Sunday, July 06, 2008

Alat Baru Penguji Resistensi Obat TB

SEBUAH alat untuk menguji resistensi obat tuberkulosis (TB) yang baru-baru ini muncul bakal membantu sekali negara-negara berkembang dalam melawan TB. Tes yang melibatkan pengujian DNA di saliva (cairan ludah) pada orang sakit akan menyediakan diagnosis dalam dua hari. Sementara alat sebelumnya mesti butuh waktu dua hingga tiga bulan.

"Ini merupakan revolusi besar dalam pengendalian TB," ujar Direktur Kampanye TB dari WHO, Mario Raviglione kepada pers di Genewa.

Di negara-negara berkembang, kebanyakan pasien TB melakukan uji TB resisten multi obat (multidrug-resistant tuberculosis- MDR-TB) hanya setelah mereka gagal dirawat dengan perawatan standar.

Pasien-pasien ini juga harus menunggu berbulan-bulan untuk mendapatkan hasilnya sebelum mereka dapat menjalankan perawatan intensif. Selama periode ini, mereka tentu saja dapat menyebarkan penyakit ke siapa saja. Sering mereka meninggal sebelum hasilnya diketahui.

Nyaris setengah juta manusia di seluruh dunia menderita beberapa bentuk MDR -TB yang menewaskan sekitar 130.000 orang per tahun. WHO mempekirakan hanya dua persen kasus resisten obat di seluruh dunia terdiagnosa dan terawat dengan baik. Kebanyakan semua ini akibat minimnya layanan kesehatan yang memadai. Alat uji terbaru ini disokong dana sekitar 26,1 juta dolar Amerika oleh Global Health Initiative UNITAID

Terapi Metadon Hanya Mengalihkan Saja

PSIKIATER Prof Dr dr LK Suryani, SpKJ berpendapat, terapi melalui "Rumatan Metadon" tidak signifikan bisa cepat menyembuhkan pecandu narkoba, karena penggunaan obat tersebut juga menimbulkan dampak ketergantuangan berbahaya.

"Itu hanya mengalihkan ketergantungan pada jenis narkotik yang lain saja. Bisa diibaratkan keluar dari mulut singa masuk mulut buaya. Terapi metadon sampai tiga tahun belum tentu sembuh," katanya di sela-sela Seminar Guru "Memahami Perkembangan Mental Anak Didik" di Denpasar, Selasa.

Seperti diketahui terdapat tiga golongan narkotik, yaitu yang alamiah seperti morfin dan kodein. Narkotik semisintetis, contohnya heroin, dan narkotik sintetis seperti fentanyl, petidin dan metadon. Obat-obatan jenis narkotik dalam bidang kedokteran juga berfungsi menghilangkan rasa nyeri yang sifatnya sementara.

Karena metadon juga menimbulkan dampak ketergantungan, bukan menyembuhkan, Guru Besar Fakultas Kedokteran Universitas Udayana itu lebih memilih penyembuhan melalui "terapi memori". "Beberapa pecandu dan korban narkoba yang kami tangani melalui ’terapi memori’ bisa dengan cepat meninggalkan ketergantungan pada narkotik," katanya pada seminar yang diselenggarakan Telkomsel bekerjasama dengan Dinas Pendidikan Propinsi Bali, diikuti sekitar 200 guru SMP dan SMA.

Karena itu ia mengingatkan agar hati-hati dalam penanganan pecandu dan korban narkoba melalui Klinik Rumatan Metadon, yang hanya akan mengalihkan ketergantungan pada jenis narkotik yang lain.

Dengan "terapi memori" yang dikembangkannya, pendiri dan President CASA (Committe Against Sexual Abuse) itu menjelaskan, pecandu narkoba pada tahap awal hanya diajak untuk "membedah" memorinya, dengan mengingat berbagai hal berkaitan dengan masa lalu.

Setelah dianggap cukup, dilanjutkan ke kegiatan yang sifatnya memilah-milah, yakni mengingat dan mengenang masa lalu yang baik-baik atau positif guna membangun kehidupan ke depan. Tahap berikutnya adalah membangun mental, dengan memberikan arahan dan masukan untuk membangun diri dan menumbuhkan kepercayaan diri, melalui pemberian pengetahuan dan berbagai hal yang terkait dengan kehidupan positif dan masa depan.

"Semuanya itu tidak bisa dilakukan begitu saja, tetapi harus disertai dengan meditasi atau pembangunan mental spiritual. Pada akhirnya dengan mental yang kuat akan mampu mengalahkan keinginan mengonsumsi narkoba," tambahnya.

Aspirin Turunkan Risiko Kanker

TERNYATA obat pengencer darah seperti aspirin bisa membantu melawan kanker dengan meniadakan perlindungan terhadap penyimpangan sel tumor. Percobaan terhadap tikus menunjukkan, kombinasi aspirin dengan obat antipenggumpalan darah memperlambat pertumbuhan dan penyebaran melanoma (kanker kulit) dan tumor payudara.

Dijelaskan oleh tim peneliti dari Washington University, sel darah yang disebut platelet melindungi dan memberi makan sel tumor dalam darah, membuat lebih mudah bagi kanker untuk menyebar (metastasis).

Laporan yang ditulis dalam Journal of Cellular Biochemistry menyatakan bahwa menonaktifkan platelet bisa membantu memperlambat atau mencegah penyebaran ini. Penelitian ini mendukung temuan lain yang menunjukkan pengonsumsi aspirin atau obat serupa yang memengaruhi gen dan protein yang disebut COX-2, termasuk aspirin, ibuprofen, dan penghambat COX-2 Celebrex, memiliki risiko lebih rendah terhadap beberapa kanker. Juga ada beberapa rujukan bahwa mengonsumsi aspirin atau ibuprofen bersamaan dengan kemoterapi membuat kemo lebih efektif.

“Penelitian sebelumnya menunjukkan bahwa sel tumor mengaktifkan platelet. Dan tikus dengan platelet kurang baik atau rusak secara signifikan bermetastasis lebih sedikit,” kata Dr. Katherine Weilbaecher, pemimpin penelitian, kepada Reuters. “Platelet memiliki sejumlah sifat yang bisa membantu sel tumor. Kami berupaya memisahkan hubungan yang berpotensi mematikan itu,” tambahnya.

Peneliti menggunakan aspirin biasa yang dikombinasi dengan obat antiplatelet percobaan yang disebut APT102. Saat mereka menginjeksi tikus dengan sel kanker payudara dan melanoma, secara cepat tumor menyebar ke tulang. Namun, pada tikus yang mendapat aspirin dan APT102, tumor yang tumbuh dan menyebar menjadi lebih kecil. “Apakah obat memiliki efek sendiri-sendiri atau mungkin karena platelet membuat proses tertentu, memang harus dilihat dari banyak sudut pandang,” ujar Weilbaecher.

Yang jelas, aspirin mencegah platelet membentuk thromboxane, substansi yang memfasilitasi pembekuan darah. “APT102 merupakan obat yang menarik karena bisa mengenyahkan komponen yang disebut ADP. Sel tumor melepaskan dan menstimulasi platelet untuk menggumpal, sehingga APT102 mencegah aktivasi platelet dalam merespon sel tumor,” ungkapnya lagi.

“Obat antiplatelet seperti aspirin ditambah APT102 bisa menjadi alat percobaan bernilai untuk meneliti peran dari aktivasi platelet dalam metastasis seperti halnya pilihan pengobatan untuk mencegah metastasis di tulang,” tulis peneliti.

Weilbaecher dan kolega menguji teorinya pada perempuan dengan kanker payudara guna mengetes aspirin dan obat antipembekuan Plavix, antiplatelet lain untuk melihat apakah kombinasi itu menurunkan jumlah sel tumor dalam darah.