Thursday, December 27, 2007

Testosteron Membuat Pria Lebih Suka Lelucon

Tahukah Anda mengapa para pria lebih senang berkelakar atau menyukai lelucon ketimbang wanita? Jawabannya mungkin terletak pada hormon testosteron. Hormon khas pria inilah yang menurut para ahli membuat kaum Adam lebih menyenangi humor.

Menurut penjelasan Profesor Sam Shuster, dari Norfolk and Norwich University Hospital, kepada BBC, Jumat (21/12), kaum pria memang secara alami lebih suka berkelakar ketimbang wanita. Bahkan terkadang lelucon ini cenderung lebih agresif.

Sebelum sampai pada kesimpulannya, Shuster meneliti bagaimana jenis kelamin (gender) bereaksi terhadap hobi yang menghibur. Dari perilakunya, para wanita cenderung lebih senang membesarkan hati atau berkomentar dengan pujian.

Sedangkan pria justru berperilaku berbeda. Mereka lebih senang mencemooh dan pria muda bahkan tercatat lebih agresif, ungkap Shuster yang mempublikasikan risetnya dalam British Medical Journal.

Riset sebelumnya pernah mengungkapkan bahwa wanita dan pria memiliki perbedaan dari cara mereka mengapresiasi humor. Wanita cenderung jarang berkelakar ketimbang pria. Selain itu fakta membuktikan komedian pria juga lebih banyak ketimbang wanita.

Lebih agresif
Professor Shuster dalam risetnya mengungkapkan bahwa pria cenderung lebih suka menggunakan humornya secara agresif dengan membuat rekannya menjadi obyek lelucon. Dan agresi ini - yang secara umum dipertimbangkan sebagai karakter yang lebih maskulin -berhubungan dengan hormon testosteron saat dalam kandungan.

Shuster percaya bahwa humor yang tercipta dari agresi ini disebabkan oleh kehadiran hormon khas pria. Selama risetnya, ia mendokumentasikan reaksi lebih dari 400 individu terhadap lelucon yang disuguhkan komedian unicycling (sepeda roda satu) jalanan di Newcastle .

Hampir setengahnya dari individu tersebut merespon secara verbal dan kebanyakan dari mereka adalah pria . Hanya sedikit dari wanita yang mencela atau membuat lelucon, sedangkan 75 persen pria mencoba berkelakar - dengan misalnya berteriak "Mau copot roda Anda!"

Mengejek dan mencemooh
Seringkali para pria juga membuat komentar bernada ejekan. Pria muda yang kebetulan lewat memakai mobil bahkan lebih agresif. Mereka membuka jendela mobil dan berteriak dengan kasar

Namun begitu jenis perilaku ini pada pria lebih tua cenderung menurun. Mereka lebih suka mengeluarkan komentar yang lebih menghargai, seperti halnya kebanyakan wanita.

"Ide bahwa secara intrinsik unicycling itu lucu tidak dapat menjelaskan temuan ini. Penjelasan yang paling sederhana adalah itu merupakan pengaruh hormon pria testosteron," terang Professor Shuster.

Sementara itu, psikolog dari University of Northumbria, Dr Nick Neave, melakukan riset mengenai pengaruh fisik, perilaku dan psikologis dari testosteron. Ia berpendapat, pria memberi respon lebih agresif karena mereka melihat pesepeda unicycling sebagai pria lain yang mendatangkan ancaman, yakni dapat mengalihkan perhatian wanita dari mereka sendiri.

Tujuh Mitos Kesehatan yang Menyesatkan

Banyak di antara kita yang masih memegang teguh kebiasaan atau pun anggapan yang berkembang di masyarakat termasuk yang berkaitan dengan masalah kesehatan. Sebut saja nasehat meminum delapan gelas air putih setiap hari, atau pun larangan membaca di tempat remang-remang karena dapat merusak mata.

Ada pula yang percaya bahwa manusia hanya menggunakan 10 persen dari kemampuan otaknya, atau pun anggapan bahwa mencukur bulu akan menyebabkan rambut tumbuh lagi dengan cepat dan lebih tebal.

Namun demikian, anggapan tersebut menurut para ahli justru tak ada nilai kebenarannya. Hal tersebut terungkap lewat hasil riset para ahli dari Amerika Serikat yang dipublikasikan dalam British Medical Journal.

Para peneliti berhasil mengungkap setidaknya tujuh mitos yang berhubungan dengan kesehatan. Beberapa di antaranya menyesatkan dan beberapa lainnya tidak ada bukti yang kuat. Dalam risetnya, para ahli dari Indiana University School of Medicine di Indianapolis mengumpulkan literatur medis untuk membuktikan setiap anggapan atau mitos.

Hasilnya, mereka tak menemukan bukti kuat yang mendukung manfaat dari mitos meminum delapan gelas air setiap hari. Faktanya, hasil penelitian membuktikan bahwa asupan cairan yang cukup ke dalam tubuh seharusnya terpenuhi dengan meminum jus, susu , dan bahkan minuman berkafein seperti teh atau kopi. Data juga mengindikasikan bahwa meminum air secara berlebihan justru dapat membahayakan tubuh.

Anggapan bahwa manusia hanya menggunakan 10 persen otaknya juga tidak benar adanya. Riset terhadap pasien penderita kerusakan otak menunjukkan kerusakan pada hampir setiap bagian otak memiliki dampak yang spesifik dan lama terhadap mental, vegetatif dan kemampuan berprilaku. Riset tentang pencitraan otak pun menunjukkan tidak ada satu pun daerah dalam otak yang benar-benar "diam" atau pasif.

Sementara itu, mitos bahwa rambut atau kuku akan terus tumbuh setelah kematian mungkin hanya sebuah ilusi optik yang disebabkan oleh pengencangan kembali kulit setelah mati. Pertumbuhan rambut dan kulit yang sebenarnya membutuhkan peran dan pengaruh hormonal yang tentunya tidak akan berfungsi setelah kematian.

Seperti yang diungkapkan penulis riset, Rachel Vreeman, ilusi kembali menjadi penyebab berkembangnya mitos mencukur bulu menyebabkan rambut tumbuh lebih cepat, lebih hitam dan kasar. Kenyataannya bulu yang baru dicukur tampak tumbuh kembali tanpa adanya ujung rambut yang biasanya tampak pada bagian yang tak dicukur. Alhasil, rambut tampak lebih kasar dan lebih tebal.

Mitos lainnya yakni membaca di tempat yang kurang terang pun menurut penelitian tidak terbukti akan merusak mata. Sementara itu, hanya sedikit saja bukti yang mendukung terhadap pelarangan telepon selular di rumah sakit. Bukti itu berkaitan dengan kemungkinan pengaruh gelombang elektromagnetik.

Satu mitos terakhir tentang konsumsi kalkun dapat menimbulkan kantuk karena kandungan asam amino tryptophan juga tidak benar adanya. Kenyataannya, baik kalkun, ayam atau pun daging sapi mengandung tryptophan yang sama.

"Setiap konsumsi makanan dalam jumlah yang banyak dapat menimbulkan kantuk karena aliran darah dan oksigen ke otak menurun. Sementara itu makanan yang kaya protein atau karbohidrat dapat menyebabkan kantuk. Anggur juga bisa berperan," ungkap peneliti.

Tehnik Melahirkan tanpa Rasa Sakit bagi Ibu Hamil

BEBAS NYERI SAAT PERSALINAN

(Jika tidak mau merasakan sakit saat akan melahirkan)

Persalinan adalah event penting yang sangat ditunggu oleh setiap pasangan suami-istri. Persalinan merupakan saat yang akan sangat membahagiakan setiap keluarga. Sayang sekali proses menanti kelahiran ini akan dilalui seorang ibu dengan jam-jam penuh rasa nyeri. Sebagian besar ibu-ibu yang melahirkan, merasakan nyeri saat persalinan itu dengan intensitasnya sangat berat sehingga ibu-ibu tersebut menjadi sangat menderita.

Nyeri saat persalinan selalu timbul akibat dari kotraksi otot rahim, yakni peregangan segmen bawah rahim dan leher rahim, membukanya mulut rahim serta peregangan otot-otot serta jaringan dasar panggul yang membentuk jalan lahir. Nyeri ini, akan dirasakan sangat berat terutama oleh ibu-ibu yang baru pertama kali mengalami proses persalinan (nullipara).

Walaupun nyeri ini sebetulnya bermanfaat sebagai alarm dan dapat menjadi signal buat ibu tersebut untuk mengeden (mengajan). Tetapi bila dorongan mengeden ini muncul sebelum waktunya, dapat menimbulkan efek samping berupa pembengkakan mulut rahim yang menyebabkan proses persalinan normal menjadi terganggu, bahkan mungkin saja terjadi akhirnya persalinan harus dilaksanakan lewat tindakan operasi. Yang jelas nyeri saat persalinan, pada sebagian besar ibu-ibu, merupakan suatu penderitaan, yang tidak jarang akan dirasakan untuk waktu yang cukup lama. Selain itu nyeri juga akan menimbulkan perubahan-perubahan fisiologik seperti naiknya tekanan darah, naiknya laju denyut jantung, menyempitnya (vasokonstriksi) pembuluh darah (arterial) dengan akibat terganggunya aliran darah ke organ-organ tubuh,meningkatnya aktifitas pernafasan, kehilangan banyak air, dan kelelahan yang sangat. Juga dapat terjadi perubahan-perubahan biokimia dan metabolisme tubuh. Karena derita nyeri ini, tidak jarang sebagian ibu-ibu akhirnya memilih jalan pintas mengakhiri proses persalinan lewat tindakan pembedahan (Seksio Caesaria/ SC). Bila masalahnya hanya karena nyeri dan persalinan secara natural (lewat jalan lahir normal ) dinilai tidak ada masalah, maka nyeri yang terjadi pada proses persalinan itu dapat dihilangkan, sehingga ibu-ibu ini dengan tenang dapat melahirkan secara normal tanpa diganggu oleh rasa nyeri.

Bebas Nyeri Saat Persalinan

Ada bebera cara/pendekatan yang dapat dikerjakan untuk menghilangkan rasa nyeri yang timbul saat proses persalinan, sehingga proses persalinan yang sangat membahagiakan ini tidak perlu terganggu oleh rasa nyeri sama sekali. (Mau tahu ?).

1. Tehnik Epidural (ELA)

Salah satu cara yang sangat efektif adalah dengan teknik bebas nyeri secara epidural. Dengan menggunakan larutan obat anestetik lokal atau opioid dengan konsentrasi tertentu yang dimasukkan lewat kateter halus di tulang belakang , ibu tersebut (Insya Allah) akan tidak mengalami rasa nyeri lagi dan juga tidak akan mengalami perubahan hemodinamik dan gangguan fungsi motorik. Kemajuan ilmu dan teknologi kedokteran memungkinkan cara ini dapat dikerjakan tanpa dirasakan nyeri oleh ibu yang sedang dalam proses persalinan, dan cara ini dapat dikerjakan sejak awal karena tidak akan mengganggu perjalanan persalinan kala I. Selama program bebas nyeri dengan cara ini, ibu-ibu tersebut tidak akan mengalami gangguan fungsi motorik, artinya tenaga gerak tungkai dan kekuatan mengeden tidak akan terganggu.

Penelitian sudah membuktikan bahwa tindakan bebas nyeri saat persalinan secara epidural tidak mempunyai efek yang mengakibatkan persalinan akhirnya harus dilaksanakan secara operasi Seksio Caesaria. Sama sekali tidak seperti itu. Kalaupun akhirnya persalinan harus dilakukan dengan tindakan operasi Seksio Caesaria, mungkin sekali disebabkan oleh suatu masalah, yaitu memang sejak awal ada suatu kelainan yang tidak memungkinkan terjadinya persalinan secara normal yang mengakibatkan timbulnya rasa nyeri secara berlebihan (distosia).

2. Tehnik Spinal (ILA, Intra Techal Labour Analgesia)

Tehnik ini prinsipnya sama, hanya penangan nyerinya hanya terbatas hingga bayi lahir. Karena tidak ada insersi kateter (selang) ke tulang belakang sehingga obat hanya diberikan one shot dengan durasi 2-4 jam saja.