Friday, May 09, 2008

Stres, Atasi dengan Bersyukur

Ny Ismiati (35) membunuh kedua anaknya masing-masing Fuadi Rasyid (4 bulan) dan Mutiara Yusuf (2 tahun) di rumahnya di RT 04/04, nomor 22 Kalibaru, Medan Satria, Bekasi, Nomor 22.

Kasat Reskrim Polres Metro Bekasi, Kompol Budi Sartono di Bekasi, Jumat menjelaskan, kedua mayat dua bayi di bawah lima tahun (Balita) itu ditemukan tergeletak di lantai rumah tersebut dalam keadaan tidak bernyawa oleh tetangga korban.

Saat ditemukan sekitar pkl. 07.00 WIB, tangan kedua Balita itu terikat karet, tubuhnya basah kuyub dan ditutupi kain basah. Diduga korban dibunuh dengan cara menceburkan ke bak mandi oleh ibu kandungnya.

Sang ibu yang sedang berada dalam penahanan Polres Metro Bekasi ini sulit diajak bicara. Kalaupun bisa, pembicaraannya tidak jelas dan mengacau. Menurut psikolog klinis dari Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta, Heri Widodo, M.Psi, pasti ada beban hidup yang menimpa si ibu sampai dia bisa melakukan hal ini. Dan memang, bisa dikatakan bahwa sang ibu ini sedang stres.

Pada dasarnya, kata Heri, manifestasi stres bisa beragam. Tergantung karakter kepribadian. "Ada yang melakukan tindakan membahayakan seperti bunuh diri atau melukai orang lain, membunuh orang lain termasuk keluarganya seperti kasus ini,"

Stres bisa jadi membuat orang menjadi psikotik atau sering kita sebut gila, menyebabkan halusinasi, berkepribadian ganda. Keluarga, dalam hal ini paling rawan menjadi penyebab terjadinya stres. Sehingga bisa jadi si anak justru yang menjadi stresor (penyebab stres). "Tapi sebaliknya, justru keluarga jugalah yang mampu membantu pulihnya stres," jelas Heri.

Karena itu, tidak mudah membuat si ibu bicara dan menceritakan apa yang terjadi, tegas Heri. Butuh orang yang bisa dipercaya olehnya, mau menerima dia apa adanya. Biasanya dari kalangan keluargalah yang bisa melakukan pendekatan ini. Sulit diketahui butuh berapa lama kondisi ini bisa pulih.

Agar tidak stres banyak hal bisa dilakukan. Pada dasarnya menerima hidup apa adanya merupakan salah satu langkah yang bisa dilakukan agar kita tidak stres. Banyaknya keinginan, sementara kemampuan terbatas bisa membuat orang tertekan dan depresi. Jadi, kita perlu mensyukuri apa pun yang kita alami dan terima setiap hari.

Heri menjelaskan, stres pada dasarnya bisa dikelola. Tergantung dari kemampuan pribadi masing-masing. Kedewasaan pribadi dalam hal ini menentukan apakah seseorang mampu atau tidak menghadapi stresor.

Mengatasi Depresi Pada Anak-Anak

Anak Anda yang berusia 3 tahun ternyata tidak seriang biasanya, ia tidak ‘ceriwis’ saat pagi tiba, bukan tidak mungkin ia juga menolak untuk makan.

Daripada bercanda bersama saudara-saudaranya, atau menggambar di bukunya, ia cenderung berada di tepi jendela sambil menatap kosong ke luar, mungkinkah seorang balita mengalami depresi?

Seperti kebanyakan orang lainnya, Anda mungkin berasumsi kalau anak pra sekolah terlalu kecil untuk merasa sedih. Tapi ada penelitian terbaru yang menyatakan bahwa depresi klinis itu ternyata tidak mengenal usia. Depresi – bahkan keinginan untuk bunuh diri – sama berpengaruhnya pada balita dan remaja seperti pada orang dewasa.

Para peneliti di Washington University School of Medicine, mengemukakan bahwa anak-anak mengalami symptom depresi yang sama seperti yang sering ditemukan pada orang dewasa, bahkan sama tingkat keparahannya. Menurut the National Mental Health Association, satu dari tiga anak di Amerika menderita depresi. Namun, walaupun sudah berbicara mengenai statistik, depresi tetap merupakan penyakit yang tak terdeteksi dan tak terawat antara anak-anak dan remaja.

Tidak seperti bintik-bintik merah pada penyakit campak, atau hidung yang memerah pada penyakit flu, simptom depresi tidaklah terlalu kongkrit, dan sebagai konsekuensinya, seringkali hal ini tidak terdeteksi oleh orang tua.

Apa sih tanda-tanda depresi kanak-kanak? Apa saja perilaku yang perlu diawasi oleh orang tua? Biasanya anak-anak yang menderita depresi secara persisten selalu terganggu, menarik diri, dan lethargic, kata Dr Elizabeth Rody, direktur medis serta psikiater anak dan remaja untuk Magellan Behavioral Health di New Jersey.

Anak yang depresi juga kehilangan minat untuk melakukan kegiatan yang sebelumnya sangat mereka sukai, sementara simptom lainnya meliputi :

· Tangis terus menerus dan kesedihan persisten

· Kurangnya antusiasme atau motivasi

· Meningkatnya kemarahan

· Kelelahan kronis atau kekurangan energi

· Menarik diri dari keluarga, teman dan aktivitas yang tadinya disukai

· Perubahan kebiasaan makan dan tidur (adanya kenaikan atau penurunan berat tubuh yang terlihat jelas, suka sekali tidur, sulit tidur)

· Keluhan yang sangat sering mengenai masalah fisik, seperti sakit perut atau pusing

· Kurangnya konsentrasi dan suka lupa

· Perasaan tidak berharga atau perasaan bersalah yang berlebihan

· Sensitifitas berlebihan sampai penolakan atau kegagalan

· Perkembangan mayor yang tertunda (pada balita – tidak berjalan, berbicara atau mengekspresikan diri )

· Bermain yang melibatkan kekerasan, baik terhadap diri sendiri maupun orang lain, atau dengan tema yang sedih.

· Seringnya muncul pembicaraan mengenai kematian atau bunuh diri.

Tidaklah biasa bagi anak-anak untuk tetap merasa bersedih dari waktu ke waktu. Dengan mengetahui ini, bagaimana orang tua dapat membedakan fluktuasi mood normal dari depresi yang serius? Jawabannya adalah pada durasi dari perilaku depresif tersebut.

Menurut Mental Health: A Report of the Surgeon General, anak-anak depresi mengalami episode depresi yang biasanya bertahan dari tujuh sampai sembilan bulan, meskipun beberapa ahli perkembangan anak yang mengatakan bahwa perilaku depresif yang bertahan lebih dari dua minggu memerlukan pemeriksaan lebih lanjut.

Tapi bagaimana pun juga, paling baik adalah untuk membiarkan profesional di bagian kesehatan mental untuk memutuskannya.

Depresi bukanlah satu-satunya alasan adanya perilaku ‘nakal’ anak. Masalah fisiologis, seperti malnutrisi, mononucleosis, alergi dan penyakit lainnya dapat menimbulkan mood yang marah-marah, keletihan dan penarikan diri. Ini mengapa Rody menekankan bahwa orang tua harus membawa anak mereka kepada dokter keluarga terlebih dulu, sebelum membuat janji dengan seorang profesional kesehatan mental.

Bila ternyata anak Anda bukan mengalami masalah kesehatan umum, maka langkah selanjutnya adalah untuk membuat janji dengan psikiater atau psikolog anak dan remaja untuk evaluasi. Sebagai tambahan dari serangkaian tes psikologis dan kerja darah, orang tua juga harus siap untuk me-review seluruh sejarah kesehatan anak.

Meskipun penyebab pasti dari depresi kanak-kanak tidak juga diketahui, penelitian depresi pada orang dewasa menyatakan bahwa tergantung pada predisposisi genetis dan pengaruh lingkungan. "Sebagian dari lingkungan dan genetik," kata Rody. "Bila dibandingkan antara depresi dengan penyakit jantung. Anda dapat memiliki sejarah sakit jantung di keluarga dan pada waktu yang sama Anda tidak menjaga pola hidup Anda. Keduanya mungkin menyebabkan Anda terkena serangan jantung. Depresi juga seperti itu, disebabkan oleh kombinasi kompleks dari berbagai faktor."

Anak-anak yang orang tua atau/dan saudaranya menderita depresi lebih mungkin mengembangkan simptom penyakit ini. Tidak mampu belajar (Learning disabilities), seperti tidak mampu berkonsentrasi/hiperaktif, Attention Deficit Hyperactivity Disorder (ADHD) dan disleksia juga berkontribusi pada timbulnya depresi kanak-kanak. Faktor lingkungan yang membuat anak-anak berisiko menderita gangguan depresi meliputi pelecehan fisik, seksual, dan verbal, anak yang terlantar dan adanya sejarah pemakaian obat-obatan dalam keluarga.

Perceraian serta kehilangan orang yang dicintai juga dapat menimbulkan emosi yang labil pada anak-anak, tapi tidak selalu merupakan penyebab depresi.

Meskipun anak Anda baru balita, emosinya sangatlah nyata. Para ahli percaya bahwa makin banyak orang tua memberi perhatian pada perasaan anaknya, maka makin baiklah kemampuannya untuk mencari bantuan pada depresi. "Jika anak Anda mengatakan, ‘saya sangat sedih dan ingin lompat dari jendela’, sebaiknya Anda memandang perkataan ini secara serius, " kata Rody memperingatkan.

Tanyakan pada anak Anda hal-hal di bawah ini untuk mengetahui penyebab kesedihan anak Anda :

· Apa yang terjadi hari ini sehingga kamu sangat sedih?

· Apa yang membuat kamu bahagia?

· Apa sih yang kamu cari?

· Apa yang kamu inginkan terjadi padamu?

· Jika kamu dapat mengubah dirimu, apa yang ingin kamu ubah?

Perawatan bagi anak dan remaja yang menderita depresi termasuk kombinasi dari psikoterapi individu dan konseling keluarga. Supaya optimal, menurut Rody, terapi haruslah melibatkan orang tua, saudara dan orang yang penting dalam kehidupan sang anak, seperti guru dan kakek-nenek.

Perawatan lainnya meliputi terapi bermain, evaluasi berkelanjutan dan pada beberapa kasus, menggunakan obat. Obat antidepresi seringkali digunakan untuk merawat kasus depresi menengah. Yang penting juga, belumlah diijinkan untuk memberikan obat antidepresi pada anak di bawah usia 8 tahun

Thursday, May 08, 2008

Cinta Hindarkan Anda dari Godaan

KETIKA Anda harus menolak godaan dan berupaya untuk tetap setia kepada sang kekasih, Anda mungkin harus langsung teringat sebuah lagu The Beatles berjudul "All You Need Is Love". Dengan perasaan cinta, godaan untuk berpaling dari pasangan mungkin saja bisa dihindari atau diredam.

Sebuah penelitian yang dipublikasikan jurnal Evolution and Biology belum lama ini pun menguatkan indikasi bahwa cinta dapat menyelamatkan Anda. Menurut penelitian tersebut, orang yang menumpahkan cinta kepada pasangannya relatif tidak akan tertarik kepada orang lain.

Secara naluriah, manusia sebenarnya tidak pernah mengekang dirinya untuk mendapatkan kepuasan atau kesenangan. Banyak penelitian sebelumnya menunjukkan bahwa manusia cenderung memanjakan dirinya untuk memperoleh kesenangan ketika kesempatan itu datang.

Namun demikian, bila konteksnya dihubungkan dengan cinta dan gairah dalam hal seksual, karakter manusia ini bisa berubah atau berbeda-beda. Banyak yang berhasil meredam godaan tersebut, namun tak sedikit pula yang akhirnya menyerah dan setuju pada ungkapan 'ambilah ketika kesempatan itu datang'. Alhasil, mereka yang mampu meredam gejolaklah akhirnya yang kemudian memiliki hubungan yang awet dan langgeng. Mereka mampu melewati ujian dan melupakan godaan memperoleh kesenangan sesaat.

Menurut peneliti, kemampuan sepasang manusia melewati godaan-godaan ini sebenarnya ditopang sebuah kekuatan bernama cinta. Psikolog ternama, Gian Gonzaga, melalui riset terbarunya telah membuktikan bahwa perasaan cinta akan membuat seseorang tahan terhadap godaan.

Untuk membuktikan teorinya, Gonzaga melibatkan 60 mahasiswa dari University of California di Los Angeles. Mereka adalah pria wanita heteroseks yang telah memiliki pacar sekurangnya tiga tahun. Partisipan diminta untuk melihat-lihat foto dan memilih salah satu yang benar-benar menarik hati. Foto-foto itu diperoleh dari sebuah situs kencan terpopuler.

Partisipan ini kemudian diminta untuk menuliskan sebuah tulisan pendek mengenai apa yang membuat mereka tertarik pada seseorang yang dipilih tersebut. Gonzaga dan timnya lalu membagi para partisipan ke dalam tiga kelompok.

Kelompok pertama lalu diminta menuliskan lagi essay tentang momen paling indah saat merasakan cinta mendalam dengan pacar asli yang mereka miliki. Kelompok kedua diminta untuk mengingat dan menuliskan kembali momen terindah saat melakukan hubungan seks. Sedangkan kelompok ketiga diberi kebebasan untuk menuliskan apa yang berada dalam benak mereka.

Selama menulis esay, para partisipan tetap diawasi dan dinstruksikan untuk tidak memikirkan ketampanan atau kecantikan sosok wajah yang mereka lihat di foto. Namun setiap kali benak mereka dibayangi wajah foto ketika menulis, para partisipan harus mencentang sebuah kotak dalam formulir essay.

Hasil penelitian menunjukkan, kelompok pertama yang fokus pada perasaan cinta ketimbang gairah tercatat tiga kali lebih sedikit mengalami bayang-bayang godaan ketimbang kelompok yang diminta menggambarkan hubungan seks paling berkesan dengan kekasih mereka.

Sementara itu, partisipan yang diberi kebebasan menuliskan pikirannya, tidak mampu menghindari bayang-bayang ketampanan dan kecantikan sosok wajah dalam foto. Kelompok ini juga enam kali lebih banyak mencentang kotak dalam kertas form di banding kelompok cinta.

Menurut, Gonza, kelompok pertama yang fokus pada perasaan cinta menjadi tahan akan 'godaan' karena sosok orang lain menjadi tidak lagi menarik buat mereka.

"Merasakan cinta kepada pasangan romantis Anda tampaknya akan membuat setiap orang menjadi kurang menarik di mata Anda," terang Gonzaga yang juga mempublikasikan penelitiannya dalam New Scientist.