkap guru besar IPB ini. Tubuh akan mengubah pro-vitamin A menjadi vitamin A. "Satu molekul betakaroten dapat diubah menjadi dua molekul vitamin A." Betakaroten banyak terdapat pada bayam, wortel, ubi jalar dan buah-buahan berwarna kuning jingga.

Adapun sumber lain yang berasal dari hewan sering disebut preformed vitamin A. Bentuk preformed vitamin A antara lain hati, ginjal, mentega, margarin yang difortifikasi (penambahan zat tertentu pada makanan misal vitamin A), kuning telur, susu, dan keju.

BUKAN CUMA UNTUK MATA
Vitamin A sangat erat kaitannya dengan mata, ini pasti sudah banyak yang tahu. "Ya, vitamin A sangat penting untuk membantu integritas retina mata." Kekurangan vitamin A akan menyebabkan mata tidak dapat menyesuaikan diri terhadap perubahan cahaya yang masuk ke dalam retina. Sebagai konsekuensi awal, terjadilah buta senja, yaitu mata sulit melihat di kala senja.

Guna lain vitamin A adalah membantu pertumbuhan dan perkembangan kerangka dan jaringan tubuh. "Sebab vitamin A membantu sintesis protein tubuh dan diferensiasi sel-sel tulang (memperbaiki proses pembuatan tulang)," tegas Ali.Vitamin A juga berfungsi sebagai vitamin anti-infeksi, karena dapat mempertahankan integritas membran mucous (supaya sel-sel di dalam tubuh khususnya mata tidak mudah rapuh).

Karena itu, kekurangan vitamin A juga bisa menyebabkan meningkatnya kerentanan tubuh terhadap infeksi bakteri dan virus. Dengan kata lain, tanpa vitamin A, sistem pertahanan tubuh akan hilang, sehingga tubuh akan mudah terserang penyakit.

MASIH KURANG
Saat ini, secara klinis, Indonesia dinyatakan sudah bebas dari masalah vitamin A. "Sedangkan dari sisi konsumsi vitamin A, kita masih dianggap kurang," kata Ali. Karenanya, pemberian kapsul vitamin A dosis tinggi di posyandu-posyandu merupakan salah satu cara efektif untuk mencegah kekurangan vitamin A pada anak-anak.

Memang, anak-anak khususnya bayi dan balita merupakan pondasi dari lingkup yang luas, yaitu penduduk. "Padahal, kita punya masalah dengan anak-anak, karena seringkali mereka tidak mau makan sayuran, sehingga rentan terhadap kekurangan vitamin A," keluh Ali. Untuk menangani hal tersebut, orang tua bisa memberikan vitamin A hewani. "Perlu diketahui, konsumsi sayuran memberikan manfaat vitamin A sepertiga dibandingkan konsumsi pangan hewani," jelas Ali.

Saran Ali, jangan ragu-ragu memasak sumber vitamin A. "Vitamin A ataupun betakaroten termasuk vitamin yang relatif tahan panas, tidak seperti vitamin C atau B. Karena itu, sekalipun dimasak, kandungan vitamin A-nya tetap tinggi," himbau Ali.

Vegetarian, Selamatkan Dunia dan Tubuh

MENJADI vegetarian adalah solusi yang paling mudah, murah, serta beradab untuk menyelamatkan bumi dari kerusakan lingkungan, pemanasan global, serta dan demi kesehatan tubuh. Hal tersulit untuk bervegetarian adalah mengenyahkan sugesti bahwa makan daging itu perlu.

Sugesti paling kuat-dan memprihatinkan-yang telanjur menancap di benak masyarakat adalah bahwa t ubuh akan lemas kalau tidak menyantap daging. Ini seakan mengingkari fakta bahwa daginglah penyebab banyak penyakit yang menurunkan kesehatan tubuh.

"Sudah sangat banyak paparan dari organisasi resmi seperti Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), dan paparan dari ahli medis yang intinya menjelaskan bahaya makan daging," ucap Prasasto Satwiko, Koordinator Bidang Teknologi Pusat Studi Energi Universitas Atma Jaya Yogyakarta (UAJY), Selasa (7/10).

Namun lanjut dia, informasi seputar berbahayanya daging ini tak sampai ke masyarakat . Jika manusia bisa jernih berpikir, kalau melihat dampaknya, makan daging sebenarnya tidak perlu. Tetapi, sugesti yang menempatkan daging sebagai santapan penting, sulit diubah.

Tentu saja, kalau orang tiba-tiba bervegetarian, tubuhnya terasa kurang bertenaga, aneh, dan otak seperti kurang bisa berpikir. "Tapi, keadaan ini kan seperti perokok yang merasa aneh kalau mendadak berhenti merokok. Artinya adalah, itu hanya sugesti," kata Prasasto, profesor yang juga Guru Besar Fakultas Teknik UAJY ini.

Dengan kata lain, meski daging tidak dikategorikan sebagai bahan aditif yang berbahaya, namun efek psikologis (membuat ketagihan) sudah nyata terpapar. Sayangnya, kondisi ini seakan dianggap angin lalu.

Informasi seputar vegetarian masih diterima secara sepenggal-sepenggal, belum secara sistem. Vegetarian hanya dianggap gaya hidup demi kesehatan atau ajaran agama tertentu. Padahal lebih dari itu, pemanasan global, kerusakan lingkungan, hingga kepunahan hewan, banyak berpangkal dari daging, termasuk ikan. Terkait pemanasan global misalnya, tercermin dari borosnya energi untuk menghasilkan sepotong daging.

Mitos bahwa bervegetarian membuat orang bodoh, juga tidak benar. Banyak orang penting yang mengubah dunia dan mereka vegetarian, misalnya Albert Einstein, Socrates, Plato, Leonardo da Vinci, Charles Darwin, hingga RA Kartini, kata Prasasto.

Indra (27), karyawan swasta di Yogyakarta berpendapat, memang sulit untuk bervegetarian. Sangat sulit mengenyahkan daging dari menu di piring. Sulit juga mencari warung makan yang hanya menyediakan sayuran. "Budayanya sudah budaya makan daging", ujarnya.

Bervegetarian masih dilihat Indra sebatas demi menjaga kesehatan. Saya tidak tahu hubungan vegetarian dengan pemanasan global. "Namun saya meyakini bahwa bergetarian itu baik dari segi apa pun," ucapnya.