Wednesday, July 23, 2008

Stop Rokok dengan Terapi SEFT

DALAM 5 x 25 menit, kecanduan merokok bisa hilang dengan melakukan terapi SEFT (Spiritual, Emotional, Freedom, Technique). Terapi yang dilakukan dengan mengetuk ringan dengan 2 ujung jari atau yang disebut tapping di bagian tubuh tertentu, sehingga bisa kita lakukan sendiri.

Awalnya, pecandu diminta untuk mencium bau rokok yang biasa dihisapnya, ini adalah langkah awal yang disebut dengan the set-up yang bertujuan untuk memastikan agar aliran energi tubuh kita terarahkan dengan tepat. langkah ini dilakukan untuk menetralisir pikiran negatif yang spontan dari mencium bau rokok itu, yang pasti para perokok masih ingin menghisapnya. Setelah itu terapis akan menekan dada kita, tepatnya di sekitar dada atas.

Kemudian, terapis akan akan melakukan tapping di titik-titik tubuh yang merupakan titik aliran energi kita, yang jika diketuk beberapa kali akan berdampak pada ternetralisirnya gangguan emosi atau rasa sakit yang kita rasakan. Titik-titik tersebut adalah bagian atas kepala, titik permulaan alis mata, diatas tulan di samping mata, 2 cm di bawah kelopak mata, tepat di bawah hidung, diantara dagu dan bagian bawah bibir, di ujung tempat bertemunya ulang dada, di bawah ketiak, di perbatasan antara tulang dada dan bagian bawah payudara, dan di bagian dalam tangan yang berbatasan dengan telapak tangan.

Setelah tapping selesai, perokok diminta untuk mencium bau rokok kembali, lalu menghisapnya. Alhasil, mereka mengatakan Pusing, pahit, getir dan tidak mau mengisap lagi.

Seperti yang dilakukan para terapis SEFT dalam acara Stop Rokok Buat Hidupmu di Aula Wisma Menpora, Sabtu (31/5). Mereka melakukan terapi untuk menghentikan kebiasaan dan kecanduan merokok para siswa SMP-SMA yang sudah menjadi perokok.

"Baru tadi pagi saya terakhir merokok, setelah diterapi seperti ini, kok tiba-tiba rokok yang tiap hari saya hisap rasanya aneh, pahit dan getir, baunya juga tidak enak. "Semoga ini bertahan lama, saya niat tidak mau merokok lagi," ujar Yanto (20), yang bera sal dari Bogor salah satu perokok yang mengikuti terapi tersebut.

Dalam kesempatan yang sama, penemu metode SEFT Ahmad Faiz Zainuddin mengungkapkan bahwa SEFT tidak hanya mampu menghilangkan kecanduan merokok, tapi bisa juga menghilangkan stres, phobia, alergi, trauma, dan lain-lain."SEFT sangat universal dan sangat mudah dilakukan," ujar Faiz.

Tuesday, July 22, 2008

Ditotok Sampai Merasa Rokok Pahit

SEKITAR 1.500 siswa SMP dan SMA se-Jabodetabek mengikuti terapi untuk menghentikan kebiasaan dan kecanduan merokok di Aula Wisma Menpora dalam acara Stop Rokok Buat Hidupmu, Sabtu (31/5).

"Saya kepingin benar-benar berhenti merokok. Di samping sering dimarahi guru dan orangtua, saya juga sering batuk-batuk sekarang," ujar Aspay (15), siswa SMP Duren Baru.

Acara ini digelar dengan bimbingan para terapis dari Spiritual Emotional Freedom Technique yang berjumlah 120 orang. Dalam terapi itu, para siswa diminta mencium bau rokok. Lalu ketika ditanya apakah masih mau merokok dan mereka menjawab masih mau, kemudian keningnya ditotok. Penotokan dilanjukan ke bawah mata, dada kiri-kanan.

Setelah itu mereka diminta mencium baru rokok lagi. "Sudah sedikit kepingin," jawab seorang siswa ketika diminta mengatakan perasaannya. Penotokan pun dilakukan dengan gerakan lebih cepat. Kemudian diulang lagi dari awal sampai mereka mengaku pusing setelah mencium rokok. Selanjutnya rokok disulut dan mereka disuruh mengisap. "Pahit...," kata mereka.

Badan Amil Zakat Nasional Sebagai penyelenggara mendapat rekor dari Muri sebagai rekor terapi menghentikan merokok dengan peserta terbanyak. Sertifikat diterima langsung oleh Ketua Baznas Didin Hafidudin. "Saya akan menyampaikan sertifikat ini ke MUI supaya para ulama dan ustadz berhenti merokok," kata Didin.

Monday, July 21, 2008

Disetrum Agar Sehat

keselamatan dan efisiensi dari sesuatu yang sederhana bagi kesehatannya dalam bentuk terapi komplementer dan alternatif. Terapi ini telah berkembang pesat di dunia, termasuk di Indonesia.

Salah satu terapi yang digunakan adalah alat beda potensial listrik pada manusia sebagai mahluk bioelektromagnetik. Terapi ini telah banyak digunakan di Jepang sebagai upaya pencegahan terjadinya gangguan sirkulasi daerah dan membantu mengatasi beberapa masalah kesehatan di antaranya sakit kepala dan insomnia.

Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan Laboratorium Biofisika atau Pengobatan Tradisional (Batra) Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (MIPA) Universitas Airlangga, sebagaimana dipaparkan Guru Besar F-MIPA Universitas Airlangga, Prof. Dr. Ir. Suhariningsih dalam jumpa pers, Senin (26/5), di Jakarta, alat ini secara kualitatif memancarkan ion negatif yang mengakibatkan perubahan komposisi udara di atas permukaan matras.

Melalui uji pancaran infra merah dan pancaran ion negatif dengan menggunakan alat metrologic photometer serta digital capacitance pada sejumlah titik pengamatan berdasarkan konstruksi atau jahitan matras. Ion negatif merupakan energi kehidupan dan punya kemampuan membersihkan darah. Ion ini memiliki banyak manfaat antara lain, menurunkan level serotonin (sejenis hormon saraf yang bersifat depresan dan menimbulkan penyempitan pembuluh darah) dalam darah.

Sejumlah manfaat lain adalah, menetralkan superoksida (zat yang berfungsi untuk membunuh mikroorganisme dalam tubuh), mensterilisasi virus dan bakteri dalam tubuh, mengurangi penyakit pernapasan, melebarkan saluran pernapasan, men jaga peredaran darah normal. Selain itu, ion negatif dapat mengoptimalkan kemampuan sel menyerap dan memanfaatkan oksigen serta mengaktifkan pembaharuan sel dan meningkatkan daya tahan tubuh.

Penelitian itu juga bertujuan mengetahui efek akut dan kronis pengobatan alat terapi beda potensial listrik berfrekuensi tinggi (30.000 hertz) yang menghasilkan ion negatif dan sinar infra merah gelombang jauh melalui teknologi tourmaline dan lonwave yang terkandung di dalamnya, serta teknologi saniter pada kain dan polyuretan wave pada busanya. Penelitian ini berhasil membuktikan terjadi perbaikan kadar glukosa darah, perbaikan aliran darah , serta komposisi darah dan profil lipid darah pada 30 penderita hipertensi dan diabetes mellitus yang jadi objek penelitian.

Ketua Umum Perhimpunan Kedokteran Komplementer-Alternatif Indonesia (PKKAI) berharap makin banyak perusahaan medik atau peralatan kesehatan yang dapat bekerja sama secara berkesinambungan. Hal ini disertai pengawasan terhadap praktik dan perkembangan CAM di Indonesia dapat dilaksanakan sesuai Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 1109 Tahun 2007 tentang praktik pengobatan komplementer dan alternatif dalam pelayanan kesehatan formal.